Wellcome Brothers and Sisters!

From the fullness of HIS GRACE we have all receive one blessing after another. (John 1:16)


The LORD is my shepherd, I shall not be in want. (Psalm 23:1)

Tampilkan postingan dengan label Cerbung 90/10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung 90/10. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Oktober 2010

BUKAN CINTA SATU MALAM


Atmosfir malam hari sering kali jadi mantra sihir buat Kyra Melody. Ditambah panorama pantai dan alunan musik slow jazz, maka lengkaplah sudah. Semuanya dapat dengan segera membiusnya masuk ke dalam dunia lamunan yang tak terjangkau dan tak terpahami oleh sekitarnya, seperti malam itu di pantai Jimbaran. Namun, buaian romantisme ternyata tak mencapai area parkir di mana Moolight Sonata mengistirahatkan motor kesayangannya. Di sanalah kesadaran Kyra merambat perlahan ke alam nyata.

”Aaaaaaaaargh! Lepaskan tangan Lo, Mon, atau gua tendang kaki Lo sekarang!”

”Eiiit, apaan sih? Cepet banget berubahnya? Tadi Elo yang duluan gandeng tangan gua, Tomboy!”

Moonlight Sonata melepaskan genggaman tangannya, lalu menarik ujung poni Kyra yang panjang menjuntai sampai menutupi dahi. Dalam hitungan detik setelah itu, ia berlari meninggalkan Kyra yang masih terbengong-bengong. Gadis tomboy itu rupanya masih belum sepenuhnya sadar hingga lambat meresponi ulah iseng Moonlight Sonata. Matanya menyorot tajam dan dahinya pun mengeryit tegas. Ia berusaha keras mencerna apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua.

Tiba-tiba, Moonlight Sonata muncul dengan motor tunggangannya. Kyra segera duduk diboncengannya. Lalu, mereka pun meluncur menuju ke tempat kost Kyra yang ada di Denpasar Selatan. Di sepanjang perjalanan, kesenyapan merasuk dan menguasai. Mereka sibuk dengan alam pikiran masing-masing yang baru diguncang sensasi bertautnya dua hati. Nampaknya, Kyra masih berjuang menamai apa yang dirasakannya. Sementara Moonlight Sonata justru sedang memutar kembali memori keindahan semalam di Jimbaran.

Mencapai tempat tujuan, Kyra masih belum berhasil menyimpulkan apa-apa. Namun, setidaknya ia berhasil mendekteksi satu hal, bahwa ada perasaan nyaman berboncengan motor dengan Moonlight Sonata. Beberapa kali, kedua tangannya terdorong untuk memeluk punggung pria yang ada di hadapannya itu. Namun, ia segera mengurungkan niatnya karena merasa canggung dan malu.

”Ah, apa ini? Baru saja gua melepas sebuah rasa yang mendekam 17 tahun lamanya. Masakan kini harus berurusan dengan yang baru?” demikian hati Kyra bergemuruh karena penuh dengan pertanyaan. Berkali-kali ia menggelengkan kepala sebagai manifestasi dari hatinya yang berteriak, ”Arrrrrrgh, gua belum siap! Belum siap mengecap manisnya, pahitnya! Gua belum siaaaaaap!”

Begitu asiknya melamun, Kyra tak menyadari Moonlight Sonata telah ada di dekatnya. Wajahnya begitu dekat di samping telinga Kyra hingga suara baritonnya pun terdengar jelas mengingatkan, ”Ra, kita udah nyampai nih. Buka aja gerbangnya dan cari Kamar C!”

Suara Moonlight Sonata yang tiba-tiba itu mengagetkan jantung, namun sekaligus menghangatkan hati Kyra. Namun, bukan Kyra namanya jika tidak kreatif mengalihkan perhatian. Walau agak gelagapan, ia segera pura-pura melihat kamar yang dimaksud.

”Wah, itu kamarnya. Ada kamar mandinya di dalem ga? Kasurnya gimana? Apa barang-barang kiriman gua udah ada? Barang-barang gua baik-baik aja kan?” cerocos Kyra tanpa henti seraya turun dari motor.

