Wellcome Brothers and Sisters!

From the fullness of HIS GRACE we have all receive one blessing after another. (John 1:16)


The LORD is my shepherd, I shall not be in want. (Psalm 23:1)

Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 November 2010

INTEGRASI IMAN DALAM IBADAH (SIKAP HIDUP PENATALAYAN)


Roma 12:1-2

Topeng kaca adalah drama yang menceritakan tentang Kitajima Maya, seorang gadis kecil yang mempunyai seribu topeng. Yang dimaksud dengan topeng ini adalah topeng untuk memerankan berbagai macam tokoh. Maya adalah seorang gadis mungil yang berasal dari keluarga miskin, tidak cantik, polos, dan bahkan ceroboh. Ia punya seorang ibu yang berjualan mie dan selalu sakit-sakitan. Sejak kecil sudah biasa menjalani kehidupan yang sangat keras karena ia tidak bisa melakukan apa-apa selain akting. Itu sebabnya, ia berusaha keras untuk menjadi seorang aktris diatas panggung. Maya sebenarnya sangat berbakat, namun perjalanan jadi artis itu ternyata sangat tidak mudah karena seorang artis atau pemain drama selalu hidup dengan topeng kaca.

Disebut topeng karena seorang artis harus siap memerankan banyak karakter tokoh yang tidak sesuai dengan karakternya sendiri, mengekspresikan berbagai emosi yang bukan milik mereka. Topeng itu bagai terbuat dari kaca karena karakter dan emosi yang dikenakan di atas panggung itu sangat tipis, tembus pandang, dan rentan alias gampang retak. Ketika pribadi dan emosi terganggu atau tak terkontrol, topeng mereka akan retak, akting mereka terganggu karena perasaan pemain yang sesungguhnyalah yang akan keluar. Contohnya, suatu saat Maya Kitajima diminta memerankan sebuah boneka. Karena bakatnya, ia menghayati peran itu dengan luar biasa sehingga penonton mengira bahwa boneka yang diperankannya itu adalah boneka sungguhan, bukan manusia yang menjadi boneka. Akan tetapi, pada saat Maya mulai memikirkan ibunya yang sekarat, topeng kacanya pecah karena ia meneteskan air mata kesedihan. Tidak mungkin sebuah boneka dapat menangis bukan? Bagi gurunya, ia adalah aktris yang gagal. Itu sebabnya integrasi antara peran dan pemeran itu sangat penting.

Integrasi: [n] pembauran hingga menjadi kesatuan yg utuh atau bulat. Integrasi antara peran dan pemeran membuat seorang aktris melupakan dirinya dan secara total menjadi seperti perannya agar aktingnya dapat memikat dan memesona audience.

Saya pikir integrasi yang sama harus terjadi pada kita, sebagai orang percaya. Kita memang tidak memakai topeng kaca. Tapi, kita dikatakan bagai hidup di akuarium kaca. Artinya, hidup kita (menyangkut seluruh keberadaan diri kita, apa yang kita lakukan, katakan, pikirkan, rasakan, putuskan akan disaksikan dan dinilai audience.

Ada dua audience, yaitu yang tidak kelihatan (Tuhan) dan yang kelihatan (sesama). Audience pertama adalah Tuhan, yaitu SUTRADARA Agung, yang memberikan peran kepada hidup kita agar disaksikan oleh audience kedua, yaitu sesama kita. Untuk itulah diperlukan sebuah integrasi iman dalam hidup. Iman menyatakan hubungan kita dengan Tuhan dan itu harus dinyatakan kepada sesama kita.

Inilah yang dinyatakan oleh Paulus dalam firman yang kita baca tadi. Setelah Paulus menjelaskan tentang doktrin-doktrin penting iman Kristen (pasal 1-11), yaitu:
1. Manusia berdosa dan menerima hukuman murka Allah (pasal 1-3).
2. Allah mengasihi sehingga manusia dibenarkan karena iman kepada Yesus (pasal 3-10).
3. Predestinasi Allah atau konsep umat pilihan (pasal 11).
Maka di ayat 12, yang sudah kita baca tadi, Paulus langsung mengaplikasikan semua doktrin iman ini dalam spiritualitas Kristiani (praktik kerohanian Kristen). Aplikasi ini merupakan sebuah praktek iman, yaitu suatu ungkapan syukur anak-anak Tuhan sejati setelah mereka diselamatkan dan mengerti kedaulatan dan anugerah-Nya. Praktik iman tersebut diawali dengan sikap ibadah sejati kepada Tuhan.

Apa itu ibadah? Apakah ibadah identik dengan pergi ke gereja dan melayani saja? Tidak. Ibadah sejati bukan ibadah fenomenal (momen atau situasi tertentu), tetapi ibadah esensial (penting atau dasar). Ibadah inilah yang diajarkan Paulus mulai pasal 12 s/d 16 sebagai aplikasi atau respon secara praktis dari iman orang percaya.

Dua ayat pertama pada pasal 12 diawali dengan pengajaran penting Paulus tentang konsep ibadah sejati. Di ayat 1, Paulus memaparkan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Dalam ayat ini, Paulus mendesak jemaat Roma untuk melakukan ibadah sejati. Dalam bahasa aslinya, nasihat ini diartikan sebagai sebuah nasihat yang penting karena diberikan demi kemurahan Allah. Kemurahan Allah bisa diterjemahkan sebagai belas kasihan Allah. Jadi, Paulus ingin menasihati jemaat Roma agar mereka beribadah secara benar kepada Allah, dengan mengingat belas kasihan-Nya yang telah memilih dan menetapkan mereka sebagai anak-anak-Nya.

Hal ini juga berlaku bagi kita saat ini. Mari mengingat bahwa Tuhan juga telah menyelamatkan kita dari maut. Oleh karena itu, biarlah kasih setia dan belas kasihan-Nya ini mendorong dan memimpin langkah hidup kita untuk makin memuliakan Tuhan selama-lamanya.

Lalu, nasihat penting apa yang diberikan Paulus? Paulus memberikan beberapa konsep penting tentang ibadah yang sejati:

Pertama, ibadah sejati adalah ibadah totalitas. Dikatakan bahwa ibadah sejati bukanlah ibadah fenomenal, atau ibadah pertunjukan. Artinya, kita bukan cuma kelihatan aktif di berbagai kegiatan gereja. Ibadah sejati adalah ibadah totalitas yang menyeluruh di dalam seluruh aspek hidup kita sehari-hari. Paulus di dalam ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Kata “mempersembahkan” dalam bahasa aslinya adalah kata kerja dalam bentuk aktif. Berarti, ibadah sejati adalah ibadah yang terjadi ketika kita secara aktif mempersembahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Itulah arti berserah total. Berserah adalah kita berani menyerahkan seluruh hidup kita dikuasai oleh Kristus sebagai Tuhan, Raja, dan Penguasa dari hidup kita. Ketika kita menyerahkan hidup, kita juga harus berani menyesuaikan hidup kita dengan kehendak Tuhan. Artinya, kita siap melupakan/menyangkal diri, seperti aktris profesional yang melupakan dirinya dan melebur dengan peran yang TUHAN kehendaki. Ketika kita berserah, di saat yang sama kita menyangkal diri untuk mengatakan tidak kepada kehendak kita dan mengatakan ya kepada kehendak-Nya.