”Ya, semua sudah di dalam dan disiapkan oleh pihak sekolah. Tenang, Lo ga akan hidup di sini setahun lamanya hanya dengan satu ransel biru butut itu,” sahut Moonlight Sonata sambil tersenyum melihat ulah sobatnya yang terlalu berlebihan itu.

”Enak aja, ransel ini punya nilai sejarah tahu!”

”Ya udah, sono masuk!”

”Elo ga mau liat-liat ke dalam? Gua buka gerbangnya dulu ya, biar motor primitip ini bisa masuk.”

”Eh, yang dibilang primitip ini udah jemput elo di bandara dan nganter makan di Jimbaran. Sana minta maaf sama si Kiky!”

“Apa? Kiky? Elo kasih nama motor ini Kiky? Alay sungguh, Cuy! Hahahaha!

”Puas yah ngetawain gua? Gua ngambek baru tahu rasa Lo. Kalo ngambek, gua biasanya suka laper tahu!”

“Kalo gitu maafkan gua. Please, jangan ngambek. Gua ga mau jadi bangkrut karena harus traktir elo dua kali malam ini. Hahahaha!” Di depan pintu kamar kostnya, Kyra sedang terpingkal-pingkal menertawakan Moonlight Sonata. Namun, tiba-tiba ia terhenyak diam ketika melihat roman muka serius dari sosok pria yang ada di hadapannya itu. Saat itu juga, keduanya kembali saling bertatapan.

”Ra, gua mau bicara serius. Jangan ketawa lagi yah. Gua harus jujur kalo hari ini ngerasain sesuatu. Bukan sesuatu yang baru sih. Sejak kita ketemu lagi lewat facebook dua tahun yang lalu, gua ngerasa ada sesuatu di sini,” kata Moonlight Sonata sambil menunjuk dadanya sendiri. ”Gua tahu Elo pernah punya perasaan yang begitu dalam pada Kak Laut Biru. Tapi, gua siap kok buat menunggu sampai Elo bener-bener bisa ngelupain dia.”

Pengakuan Moonlight Sonata seketika mengguncang hati Kyra. Ia tak menyiapkan diri untuk semuanya itu. Tak heran, ia diam seribu bahasa. Kepalanya tertunduk. Matanya tak sanggup lagi menatap mata pria yang tengah menantinya berespons.

”Sudahlah, gua tahu ini terlalu cepat dan tiba-tiba. Elo kan baru saja sampai di Bali. Ok, besok gua telpon Elo ya? Nitez, Ra. Selamat bobo!”

Lagi-lagi tanpa suara dan tanpa kata, hanya tertunduk, Kyra melangkah ke arah pintu kamarnya. Tangannya gemetaran ketika membuka pintu. Setelah pintu terbuka, ia tersenyum sejenak, mengucapkan terima kasih dan juga selamat malam kepada Moonlight Sonata. Detik itu, terjadi sesuatu yang paradoks. Suasana menjadi kaku, namun hati berbunga-bunga. Hening di luar, bergelora di dalam. Agar sihir khas romansa itu tak terlalu memabukkan, Kyra pun segera menutup pintu.

Deburan gelombang hatinya ternyata tetap tak kunjung sirna walau matanya tak melihat bayangan pria yang telah memberinya shock terapi itu. Dengan keyakinan bahwa Moonlight Sonata telah meninggalkan tempat kostnya, ia memberanikan diri untuk menumpahkan segala rasa. Di sandarkan punggungnya di daun pintu dan diucapkannya pelahan apa yang ada di dalam hatinya.

”Mon, gua berjanji akan mendoakanmu. Terima kasih untuk semuanya yah. Gua telah merelakan cinta lamaku pada gudang kenangan-kenangan indah. Hati ini telah siap menyonsong asa yang baru. Jika Tuhan mengijinkan, aku pasti akan memperjuangkannya bersamamu.”

Malam semakin larut. Rembulan nampak semakin cerah saja di tengah pekatnya langit. Suara lolongan anjing-anjing kampung mulai menggaung bersahutan. Di luar, nampak Moonlight Sonata tengah bangkit dari tempat duduknya, yaitu tepat di depan pintu kamar Kyra. Kakinya berjinjit-jinjit melangkah menuju tempat parkir. Ia kemudian menuntun motornya pelan-pelan keluar dari gerbang, seolah tak ingin Kyra tahu bahwa ia masih ada di sana dan mendengarkan pengakuan hatinya. Sesampai di jalan raya, barulah ia mengendarai motor itu sambil tersenyum bahagia dan membawa pelangi di hatinya.

Jumat, 27 Agustus 2010

A Letter for Kyra: A Best Friend Letter


Dear Kyra Melody,

Trust you are as wonderful as I am today. How is it going at your end? You haven't told me many things, Kyra, so long to hear your stories :) Thanks for so many lessons you've taught me, the air when I couldn't breath, the words when I couldn't speak, the tears when I hardly spill out of my own, the helping hands when I thought I don't deserve any, the chances when I have given up on me. I hope I say this line in a perfect time and place, I love you, sis :)

Kyra, on August 24th 2010 I met him. We had dinner in a pizza restaurant near our place. You were right, I felt nervous when he picked me up. My anxiety level rose while i was on his bike. And you know what, I couldn't get good sleep the nite before the date ha ha.. Kyra, we spent our first 30 minutes without having any conversation, just silly and quick question-answer time. I was forcing my brain to pick a topic, I dig, dig, and dig it deeper but found nothing. I remained silent.. Until, the pizza's coming.

Kyra, I don't remember much of his words since all I did was enjoying his voice. I really didn't want to miss a sec of the moment. Precious time. I actually heard every line of what he said. He couldn't stop talking. He really dominated all the conversation we had. It's fine actually, since all I wanted to do is to hear his voice, near me. That's enough for me :) However, I was a bit frustrated by his words. He said so many things I didn't want to hear. The past, the reasons, the things between us, and so many things I really didn't prepare to hear. I was thinking to leave him abruptly but then I told myself to not to be a coward, I have to face it, like it or not!

Kyra, he kept talking, talking, talking, and talking, while I was keep silent and smile, silent and smile, and, silent and smile. He was a bit worry by my silence, he knew I was hiding lot of things. I couldn't see his eyes, I didn't want him to read my mind, am telling you, he's good at mind reading. All I did most of the nite are just avoiding eye contact, less speaking, pulling his leg just to disturb him. Call me lame, I was trying to defend myself from him.

Kyra, he succeeded to make me believe that I was wrong this whole time. I felt very silly, stupid, and small. He is way too far ahead from me. I've been very self-centered. Shame on me.

Kyra, the nite I texted you, I said I was scared and worried about my feelings. I meant, I'm worried if I couldn't control my feeling after the dinner. The worries came true. I couldn't control my feeling. Just like what you said, it's like polars attraction, also opposition. The thing got more uncontrolled when he said those awaited line, "Look into my eyes, til' now, the moment we're talking, I love you still." Shocked inside, tried to look cool outside. I almost cried at the moment. It seemed unfair to me. I wasn't prepared.

Kyra, I didn't say anything to respond since he didn't ask me any, I also want to keep the thing between us worked. I wanna stay in my own territory, remain still. Anyway, we didn't continue the conversation deeper. We talked another topic til the time to go home. I could sense the ice between us broke lil by lil, not all, but it kept continue progressively.

Kyra, I invited him to get in the house. It's like a dream came true to have him inside the house. It's a huge progress I suppose. We continued our chat til' midnite then I asked him to go home since he has office the next day. It's amazing how I could let him go when all I wanted him to stay longer. Now I understand what love is :)

Kyra, needless to tell you what I've been feeling inside my heart after. Needless to tell you how many tears I've been shedding. I asked God lot of questions last nite, but He hasn't answered me yet. I need to be more patient and focus to what I've decided before I spent the nite with him. Though I've been very confused, I say this in my prayer "Dear God, thank You, for letting me to have such a wonderful moment with him. Thank You for the precious time. Thank You for the feeling. And thank You for whatever You've planned me. I believe You are my Source of Needs, my Greatest Life-Planner, and my life is in Your hands." To be honest, Kyra, not an easy task. I am learning to rearrange the scrambled puzzle. I am learning, Kyra, and won't stop trying :)

Kyra, hope I'm not bored you with my lame life stories. You've been very wonderful to me. Sorry for the sudden calls, messages, texts, asking you to get online or simply just asking for opinions. I feel bad bout it most of the time, but keeps continue to do it he he..