Saya pernah mengetahui ada seseorang yang aktif terlibat melayani sebagai pemusik di komisi Pemuda. Ia dikenal begitu aktif melayani di gereja. Tapi, di luaran dia dikenal sebagai pemakai narkoba dan bahkan berani melakukan sex dengan pacarnya sebelum menikah. Itu artinya, ia tidak sepenuhnya berserah pada Tuhan. Ia hanya berikan dirinya waktu di gereja, selebihnya tidak. Ia hanya menuhankan Allah di gereja, selebihnya tidak.

Pertanyaannya, apakah selama ini pelayanannya dapat jadi berkat, padahal imannya tidak terintegrasi total dalam hidupnya atau ibadahnya? Kalau dilihat secara kasat mata, kemampuannya yang hebat memang membuat orang menikmati ibadah. Bisa jadi Tuhan pakai pelayanannya untuk jadi berkat buat orang lain. Akan tetapi, benarkah Tuhan ada dalam pelayanannya? Apakah pelayanannya berkenan di hadapan Tuhan? Nasihat Paulus tadi walaupun ditulis untuk jemaat Roma, namun sebenarnya lebih ditujukan untuk pribadi demi pribadi. Karena ibadah selain bersifat komunal, juga bersifat personal sehingga ibadah yang sejati adalah ketika Tuhan ditinggikan, baik secara komunal maupun personal. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa hanya menuhankan Allah di gereja, tapi tidak dalam hidup kita.

Ingat, fungsi pelayanan dalam ibadah adalah membawa orang lain untuk berjumpa dengan Tuhan. Jadi, bisakah seseorang yang dalam kehidupan pribadinya berperilaku semaunya sendiri dan tidak menganggap Tuhan itu ada dalam hidupnya, kemudian mau mengajak orang lain untuk berjumpa Tuhan dalam ibadah di gereja? Bisa kalau tidak ketahuan atau jemaatnya sudah dewasa secara rohani. Ingat, kita bisa jadi berkat sekaligus batu sandungan buat orang lain ketika mereka melihat hidup kita.

Jadi, sebagai pelayan-pelayan ibadah... kitalah yang pertama-tama jadi teladan mengenai ketundukan pada Tuhan, menjadi teladan mengenai relasi yang indah dan intim dengan Tuhan, menjadi teladan mengenai kebergantungan penuh kepada Tuhan. Sehingga kita bukan jadi pelayan-pelayan yang munafik atau NATO, supaya jemaat juga akan merasakan keindahan ibadah dengan TUHAN dan ibadah kita tidak sia-sia. Itu sebabnya selain latihan persiapan ibadah, kita perlu mempersiapkan diri dengan menjaga hidup. Ini juga berkaitan dengan esensi ibadah sejati yang kedua.

Kedua, ibadah sejati adalah ibadah yang kudus. Bukan saja sebagai persembahan yang hidup, Paulus juga menasihatkan jemaat Roma agar mereka mempersembahkan tubuh mereka sebagai persembahan yang kudus. Kudus berarti dipisahkan (separated) atau menjadi berbeda dengan dunia ini (ay. 2). Artinya, standart dari hidup kudus bukanlah hukum dunia ini, apalagi diri kita sendiri. Ingat, hidup kita telah ditebus sehingga bukan menjadi milik kita pribadi. Tuhan yang berhak atas hidup kita. Dari sejak semula memang demikian. Tapi, bukan berarti semua hukum di dunia ini tidak benar. Yang pasti, hukum yang benar tidak akan bertentangan dengan kebenaran Allah bukan? So, firman ini menunjukkan bahwa Roh Kudus yang telah menguduskan hidup kita, juga menuntut kita untuk mempersembahkan tubuh untuk dipakai bagi kemuliaan Tuhan.

Suatu ketika setelah sharing firman mengenai kekudusan hidup, ada yang berkata begini, “Karena saya belum bisa hidup kudus maka saya tidak mau melayani.” Sepertinya baik yah? Saya kemudian bertanya kepadanya, kira-kira kapan kamu akan menjadi kudus dan siap melayani? Dia ga bisa jawab karena faktanya kita ini sudah, sedang, dan akan dikuduskan. Artinya, di dalam hidup ini kita selalu akan memperjuangkan untuk hidup kudus. Bukan berarti jadi alasan untuk sengaja tidak kudus. Akan tetapi, pelayanan yang powerful adalah ketika kita dalam keadaan selalu berjuang untuk hidup kudus dalam segala aspeknya.

Artinya, kita telah mengalami sebuah proses yang layak dibagikan dan dipancarkan dalam pelayanan kita. Kita pribadi punya pengalaman rohani dengan TUHAN sehingga pelayanan kita akan menjadi hidup. Jika pelayanan kita hidup maka itu akan menjadi konsep yang ketiga, yaitu:

Ketiga, ibadah sejati adalah ibadah yang menyenangkan Allah. Nasehat Paulus mengenai ibadah yang sejati bukan hanya mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup dan kudus; melainkan juga yang berkenan kepada Allah. Kata “berkenan” dalam bahasa aslinya diterjemahkan sebagai menyenangkan Allah, dapat diterima Allah, atau memuaskan Allah.

Bagaimana ibadah bisa dikatakan menyenangkan Allah? Ibadah bisa menyenangkan Allah ketika ibadah dilakukan (baik di gereja ataupun kehidupan sehari-hari) bukan memuliakan diri, tetapi memuliakan Tuhan (God-centered worship). Sebaliknya, yang tidak menyenangkan Allah adalah ibadah yang memuliakan diri. Ibadah demikian adalah ibadah yang menggunakan segala cara untuk menyenangkan diri sebagai objek dan subjek ibadah. Ini dilakukan oleh orang-orang kafir pada zaman itu. Mereka biasa beribadah untuk mencari keuntungan sendiri.

Itu sebabnya, Paulus menunjukkan kepada jemaat Roma mengenai ibadah yang berbeda, yaitu yang berpusat pada Allah, yang menyenangkan dan memuliakan Dia saja (Soli Deo Gloria). Bukan hanya ibadah kita saja yang menyenangkan Allah, melainkan juga pelayanan kita. Di sinilah kita diingatkan untuk selalu menyelidiki motivasi pelayanan kita sedalam-dalamnya... apakah untuk menyenangkan diri sendiri atau untuk TUHAN semata.

Lalu, bagaimana kita menjalankan ibadah dan pelayanan yang memuliakan Tuhan? Ada sebuah slogan terkenal dari Rev. Dr. John S. Piper, “God is most glorified in us when we are most satisfied in Him.” Artinya, Allah paling dimuliakan di dalam kita ketika kita dipuaskan di dalam-Nya. Kata kita dipuaskan tidak berarti kitalah pusat ibadah. Dr. Piper menegaskan bahwa Allah itu paling dimuliakan di dalam kita BUKAN ketika kita (merasa) dipuaskan saja, tetapi ketika kita dipuaskan di dalam Dia.
Artinya, pertama-tama kita yang dipuaskan dengan hadirat Allah. Allah itu sebagai sumber kepuasan mutlak, yang di dalam-Nya, kita menemukan anugerah, belas kasihan, kebenaran, keadilan, kejujuran, dll.

Hanya di dalam Dia saja kita semakin memuliakan-Nya. Ini mirip dengan apa yang dikatakan dalam Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 yang mengajar bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya. Jadi, ibadah dan pelayanan yang memuliakan Allah adalah ibadah dan pelayanan yang menikmati Allah.

Bagaimana menikmati Allah? Apakah itu seperti sedang pakai ekstasi yang membuat kita tidak sadarkan diri? TIDAK! Menikmati Allah adalah menikmati Pribadi Allah dan firman-Nya dengan kesadaran penuh. Menikmati Pribadi Allah berarti ada suatu pengenalan yang mendalam tentang Pribadi Allah dan apa yang dikehendaki-Nya dalam firman-Nya. Jadi, ibadah dan pelayanan kita tidak akan pernah dapat menyenangkan Allah ketika tidak didasari oleh konsep firman Tuhan yang benar.

Sebagai bukti, ada banyak orang yang mengklaim diri sebagai orang yang melayani Tuhan, tetapi sayangnya tanpa mengenal Pribadi yang dilayaninya. Mereka sibuk melayani sebagai WL, singers, pemusik, usher, kolektan, VG, operator media, dll; tetapi tidak pernah baca Alkitab, saat teduh, berdoa, dan bahkan datang ibadah. Sebab fakta menunjukkan ada yang datang ke gereja kalau ada jadwal pelayanan saja. Kalau ga ada jadwal, ga tahu pergi kemana. Ada yang mau melayani supaya terkenal atau unjuk gigi (aktualisasi diri), supaya dapat pacar, supaya tidak nganggur, dan berbagai alasan pribadi lainnya. Jika demikian kapan kita akan menikmati Allah? Tanpa menikmati Allah semua yang kita lakukan adalah hampa karena jauh dari sumber sukacita, sumber damai-sejahtera, sumber kasih, sumber pengampunan, dan bahkan sumber hidup itu sendiri.

Saat ini, firman TUHAN mengajak kita semua untuk merombak konsep pelayanan kita. Ingatlah, ketika kita melayani Tuhan, perhatikanlah siapa yang kita layani dan kenalilah Pribadi yang kita layani itu melalui firman Tuhan. Pelayanan tidak bisa dilepaskan dari firman Tuhan. Pelayanan yang mengabaikan konsep kebenaran firman Tuhan adalah pelayanan yang sia-sia dan antroposentris (berpusat kepada manusia). Dan tentu saja, Tuhan muak dengan pelayanan tersebut, karena kita sebenarnya sedang melayani diri kita sendiri, bukan Tuhan. Itu artinya kita cuma bawa nama Tuhan atau pakai topeng orang Kristen, tapi sebenarnya Kristen palsu, Atheis praktis, karena iman kita tidak terintegrasi dalam hidup, ibadah, dan pelayanan kita.

Firman ini juga menjadi peringatan buat setiap kita yang melayani ibadah untuk sungguh-sungguh mengikut TUHAN secara total. Itulah integrasi iman dalam ibadah, yaitu tidak ada dualisme hidup. Hidup kita sama luar dan dalam, kapan saja, di mana saja, di hadapan siapa saja. Pokoknya total. Sebab kita hidup dalam TUHAN dan Ia hidup dalam kita. Semboyannya, apa sih yang engga buat TUHAN? I’ll neve give up and always fulfilling my heart with love. I’ll give my best until the time to rest. I’ll be faithful until Your grace is full. Artinya, kita tidak akan menyerah; melainkan selalu memenuhi hati kita dengan kasih-Nya. Tidak ada yang membuat kita berhenti memuliakan TUHAN dalam hidup ini, selain daripada kematian. Tetap setia sampai kasih karunia Allah benar-benar sempurna ketika TUHAN datang untuk kedua kali.

Wow, keren bukan? Kita bisa ngerasain kok. Jemaat bisa melihat dan merasakan bedanya. Yes, they do. Mereka akan terpikat dan terpesona dengan kemuliaan TUHAN di dalam dan melalui pelayanan kita. Mereka tidak dipuaskan hanya dengan jenis musik apa yang dimainkan, siapa yang melayani, gimana kerennya wajah kita atau suara kita, ada teman atau tidak, gimana gedung gerejanya; melainkan mereka akan dipuaskan hanya dengan kehadiran Tuhan dalam ibadah dan dalam pelayanan kita. Sebagai responsnya, mereka rindu ketika melangkah keluar dari gereja, hidupnya akan berubah dan bertumbuh seperti yang TUHAN inginkan. Itu tujuannya akhirnya. Peran kita adalah menginspirasi jemaat lewat ibadah sehingga hidup mereka juga jadi ibadah yang hidup, kudus, dan berkenan pada Allah. Pada saat itulah, Sang SUTRADARA drama kehidupan kita akan berdiri dan memberikan standing applause dan berkata, “Baik sekali perbuatanmu, Hai hamba-Ku yang baik dan setia. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu!” Maukah kita suatu saat mengalaminya? Amin and Soli Deo Gloria!

Selasa, 15 Juni 2010

Tuhan, Ajar Kami Melihat Kepemilikan Dengan Benar (Lukas 19:1-10)


Apa sih yang sadar atau tidak telah dianggap paling berpengaruh di dunia saat ini? Jawabannya adalah uang. Boleh setuju, boleh tidak. Ini fakta loh bahwa tanpa uang, kita ga bisa melakukan apa-apa. Bukankah bisa dikatakan hampir semua aktivitas hidup membutuhkan uang? Mulai dari hal-hal penting seperti berobat dan bersekolah, sampai hal-hal kecil seperti minum air putih dan buang air kecil. Kalau ada orang yang mengatakan ga butuh uang sama sekali, maka mungkin banyak orang akan spontan mengatakan, ”Ah itu mah muna (munafik)!”