Kyra, you haven't telling me bout your life these days. I'm scared whether I'm no longer trustable or.. Anyway, I'm still waiting for you to let me in sometimes :) You know me better, Kyra.

Hence, let me tell you again how much I love you, I pray for you and our plan in the future. Blessed those who believe in His plan and let Him mould our lives. Soli Deo Gloria. Amen

Take care. God Bless you, Kyra.





Queen - sister in Christ :)


From The Unspoken Truth

Rabu, 11 Agustus 2010

CINTA SATU MALAM???


“Selamat datang di Bandara Ngurah Rai, Kyra Melody!” Demikianlah si Tomboy menyelamati diri sendiri ketika pertama kali menjejakkan kakinya di Bandara. Ia nampak begitu antusias dengan kehidupan barunya setahun ke depan di Pulau Dewata. Dirinya sudah siap mewujudkan sederet jadwal di otaknya untuk mengunjungi dan menghabiskan waktu di pantai-pantai eksotik Bali. Memang benar kedatangannya bukan untuk menjadi turis domestik. Akan tetapi, tentu saja ia tak akan melewatkan pantai-pantai indah itu selama tinggal di sana.

”Selamat sore, Ibu Kyra?” Terdengar sebuah suara yang menyapa dan membuyarkan dialog dalam dunianya sendiri.

”Ehm, ya benar. Apakah anda utusan dari SMPK Kairos?”

”Benar, Bu. Kenalkan nama saya Moonlight Sonata. Saya akan mengantar Ibu kemanapun anda ingin pergi.”

”Great and thanks. Tapi, boleh tidak saya minta tolong pada anda?”

”Oh, tentu. Silahkah saja, Ibu Kyra. Saya akan dengan senang hati membantu Ibu.”

”Sekali lagi terima kasih. Jadi, saya mohon dengan hormat. Please, dengan amat sangat... jangan panggil gua Ibu, Dodoool! Gua bukan Ibu Lo! Coba bilang, sejak kapan gua nikah sama Bapak Lo, hah?”

”Hahahahaha! Sori, sori Ra. Ceritanya, gua mo sambut Elo dengan resmi gitu loh. Hei Tomboy, tetep aja galak Lo yah? Awas, ntar cepet tua loh.”

“Iye, iye, lagian siapa yang bakalan ga galak sama Elo, Mon! Mo’on! Hahahaha!”

“Yeee, kenapa elo masih panggil gua dengan “Mon” sih? Gua bukan anak SD lagi, Tomboy. Gelo aja, nama bagus-bagus diganti Mo’on. Intelek dikit napa?”

“Udah, jangan ambeg! Lo juga masih panggil gua Tomboy. Emang Lo ga bisa liat kalo sekarang gua udah feminin? Nah, sekarang antar gua ke Jimbaran yah? Laper nih. Ga usah jadi temen SD gua kalo Lo nolak permintaan ini!”

“Huh, asal Elo yang traktir sekilo kerapu bakar, udang, with kerang, dan jangan lupa es kelapa mudanya!”

“Aaaah, rampooook! Elo tega ngerampok temen sendiri ye?”

“Yuuuk, ah! Kita kemon biar ga ketinggalan wonderful sunsetnya Jimbaran Beach!”

Tanpa basa-basi, dua orang bekas teman SD itu pun segera melaju menuju pantai pertama di jadwal invisible Kyra. Petang itu, Jimbaran bagai diset untuk menyambut kedatangan Kyra. Sunset tidak malu-malu lagi dan bahkan mengumbar lebar-lebar senyum jingga kemerah-merahan kepadanya. Pemandangan tersebut terasa sangat romantis buat si Tomboy yang baru saja memutuskan untuk menanggalkan cintanya dari Laut Biru Gracia. Tentu saja semua itu tidaklah mudah, karena romantic sunset itu terbukti masih menggaungkan nama cinta pertamanya.

“Ra, kok ngelamun sih?”

“Hah? Ah, ga apa-apa kok. Keren yah suasananya? Andai bisa petik sunset itu kaya petik bunga matahari di halaman rumah Kristal. Gua petik, gua simpen di kamar. Wah, tiap hari gua ga bakalan keluar rumah kalo begitu.”

“Bletak!” Tiba-tiba terdengar suara gagang kipas plastik yang dipukulkan dengan lembut ke kepala Kyra.

“Apaan sih Lo, Mon? Sakit tau!”

“Sejak kapan pikiran Lo jadi aneh gitu? Apa Lo lagi kesurupan leak Bali yah? Elo tadi deket-deket sama ogoh-ogoh yah? Kesambit apa Lo, Neng? Pake mau petik sunset segala.”

“Plaaaak!” Kini giliran Kyra melayangkan kedua telapak tangannya dan mendarat tepat di kedua pipi pria 34 tahun itu, hingga menghasilkan cap 10 jari yang berwarna merah merona di sana.

“Eh, ngajak berantem Lo, Ra? Dulu body gua emang lebih kecil dari Elo. Sekarang gua 174 cm tau? Eh, kita kok jadi berantem kaya dulu yah? Hahaha! Gini-gini, Elo sayang ama gua kan?”

“Iye, iye, sori yah. Sakit ga?”

“Ga apa, cuman kalo Lo lakuin itu terus entar ga ada cowo yang mau sama Elo, selain gua.” Tiba-tiba terdengar suara berisik pesawat terbang yang akan landing di bandara yang cukup dekat dan bisa disaksikan dari pantai Jimbaran.

“Eh, Mon... Lo bilang apa? Entar ga ada cowo yang mau sama gua, selain siapa?”

“Aaaargh, dasar Tombooooy! Ga bisa diulang!”

Keceriaan mereka berdua semakin menghangat ketika seafood pesanan yang dinanti telah keluar menebar aroma kenikmatan. Mereka segera bersantap malam hingga tanpa sadar mentari telah beranjak ke peraduannya. Langit yang tadinya berwarna jingga cerah berubah menjadi merah bata, dari merah bata menjadi abu-abu bersemu merah, dan lama-lama menghitam legam. Namun, bukan hanya kegelapan yang menguasai langit. Gemerlap bintang juga bertebaran merata bagai perhiasan-perhiasan surgawi. Demikianlah, malam itu terasa sangat indah. Moonlight Sonata dan Kyra sangat menikmatinya. Mereka berjalan menyusuri pantai dan menyisakan sederetan panjang jejak kaki beda ukuran.

Setelah mendapatkan sudut pandang yang diinginkannya, Kyra sengaja duduk di atas hamparan pasir putih. Matanya terus menatap jauh ke arah kerlap-kerlip lampu hotel, seolah tak ingin melewatkan keindahannya. Seluruh eksistensinya dipenuhi kekaguman dan syukur.

This is the day the LORD has made; I'll rejoice and be glad in it. How sweet are His love, sweeter than all romantic things I have ever sensed. Truly, He means more than this world to me.

Lamat-lamat kemudian terdengar di telinganya Air Supply sedang menembangkan Goodbye. Walau lirik lagu itu tidak menggambarkan apa yang sedang dialami, namun memberi dorongan yang kuat untuk melepas apa yang selama ini digenggam erat-erat dalam hatinya. Tiada lagi tangis. Juga tiada sesal. Perlahan-lahan, ia mengangkat tangan kanan dan mulai melambaikannya ke arah sebuah bintang. Dadanya berdenyut-denyut ketika diteriakkannya dalam hati, “Goodbye Kak Laut! Goodbye Autumn Leaves! Goodbye my love!” Segera setelah itu, ia merebahkan punggung dan kepalanya di atas pasir, lalu dengan mata terpejam mereguk kebebasan hatinya. Ia begitu asyik dengan semuanya itu hingga tak sadar ada sepasang mata yang selalu menatapnya dengan kecemasan, sekaligus penuh cinta.

“Ra, udah malem. Gua antar Elo pulang yah?”