Fakta menunjukkan bahwa uang bukan saja penting, tetapi terbukti sangat berkuasa. Ada yang bilang bahwa uang bisa membeli, menciptakan, mengubah, dan menyelesaikan “hampir” semua masalah dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Makanya muncul istilah SUMUT. Bukan kependekan dari propinsi Sumatera Utara, tetapi “Semua Urusan Mesti Uang Tunai.” Di kalangan perdagangan ada istilah “ada uang ada barang.” Dalam rumah tangga “ada uang, Abang sayang... ga ada uang, sandal melayang… atau ga ada uang, Abang ditendang.” Kemudian yang lagi tren di kalangan pegawai negeri atau pejabat pemerintahan ”kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah.” Apa lagi maksudnya kalau bukan UUD, yaitu "Ujung-Ujungnya Duit?" Sangat kelihatan kalau uang merupakan lambang kenyamanan, makanya orang bisa brutal dan histeris kalo tidak memiliki atau kehilangan uang.

Hal yang sama juga terjadi di dalam gereja, semoga tidak di gereja kita. Ada istilah, yang kaya yang bersuara. Mengapa bisa begitu? Karena kalau cuma tekuk lutut, tutup mata, dan lipat tangan saja dijamin ga akan ada program-program gereja yang jalan. Betul atau betul? Ga heran lagu Sekolah Minggu berkata, “Apa yang dicari orang? UANG! Apa yang dicari orang? UANG! Apa yang dicari orang siang, malam, pagi, petang? UANG, UANG, UANG, bukan TUHAN YESUS!”

Tapi sungguh berbeda dengan TUHAN. Kelanjutan lagu itu berkata, ”Apa yang dicari TUHAN? SAYA! Apa yang dicari TUHAN? SAYA! Apa yang dicari TUHAN siang, malam, pagi, petang? SAYA, SAYA, SAYA, orang yang berdosa!” Inilah fakta yang terjadi dalam Lukas 19:1-10, yaitu bahwa TUHAN mencari, menerima, dan memberikan diri-Nya kepada siapa saja. Itu sebabnya TUHAN YESUS menerima Zakheus. Siapakah dia?

Zakheus adalah Gayusnya zaman itu. Ia adalah seorang kepala pemungut cukai sekaligus koruptor. Ia membawahi beberapa pemungut cukai/penagih pajak dan bisa semaunya menentukan jumlah pungutan pajak. Itu sebabnya walaupun kaya-raya secara materi, namun dibenci dan dipandang sangat hina oleh masyarakat, apalagi oleh pemimpin agama Yahudi. Mereka dianggap sebagai para pengkhianat, yang bekerja sama dengan penjajah Romawi untuk mencekik perekonomian rakyat sebangsa-setanah airnya demi memperkaya diri sendiri. Itu sebabnya Zakheus tidak benar-benar bahagia dengan gelimang harta yang ada padanya. Dengan kekayaannya, semua bisa dibeli, dimiliki, dan dinikmati. Namun, tetap ada ruang kosong dalam dirinya yang ga pernah bisa diisi atau dipuaskan oleh apa yang dimilikinya. Itulah kebutuhan akan kasih sejati, pengampunan, dan penerimaan.

Alasan tersebut yang membuat ia nampak begitu antusias untuk bertemu TUHAN YESUS, yaitu seorang rabi (guru) agung yang berbeda dengan para pemuka agama yang selama ini dikenalnya. Para rabi atau pemuka agama biasanya sangat benci pada para pemungut cukai, pelacur, dan pendosa. Akan tetapi sebaliknya, YESUS justru tersohor sebagai sahabat orang berdosa (Luk 7:34). Dan benarlah seperti kata orang. Ketika bertemu secara langsung, YESUS menatap matanya dengan lembut, memanggilnya dengan hangat, dan mengulurkan tangan persahabatan untuk memintanya turun dari atas pohon ara. Tidak hanya itu saja, YESUS bahkan menawarkan diri untuk mampir ke rumahnya yang dipandang orang sebagai rumah nista karena dianggap sebagai hasil dari memeras rakyat sebangsanya sendiri.

Wah luar biasa sekali! Setelah sebelumnya YESUS menyembuhkan dan bergaul dengan seorang buta yang miskin dan papa, kini IA menerima agen penjajah yang kaya raya dan serakah. Bahkan salah satu murid-Nya yang bernama Matius/Lewi juga seprofesi dengan Zakheus. Makanya, buat Zakheus ini adalah sebuah anugerah bahwa YESUS mau mampir ke rumahnya untuk makan dan bercakap-cakap layaknya seorang sahabat. Menurut tradisi waktu itu, datang ke rumah dan apalagi makan bersama merupakan simbol relasi atau persekutuan yang sangat dalam. Itu sebabnya Zakheus sangat berbahagia menerima YESUS di rumahnya. Kerinduannya ga bertepuk sebelah tangan. Kasih YESUS yang hangat melelehkan kebekuan di hatinya akibat kebencian mendalam dari masyarakat. Kehadiran YESUS ga hanya memenuhi rumahnya dengan sukacita, namun juga mengisi relung hatinya yang hampa itu dengan penerimaan dan pengampunan.

Bukankah hal yang sama juga terjadi pada kita? Apapun kondisi kita saat ini, kaya atau miskin, sehat atau cacat, pejabat atau penjahat, kita semua lahir dengan telanjang dan mewarisi dosa. Dengan kondisi demikian, akhir hidup kita jelas yaitu menuju maut bersama dengan kehancuran dunia ini. Meskipun demikian, TUHAN yang suci itu ga pernah menolak kita. Ia sudah, sedang, dan tetap akan menawarkan anugerah ALLAH kepada kita dan semua orang yang membutuhkannya. Ia sungguh-sungguh ga peduli siapa kita, bagaimana rupa kita, seberapa banyak harta kita, sehebat dan sepandai apa kita. Dia selalu akan menyongsong dan menyambut kita dengan cinta-Nya yang tak berbatas dan tak bersyarat. Dia selalu siap tiap detik, tiap waktu mendengar keluh kesah dan segala teriakan minta tolong kita.