Kyra membuka matanya, bangkit berdiri, lalu mulai menatap mata bening teman masa kecilnya itu. Rupanya Moonlight Sonata juga sedang menatapnya dalam-dalam. Keduanya saling bertatapan cukup lama. Tanpa kata, tanpa suara, hanya dua bola mata yang saling beradu. Suasana itu tak terlukiskan; namun terasa mencairkan kebekuan, menciptakan keintiman, dan menumbuhkan harapan di antara dua hati. Masih dalam keheningan, keduanya bergandengan tangan menyusuri pantai dan bersama menatap masa depan. Akankah ini menjadi cinta bersemi satu malam?

Minggu, 01 Agustus 2010

BIARLAH AKU MENCINTAINYA DI HATI INI SAJA


“Apakah 17 tahun tidak cukup lama? Batin ini telah lama tersiksa oleh cinta,” keluh Kyra dalam hati. Rupanya atmosfir taman kota, membangkitkan romantisme di dadanya. Sementara sejumlah anak kecil sedang beria-ria dalam gelak-canda; Kyra justru terduduk sendiri di sebuah bangku kayu dan termenung. Awalnya ia terpikat, terikat, lalu tersedot dalam indahnya suasana. Namun, lama-lama lembayung senja yang sedang meraja itu tidak hanya sekedar menebar keindahan; melainkan juga membangkitkankan sebuah kenangan lama. Terdengar tarikan dan hembusan nafas panjangnya. Ya, sesuatu tengah bergolak dalam diri wanita berusia 33 tahun itu.

9 September 1999, taman kota ini pernah menjadi saksi bisu kepedihan hatinya. Teringat kala itu tangisnya mengucur deras membasahi bangku kayu yang sama ketika sahabatnya, Kristal Red Gracia berkata, ”Kak Laut akan menikah sebulan lagi, Ra. Menikahi Kak Sinta yang cantik itu.” Kembali terdengar tarikan dan hembusan nafasnya. Kali ini lebih panjang dari sebelumya. Yah, peristiwa itu masih membekas dalam karena cinta pertamanya harus layu sebelum benar-benar mekar.

######

Kristal dan Kyra adalah teman sekelas yang telah bersahabat sejak mereka duduk di bangku taman kanak-kanak yang berlanjut sampai ke SMA. Dimana ada Kristal, disitu ada Kyra. Kristal begitu feminin dan cantik. Dengan rambut panjang berombaknya, ia bak putri Nirmala dari negeri dongeng. Sedang Kyra, lincah dan bernyali. Jeans butut selutut dan T-Shirt adalah kostum harian kesukaannya. Potongan rambut pendeknya yang mirip Bon Jovi membuat kesan tomboy dalam dirinya makin kuat. Lewat persahabatan itu, Kyra bertemu Laut Biru Gracia, kakak Kristal yang berusia tiga tahun lebih tua darinya.

Masih jelas terbayang saat pertemuan perdananya dengan Laut. Saat itu Kristal dan Kyra yang kelas dua SMA berniat belajar Biologi bersama di kamar Kristal. Seperti biasa, kebersamaan mereka selalu diwarnai gelak-tawa. Namun, canda mereka segera terhenti oleh suara petikan gitar yang berasal dari sebuah kamar yang mereka lewati.

”Kris, siapa sih yang sedang main gitar? Merdu sekali suaranya. Kalo itu cowo, hati gua pasti luruh dah.”

”Itu kakak keduaku, Kak Laut Biru. Dia baru pulang dari Bandung. Lo kan blom pernah ketemu dia, Ra. Hahaha, pake main asal jatuh cinta aja.“

“Kak Laut Biru yang foto wisudanya ada di ruang tamu itu kan?“

“Benar sekali!“ tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar yang disusul suara pintu dibuka. Dari balik pintu muncul sosok pria tegap dengan tinggi 170 cm. Hidungnya mancung, kulitnya putih, dan tangannya memegang sebuah gitar berwarna biru laut.“

“Ssst, beneran Lo jatuh cinta ma dia?“ tanya Kristal.

Menanggapi pertanyaan Kristal yang usil itu Kyra hanya bisa tertunduk malu. Setelah melemparkan senyuman pada Laut, ia menarik tangan Kristal dan menyeretnya ke dalam kamar.

”Ra, apaan sih? Gua koq diseret-seret kaya sapi peliharaan Lo ajah?“

”Gua malu tau. Kira-kira kak Laut denger kata-kata gua tadi ga yah? Semoga engga. Aaaaargh, semoga engga, Kris!”