Dia ga hanya menjadi TUHAN, melainkan juga BAPA, Sahabat, Kekasih. Sungguh lengkap bukan? Saat manusia kehilangan kesabarannya, Ia menyediakan belas- kasihan dan pengampunan tak terhingga. Saat orang-orang yang kita kasihi menyeleweng dan meninggalkan kita, Ia selalu setia. Saat kita salah mengerti akan rancangan-rancanganNYA yang indah, Ia ga berhenti mendatangkan kebaikan. Saat tantangan dan kesulitan hidup menekan dan menimpakan beban, Ia menyediakan pertolongan, penghiburan, dan kekuatan. Saat kita kehilangan kepercayaan diri dan diliputi ketakutan, Ia menghibur, memancarkan sukacita dan damai sejahtera sejati. Saat kita digoyahkan oleh kekuatiran akibat misteriusnya masa depan, Ia mengikat kita dengan janji-janji yang pasti tergenapi.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita sungguh-sungguh mengalami kebahagiaan yang sama dengan yang Zakheus rasa? Ataukah saking terbiasanya dengan anugerah itu sampai rasanya biasa-biasa saja? Ga lagi istimewa. Mari coba mengingat kembali, kapan terakhir kali kita sungguh-sungguh bersyukur karena anugerah ALLAH yang melimpah di tengah penderitaan sekalipun? Kapan terakhir kali kita bersyukur untuk hal-hal kecil yang terjadi dan TUHAN percayakan? Kapan terakhir kali kita sungguh-sungguh menangis haru karena dosa kita luar dan dalam telah diampuni? Kapan terakhir kali kita meluap-luap dengan semangat untuk melayani dan menempa diri dengan disiplin-disiplin rohani karena telah dianugerahi hidup yang benar-benar hidup sementara Ia sendiri mati menggantikan kita? Kapan terakhir kali kita berteriak seperti Satria Baja Hitam, ”Berubah! Aku mau berubah!” ketika tahu TUHAN sudah menerima pertobatan kita?

Kalau masih sulit untuk mengingatnya, mari kita bercermin dari Zakheus yang mengalami THE POWER OF CHANGE, sebuah perubahan fokus hidup yang radikal ketika mengalami perjumpaan dengan TUHAN. Pertama-tama adalah ketika ia mendengar kabar bahwa YESUS akan melewati kotanya yaitu kota Yerikho. Ia ga pernah melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bagaimana penampilan YESUS secara fisik. Ia ga pernah mengalami kebaikan-Nya secara langsung karena mereka belum pernah bertatap muka sebelumnya. Ia hanya mendengar dari kata orang. Saya ulangi, ia mendengar dari kata orang alias dari GOSSIP. Yah tahu sendirilah kalo gossip itu digosok-gosok makin sip. Bisa saja apa yang ia dengar tentang YESUS itu adalah berita yang ga benar bukan?

Iiman yang berbaur dengan rasa penasaran ternyata memberi dorongan yang kuat untuk bertemu dengan YESUS. Zakheus mau bertemu TUHAN YESUS? Itu ga mudah. Sebab sulit dibayangkan seorang kepala pemungut cukai yang setara dengan kepala kantor pajak mau mengorbankan reputasi dan harga dirinya untuk capek-capek ketemu orang di jalan. Badannya pendek lagi. Wah, kesusahannya jadi berkali lipat. Belum lagi resiko bertemu dengan orang-orang yang membencinya. Sungguh-sungguh ga mudah.

Akan tetapi, ia mengambil resiko itu. Mungkin sambil berjalan menuju kerumunan orang banyak yang menanti Yesus, ia harus menutupi mukanya agar tidak bertatapan mata dengan para pembencinya. Mungkin ia harus berjinjit dan mendongakkan kepala berkali-kali untuk melihat keberadaan Yesus. Alangkah capeknya. Mungkin ia harus menyelipkan diri di antara tubuh orang-orang yang berdesak-desakan. Senggol kanan, senggol kiri, terhimpit di tengah kerumunan orang, berkali-kali hampir jatuh, atau mungkin juga beresiko terinjak-injak orang lain seperti korban uang zakat di Pasuruan. Namun, ia tetap bertekat sambil bermodal nekat. Memanjat pohon pun dilakoni asal dapat melihat dan bertemu dengan Sang GURU AGUNG. Pokoknya, keberadaan YESUS benar-benar mengalihkan dunianya. Dia ga peduli akan dirinya sendiri lagi. Fokusnya pada waktu itu bukan dirinya. Kalo kornea matanya dibedah mungkin hanya ada bayangan YESUS yang tak sungguh-sungguh dikenalnya.

Puncaknya adalah ketika peristiwa yang tak akan pernah dapat dilupakannya itu terjadi. Yesus menyapanya, memintanya turun, dan berkata akan mampir ke rumahnya. Saat TUHAN YESUS tak menghiraukan sungut-sungut orang yang mengatakan bahwa IA menumpang di rumah orang berdosa adalah titik awal pertobatannya yang radikal dan menyeluruh. Sebagai respons terhadap anugerah ALLAH yang menghapus dosanya, Zakheus melepaskan setengah atau 50% dari kekayaannya untuk dipersembahkan bagi orang-orang miskin. Bukan hanya itu saja, dia berkomitmen penuh. Seandainya ada harta kekayaan yang diperolehnya dengan cara memeras orang lain, maka akan dikembalikannya empat kali lipat. Itu artinya dia bersedia mengembalikan harta hasil korupsi sesuai dengan hukum mata ganti mata ditambah kompensasi 300%.

Di sinilah kita melihat suatu makna pertobatan yang sangat dalam. Ia melepaskan kepemilikan yang merupakan kenyamanannya untuk ditukar dengan YESUS. Dengan kata lain, harga keberadaan dan perjumpaan dengan YESUS lebih tinggi dari segala harta dan kepunyaannya. Pengampunan dosa lebih penting dari segala harta. Bukankah ini esensi atau inti dari pertobatan itu sendiri yaitu meninggalkan dosa dan berpaling kepada TUHAN? Sebab itulah Yesus mengatakan: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. YESUS memulihkan statusnya dari pendosa kepada penerima janji berkat ALLAH atas Abraham dan keturunannya. Itu artinya, Zakheus, si sampah masyarakat telah diubahkan menjadi saluran berkat seperti Abraham, Bapa leluhurnya, yang diberkati untuk memberkati. Ternyata dampak dari pertobatan Zakheus ini luar biasa. Pertama-tama kepada dia secara personal, kepada seisi rumahnya, selanjutnya terjadi pemulihan hubungan terhadap sesamanya.

Bercermin dari kisah Zakheus, kita melihat bahwa perjumpaan dengan TUHAN YESUS akan membuahkan pertobatan di mana terjadi perubahan pilihan terhadap fokus hidup. Artinya, ada perubahan cara pandang terhadap sesuatu yang dianggap bernilai untuk dimiliki yaitu dari segala milik kita kepada TUHAN, Sang Empunya yang sejati dari semuanya itu. Bukankah firman Tuhan berkata bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah milik-Nya? Oleh karena itu, Zakheus membuat sebuah keputusan yang bijak yaitu memilih TUHAN yang memberi arti pada hidupnya.