”Tenang aja, kakak gua itu dikenal tergila-gila ama gitarnya. Dia selalu bilang kalo gitar biru laut itu adalah istrinya. Sekali ada di tangannya, dunia kaya milik dia sendiri dan gitarnya, Cuy. Hahahaha! Tapi Ra, ngomong-ngomong kenapa baru kali ini gua ngeliat Lo kaya gini yah? Pipi Lo itu loh, koq kaya kerupuk udang warnanya?”

”Pipi gua kaya kerupuk udang? Apaan sih, dodol?” jawab Kyra seraya mencubit pipi sahabatnya itu.

”Iiih, Elo koq jadi genit sih? Ada yang beda, Ra. Selama ini Elo selalu anti sama cowo kan? Siapa sih cowo yang ga Elo kalahin dalam tanding sprint dan lari rintangan di pelajaran olah raga? Kalo ingat gaya preman Lo waktu nendang si Randy and waktu men-smash kepala Dodi dengan bola ping-pong, gua selalu berpikir Elo itu anti ama cowo.”

”Enak ajah! Gua ga pernah bilang gua anti cowo kali?”

”Iya, tapi....”

”Cowo-cowo di sekolah kita itu cupu dan kekanak-kanakan. Gua empet sampai perasaan gua mampet ma mereka, Kris. Hahaha! Kakak Lo beda. Permainan gitarnya sempurna. Asli, gua naksir Kak Laut deh.”

”Alaaaah, paling cinta monyet ajah.”

Candaan mereka terhenti hingga hening sejenak ketika terdengar dengan jelas suara petikan gitar Laut Biru yang mengalunkan Autumn Leaves.

”Kris, Lo mau ga berjanji sama gua?” kata Kyra memecah keheningan.

”Iyah, apa sih yang ga buat Lo, Nona Kyra Melody yang tomboy?”

”Kris, gua ga lagi bercanda. Please, jangan bilang Kak Laut soal perasaan gua. Gua... gua ingin menikmati hal yang baru ini dulu... sendiri.”

”Okelah kalo begitu. Lagian gua ga mau Elo lebih akrab sama Kak Laut dibanding gua. Hahahaha!”

Perkenalan tersebut jadi batu peringatan yang indah buat Kyra. Sejak saat itu, di lamunannya hanya ada Laut Biru seorang. Hatinya sungguh-sungguh dikuasai sosok pria dengan gitar biru lautnya itu. Malam-malamnya kini tak lagi dihabiskan dengan membaca berulang-ulang setumpuk komik Kungfu Boy dan Topeng Kaca; melainkan dengan duduk di atas atap rumahnya yang landai sambil menatap bulan dan bintang-bintang. Bukan menyaingi Raja Daud, sang pujangga. Kyra nampak lebih mirip pungguk merindukan bulan, camar merindukan lautan.

Bagi Kyra, jatuh cinta adalah sebuah sensasi yang baru. Ada letupan-letupan dalam perasaannya yang hanya bisa diredakan oleh satu nama. Ada gaya magnet yang tak terkendali oleh remote control di otaknya. Bawaannya kangen melulu, ingin dekat dengannya melulu, mau melihat wajahnya melulu. Kyra benar-benar dikendalikan oleh sejumlah rasa yang melebur jadi satu dalam sebuah istilah yang disebut cinta. Manis karena membuatnya melayang-layang setiap kali wajah sang pujaan membayang. Pahit karena tak tahu bagaimana mengungkap rasa yang ada. Indah karena mengukir harap dan membuai mimpi. Getir karena cemas menindas dan cemburu memburu.

Cinta bagai mengikis kesadaran dan gambaran diri yang selama ini ditatahkan pada dirinya sendiri. Demi cinta, ia rela mencoba mengenakan gaun, sepatu high heel, dan memoles wajah yang selama ini selalu polos dengan alien yang bernama make up. Walau tak mampu menahan godaan dan tawa orang-orang di sekitarnya, walau sangat tersiksa karena merasa tak menjadi dirinya sendiri; toh semua itu dilakukannya dengan sesadar-sadarnya. Ia ingin Laut memperhatikannya, namun di sisi yang lain juga begitu malu berdekatan dengan punjaannya. Paradoks perasaan itu begitu membingungkannya. Itu sebabnya ia merasa sudah cukup puas walau hanya melihatnya dari jauh.