Hal yang sama juga seharusnya terjadi pada kita yang mengaku telah mengalami perjumpaan dengan TUHAN. Ketika kita mengklaim TUHAN YESUS sebagai satu-satunya Juru Selamat pribadi kita maka akan terjadi pertobatan sejati yang mengarahkan kita untuk memilih di antara dua pilihan yaitu diri sendiri atau TUHAN. Mana yang kita pilih sepenuhnya adalah hak bebas kita. Bahkan TUHAN pun tak akan memaksakan kehendak. Pilihan yang tidak mudah bukan, sementara kita hidup dalam tubuh dan daging ini? Saya sendiri jatuh-bangun dalam hal ini.

Saya jadi ingat pengalaman empat tahun yang lalu. Saya pernah ditipu oleh seseorang yang mengaku sebagai wakil dari sebuah perusahaan telepon selular “Fren.” Lewat telepon, Bapak itu mengatakan bahwa saya telah memenangkan hadiah sebesar 15 juta rupiah. Dia juga menanyakan kepada saya apakah saya memiliki rekening di Bank karena dia akan segera mentransfer uang tersebut. Saya yang biasanya tidak pernah percaya atau tertarik dengan yang begituan, jadi terpikat juga dengan uang 15 juta. Apalagi waktu itu papa saya baru meninggal dan sebagai anak sulung, saya merasa bertanggung jawab untuk membantu ekonomi keluarga. Uang 15 juta tentunya lumayan bukan?

Akhirnya saya memberanikan diri meminta izin pada ibu asrama. Beliau mengijinkan, tapi mengingatkan saya untuk berhati-hati terhadap penipuan. Saya sadar betul kenyataan mengenai maraknya penipuan berkedok pemberian hadiah, namun rasa penasaran dan ambisi untuk menerima 15 juta telah membutakan saya. Singkatnya, saya memang ditipu. Saya dituntun untuk mentransfer uang simpanan saya. Mulanya saya curiga dan agak meragukan Bapak itu, namun rasa penasaran saya jauh lebih besar. Akhir ceritanya sudah bisa ditebak. Uang saya hangus, impian dapat hadiah pun pupus.

Perbuatan penipu itu memang jahat. Akan tetapi, dia berhasil karena saya mengizinkan dia untuk menipu saya. Kalau diteliti lebih dalam lagi, saya berhasil ditipunya karena hati saya dikuasai oleh uang 15 juta. Uang 15 juta itu telah membuat saya meminggirkan Tuhan sehingga lebih memilih cara yang mudah untuk mendapatkannya daripada berharap pada Tuhan. Dengan kata lain, saya menukar TUHAN untuk 15 juta. Hikz... sedihnya TUHAN.

Lucunya, saya pernah mendapat telepon yang serupa. Kali ini mengaku dari perusahaan telkomsel. Suara seorang Bapak di seberang sana mengatakan bahwa saya memenangkan undian ke 7 Telkomsel Point dan berhak menerima uang sebesar Rp. 10.500.000,- dan pulsa senilai Rp. 500.000,- Tak jauh beda, Bapak itu juga menanyakan rekening saya. Kali ini saya ga tertarik sama sekali. Bukan saja karena sudah pengalaman ditipu, tetapi juga saya telah belajar untuk memilih yang benar.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya belajar satu hal bahwa musuh kita yang terbesar bukanlah iblis. Musuh yang paling berbahaya ternyata terletak di dalam diri kita sendiri, di dalam pusat keberadaan kita. Dari dalam hati inilah, kita membuka atau menutup pintu—baik kepada Allah, iblis, maupun pada kenikmatan dunia. Apakah anda punya pengalaman yang serupa namun tak sama dengan saya? Apakah anda memiliki bidang-bidang kehidupan yang berpusat pada diri sendiri sehingga tetap berpegang erat pada dosa, cinta pada dunia, tidak mau melepaskan kebiasaan-kebiasaan buruk, lebih mengikuti hawa nafsu daripada mengejar hal-hal rohani, dan mencari keuntungan bagi diri sendiri, hitung-hitungan dengan TUHAN.

Itu semua adalah cerminan hati kita yang masih belum sepenuhnya diserahkan kepada TUHAN. Memang perubahan fokus hidup ini bukanlah sesuatu yang instant, namun berbicara mengenai proses. Proses yang ga mudah memang karena membuat kita membayar harga dari pilihan tersebut. Namun saat kita ada dalam dilema antara dua pilihan tersebut, mari mengingat kisah Zakheus. Kisah yang membuat kita menghayati kembali anugerah TUHAN yang besar, yang telah memulihkan status kita dari pendosa menjadi anak RAJA. Dan sebagai pertimbangan dalam memilih sekaligus sebagai penutup, ada sebuah cerita dari masyarakat Tiongkok kuno.

Konon ada seorang Raja yang hendak memilih penggantinya dari antara ketiga puteranya. Untuk itu ketiga pangeran diminta untuk memilih satu dari tiga peti yang ia sediakan. Si Sulung pilih peti yg besar dan kuat, berlapis emas, dan bertuliskan kekuasaan. Ketika dibuka isinya darah. Bukankah akhir atau inti dari kekuasaan biasanya adalah pertumpahan darah? Putera kedua memilih kotak yang lebih kecil, tetapi amat indah dan berhiaskan permata. Di atas peti itu bertuliskan kekayaan dan kemuliaan. Dia begitu senang, namun kemudian terkejut karena setelah dibuka isinya adalah abu dan tanah. Itulah akhir dari orang yg hanya mengejar kekayaan dan kemuliaan, menjadi abu dan tanah bersama dengan harta dan kebanggaannya. Si Bungsu memilih sebuah peti yang tampak buruk karena terbuat dari lempung. Peti itu bertuliskan kata TUHAN atau THIEN. Ketika dibuka, isinya ternyata sebuah tulisan sutera yang berbunyi keabadian. Berdasarkan pilihan tersebut, sang raja memilih pangeran bungsu untuk melanjutkan tahtanya karena hanya dia satu-satunya yang tidak memilih kefanaan dan kehancuran.

Bukankah kita pun adalah anak-anak Raja, yaitu para pewaris kerajaan ALLAH? Saat ini, kita sedang diperhadapkan dengan peti-peti yang sama. Manakah pilihan kita? Apakah kita akan menggenggam segala yang kita miliki sebagai sumber kenyamanan kita? Ataukah kita akan menggenggam Sang Sumber dari segala yang kita miliki itu dan meletakkan kenyamanan kita hanya kepada-Nya sebagai respons dari pertobatan kita? Manakah yang akan kita anggap lebih bernilai?

Yang jelas ketika kita memilih TUHAN, kita telah menerima janji-janji dalam firman-Nya.

Maleakhi 3:10b ... firman TUHAN semesta alam, apakah AKU tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu kerajaan ALLAH dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Filipi 4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Dan terakhir marilah senantiasa berdoa, "Tuhan, ajar kami melihat kepemilikan dengan benar. Amin."