Semua itu terjadi berulang-ulang dan bagai menjadi sebuah tarik-menarik yang tak berujung, sampai suatu saat ketika didengarnya berita rencana pernikahan itu dari mulut sahabatnya sendiri. Saat itulah sensasi cinta pertamanya bagai balon yang mengempis. Perasaannya dihancurkan oleh cinta bertepuk sebelah tangan. Hatinya dipatahkan oleh rasa yang tak terbalas. Di kursi kayu itu dan sambil berurai air mata, ia menaikkan doa.

Terima kasih Tuhan untuk sebuah rasa...
Bukti keberadaan hamba sebagai mana yang Engkau cipta.
Walau begitu pedih-perih dan penuh derita,
Tiada ku menyesali datangnya cinta.

Ambil, ambilah dan bawalah jauh-jauh!
Bukan, bukan sekedar menyampaikan keluh,
Jika Engkau berkehendak, hamba kan patuh,
Bahwa cintanya memang bukan tempatku berlabuh.

######

Peristiwa itu telah lama berlalu, namun toh mengenangnya masih mampu membuat Kyra menitikkan air mata.

“Apakah 17 tahun tidak cukup lama? Batin ini telah lama tersiksa oleh cinta," keluh Kyra dalam hati. Keluh itu adalah sebuah jeritan hati yang tak sanggup menyingkirkan sosok Laut Biru yang telah mengisi hatinya selama 17 tahun belakangan ini.

”Hei, kenapa kamu menangis?” tiba-tiba terdengar suara seorang pria menghentikan aktifitas putaran memorinya.

”Eh, Kak Laut. Sudah lama ada di sini dan menatap saya dalam keadaan begini?”

”Ga koq, aku baru aja nyampai. Maaf yah, udah buat kamu menunggu lama. Baru saja mengantar Sinta, mantan istriku, ke dokter mata. Nih, ada titipan dari Kristal. Dia ngomel melulu dan memintaku segera mengantarkan strawberry ini untukmu. Dasar bawaan orok anak kedua kali. Padahal waktu hamil anak pertama dia ga secerewet itu. Hahahaha.”

”Kak, saya turut sedih atas perceraian Kakak dengan Kak Sinta. Saya akan berdoa supaya Kak Laut bisa bersatu lagi dengan Kak Sinta dan Rico. Kasihan Rico kalo harus menanggung dampak perceraian kedua orang tuanya. Maaf, saya bukan sok menasehati. Bukankah perceraian tidak dikehendaki Tuhan?”

”Iya, aku tahu. Terima kasih buat perhatianmu. Kamu sendiri gimana? Kapan akan menikah?”

”Doakan saja yah, Kak. Doakan Tuhan akan beri yang terbaik buat saya. Hmmh, udah jam 6 sore. Saya harus berangkat ke stasiun kereta. Terima kasih dan salam buat Kristal yah Kak.”

”Oke, hati-hati di jalan. Kapan-kapan kalo pulang kemari berilah kabar.”

”Baik Kak, selamat tinggal. Daaaaah!”

Untuk terakhir kalinya sebelum pergi, Kyra menatap lekat-lekat punggung Laut Biru yang telah berbalik dan melangkah meninggalkannya.

”Ah, dasar si dodol Kristal. Masih sempat-sempatnya, cewe centil itu menjodohkan aku dengan Kak Laut setelah sekian lamanya. Aku memang masih sangat mencintai Laut Biru Gracia dan tak dapat melupakan suara petikan gitarnya yang mengalunkan Autumn Leaves. Namun, 17 tahun cukup sudah. Bukan kepahitan cinta atau trauma. Hanya saja, hidup telah mengajarkan bahwa cinta itu tidak selalu berarti saling memiliki. Cinta adalah bahagia bila dia bahagia. Maka, mohon buatlah dia bahagia. Dan jika cinta itu tak mau pergi juga, biarlah aku mencintainya di hati ini saja.”