Sabtu, 29 Mei 2010

KEGIGIHAN (Roma 8:28)


Ada sebuah kisah inspiratif dari seorang pemuda bernama Terry Fox. Pernah kenal nama ini? Sejujurnya, sebelum ini saya juga tidak mengenal siapa dia. Namun, tanpa sengaja saya pernah melihatnya di sebuah blog dalam wujud sebuah patung memorial yang di letakkan di beberapa tempat di Kanada seperti di Beacon Hill Park Victoria, di Ottawa; di Thunder Bay yaitu di atas Trans Canada Highway; dan di Kampus Universitas Simon Fraser.

Bukankah biasanya hanya pahlawan atau orang penting yang akan dibuat patung memorialnya? Lalu siapakah Terry Fox ini sehingga patungnya di letakkan di beberapa tempat publik Kanada? Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari pria muda yang bernama lengkap Terrance Stanley Fox ini. Ia bukan seorang artis, bukan pengusaha, bukan politikus, dan bukan pula pejabat penting suatu negara. Ia hanyalah seorang mahasiswa kelahiran Winnipeg, Manitoba-Kanada, 28 Juli 1958, yang terpaksa mengubur cita-citanya karena menderita kanker tulang. Ya, kaki kanan Terry harus diamputasi sekitar enam inci (-/+ 15 cm) di atas lutut. Dalam kepedihannya, ia menyadari betapa dukungan masyarakat umum untuk penelitian kanker masih kurang. Dari perenungan itulah, Terry mendapatkan ide untuk melakukan aktivitas maraton yang disebutnya maraton pengharapan (marathon of hope) yang akan melintasi Kanada sejauh 5,000 mil (8000 km).

Keinginannya sempat ditentang banyak orang, termasuk ibunya, Betty Fox. Mungkin mereka berpikir, ”apa sih yang bisa dibuat oleh seorang pesakitan berkaki satu?” Ya, ia memang tidak punya kaki kanan. Namun, ia tidak meratapi dan mencari-cari kaki kanannya itu. Sebaliknya, ia memakai kaki kirinya--yang tersisa--dan dibantu dengan kaki palsu untuk memulai sebuah kebaikan. Terry tetap mewujudkan keinginannya sehingga Marathon of Hope pun dimulai pada 12 April 1980 dari St. John, Newfoundland. Terry Fox berlari tertatih-tatih melintasi jalan-jalan di Kanada dan perjuangannya ini pun menarik perhatian publik.

Akan tetapi ketika telah mencapai 5,373 km, yaitu mencapai Thunder Bay, Ontario; Terry tiba-tiba merasakan kesakitan yang amat sangat di dadanya. Ia lalu dilarikan ke rumah sakit. Ternyata, kanker sudah menyerang paru-parunya. Pada 28 Juni 1981, ia pun menghembuskan nafas terakhir di usia 22 tahun. Walaupun telah tiada, namun kegigihan, semangat, dan keberanian Terry akan selalu dikenang, dijadikan teladan bagi kaum muda dan bangsa Kanada. Untuk mengenang Terry, dibentuklah yayasan Terry Fox yang bergerak mengumpulkan dana guna menggalakkan penelitian kanker. Ini adalah sebuah bukti yang menunjukkan bahwa kegigihan mampu mengalahkan keterbatasan dan hambatan.

Semangat dan kegigihan yang sama seharusnya juga ada pada diri setiap orang percaya. Tidak boleh ada kata ”menyerah” dalam kamus hidup orang percaya karena selalu ada pengharapan baginya didalam Allah. Yess, Allah bukanlah Tuhan yang tidak bertanggung jawab, sebab Ia bukan Allah yang menciptakan manusia lalu begitu saja membiarkannya hidup sendirian, menumpang di dunia yang rusak karena dosa. Di dalam keagungan dan kemuliaan-Nya yang sangat jauh berbeda dengan manusia, Ia juga adalah Tuhan yang begitu dekat dengan ciptaan-Nya. Ini adalah sebuah pengajaran mendasar yang dipahami oleh Paulus dan yang kemudian ia ajarkan kepada jemaat di Roma. Ia berkata dalam Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Firman Tuhan tersebut dengan jelas mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu. Pernyataan “turut bekerja” dalam bahasa aslinya dapat diartikan sebagai teman kerja, kerja bersama, atau bisa berarti menolong. Sungguh indah sekali bukan mengetahui bahwa ternyata Allah memelihara segala sesuatu sehingga semuanya berjalan sesuai kehendak-Nya. Dengan kata lain, segala sesuatu berasal dari Allah, dikerjakan oleh Allah dan diperuntukkan untuk kemuliaan-Nya sendiri (Roma 11:36). Dengan demikian, masih adakah alasan untuk menyerah karena berbagai keterbatasan kita? Saya jadi ingat salah satu lagu Dmassive yang sedang populer saat ini, judulnya Jangan Menyerah. Dalam liriknya kira-kira disebutkan bahwa tak ada manusia yang terlahir sempurna dan terbebas dari yang namanya masalah.

Benar sekali, apapun kondisi keberadaan kita saat ini seperti sehat atau sakit, kaya atau miskin, sukses atau gagal, punya tubuh yang lengkap atau cacat... selalu ada sebuah realitas yang dinamakan keterbatasan; walau mungkin dalam derajad dan waktu realisasi yang berbeda. Keterbatasan akan selalu ada karena kita ini bukan Tuhan. Kita tidak kekal dan maha segalanya. Kenyataan ini tidak akan pernah bisa dihindari ataupun ditolak. Bukankah Musa yang adalah anak asuh Putri Firaun pernah menjadi seorang buron? Bukankah Daud yang adalah Raja termasyur pernah mengalami berbagai kesusahan berat? Bukankah Ayub yang sukses jasmani-rohani pernah kehilangan segala sesuatu yang dimilikinya? Bukankah di akhir hayatnya Simson yang kuat pernah ditipu dan dipermainkan oleh para musuhnya? Dan bahkan Yesus sendiri yang adalah Allah pernah mati di kayu salib.

Oleh karena itu, keterbatasan tidak bisa menjadi alasan bagi kita untuk menyerah kalah. Apalagi kita bukan sedang mengarahkan kemudi hidup ini sendirian; melainkan ada Allah yang menolong, menyertai, dan bahkan memegang kendali sepenuhnya. Dengan demikian, menyerah sama dengan memandang rendah Allah dan rencana-Nya, sehingga pilihan yang tepat seharusnya adalah mensyukuri hidup kita apapun adanya, menjalaninya dengan maksimal, dan tetap percaya bahwa Allah selalu turut bekerja dalam segala sesuatu. Inilah yang akan membuat kita menjadi pribadi yang gigih atau pantang menyerah.

Yang jadi masalah sekarang adalah bagaimana jika realitas interfensi Allah yang seharusnya indah itu ternyata justru nampak sebaliknya? Adakah yang menganggap bencana, kematian, kerugian, kegagalan, kehilangan, dan berbagai penderitaan lain sebagai suatu berkat? Normalnya, setiap orang akan memandangnya sebagai hambatan bukan?

Akan tetapi tunggu dulu! Paulus tidak hanya berhenti sampai pada frasa yang telah kita bahas tadi. Ia menyebutkan bahwa, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk (mendatangkan) kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Kata segala sesuatu di sana tentu saja mencakup apa saja yang dipandang tidak menyenangkan, yang sulit dan yang pahit. Artinya, di dalam segala sesuatu yang dipandang negatif itu sesungguhnya ada maksud baik, yang sering kali tidak mudah untuk dimengerti ataupun dipahami. Namun, inilah janji yang berasal dari Allah yang Maha Tahu dan Maha Kuasa. Sebuah janji yang penuh dengan pengharapan dan yang sebenarnya dapat memperingan langkah hidup kita.

Berkaitan dengan itu, saya ingin menyaksikan pergumulan saya pribadi. Namun sebelumnya saya ingin bertanya, kira-kira apa yang ditakutkan atau dikuatirkan oleh seorang pembicara atau pengkhotbah di hadapan audience-nya? Ketakutan terbesar biasanya berkaitan dengan opini publik. Inilah yang terjadi pada saya ketika menjadi pembicara dalam sebuah acara, di mana setelah acara itu selesai kemudian dibagikan lembar evaluasi pelayanan yang sudah dijalani.

Waktu itu, saya diberi tugas untuk menyampaikan sebuah topik yang berkaitan dengan sejarah misi baik di dunia maupun di Indonesia. Saya ulangi, topiknya adalah sejarah. Sejarah biasanya identik dengan kata membosankan bukan? Makanya, saya berusaha sebaik-baiknya untuk menguasai materi, membawakan dengan penuh semangat, bahkan sampai dibela-belain pakai baju cerah supaya audience tidak bosan dan mengantuk. Akan tetapi toh, tetap saja banyak yang menguap dan merasa bosan. Saya saksikan bahwa rasanya ga enak sekali ketika melihat ada yang menguap atau tertidur sementara kita berbicara di depan. Saya sempat merasa kecewa dan berkata pada diri saya sendiri, ”Ve, kayanya kamu ga cocok jadi pembicara atau pengkhotbah. Kamu udah gagal total. Mending kamu jadi penulis atau orang yang bekerja di balik layar saja. Kamu kelihatannya bukan tipe seorang speaker deh.”

Jika saat ini anda juga sedang mengalami hal yang sama dengan saya, maka firman Tuhan ini mengingatkan bahwa di dalam kegagalan pun ada kebaikan asal kita tidak berfokus pada kegagalan itu. Sebaliknya, kita harus berfokus pada kebaikan yang sudah, sedang, dan akan Allah rancangkan bagi kita yang mengasihi Dia. Saya pribadi terus-menerus diingatkan oleh ayat ini bahwa kegagalan ternyata bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan dapat menjadikan atau membentuk saudara dan saya menjadi seorang expert di dalam sebuah proses tentunya. Ya, proses jangka panjang yang abadi itu terlalu indah dan berharga untuk dilewatkan hanya gara-gara kegagalan sementara. Itu artinya, selama masih hidup kita harus terus berjuang. Akan selalu ada harapan bagi kita karena Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Akan tetapi, firman ini tidak bermaksud untuk membuat kita menjadi keras kepala sehingga melupakan atau mengabaikan keterbatasan kita, lalu menjadi orang yang sombong. Penekanannya tetap pada kehendak Allah yang sempurna itu sendiri. Jika Allah menghendakinya maka perjuangan kita akan berhasil dengan pertolongan-Nya. Dan jika merasa bingung bagaimana bisa mengetahui kapan harus terus berjuang dan kapan harus berserah kepada Allah--bukan menyerah--mari panjatkan sebuah doa yang disebut sebagai The Serenity Prayer atau Doa Kedamaian Hati,

God, grant me the serenity
To accept the things I can not change,
The courage to change the things I can,
And the wisdom to know the difference

Ya Tuhan, berikanlah aku kedamaian hati
Untuk menerima keadaan apapun
yang tak mungkin kuubah,
keberanian untuk mengubah apapun yang dapat kuubah,
serta karuniakanlah hikmat untuk membedakan keduanya. Amin

Kamis, 26 November 2009

LABORING WITH GOD IN LOVE


Baca: Wahyu 3:7-11

Apakah arti sebuah pujian bagi kita, manusia? Ada yang secara rohani menjawab: “Ah, ga perlu itu. Yang patut dipuji cuma Tuhan saja.” Bukankah jawaban ini merupakan sebuah pernyataan kerendahan hati? Namun kalau boleh jujur, siapa sih yang tidak senang mendapatkan pujian?

Baru-baru ini saya 2X menonton film I not stupid Too 2, buatan singapura, yang saya persiapkan untuk ditonton oleh anak-anak Tunas Remaja. Film ini menyadarkan saya betapa pentingnya arti sebuah pujian bagi seseorang. Selain menunjukkan penghargaan terhadap keberadaan seseorang, pujian ternyata juga dapat menjadi penambah semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik di kemudian hari. Tak heran film ini diawali dengan sebuah pertanyaan refleksif: “Kapan terakhir anda memuji orang?”

Bagi saya, materi yang diangkat dalam film ini cukup menarik dan menggelitik, karena bukankah pujian dan ungkapan-ungkapan positif sudah mulai jarang hadir dalam kehidupan kita? Kalaupun ada, sering kali itu adalah sebuah basa-basi belaka karena disebutkan bahwa ciri kental jaman post-modern (pasca modern) adalah semangat persaingan. Tak heran kalau tidak banyak orang yang bisa turut berbahagia atas kesuksesan orang lain.

Alasan lain yang cukup dominan mengapa orang jarang memuji adalah ketidakmampuan kita melihat apa yang orang lain lakukan sebagai sesuatu yang baik atau istimewa. Ternyata semua itu ada kaitannya dengan konstruksi sosial yang mempengaruhi cara pandang sebagian besar orang terhadap apa yang dianggap baik atau istimewa—termasuk di dalam gereja Tuhan.

Contohnya: Bukankah pelayan-pelayan mimbar yang mempesona mata akan lebih mendapat penghargaan daripada pekerja-pekerja belakang layar yang tidak kasat mata alias tidak kelihatan orangnya? Bukankah badan Pengurus kemajelisan yang menduduki kursi kekuasaan akan lebih mendapat penghormatan dari pada Barisan Petugas Kebersihan yang memanggul sapu, ember, dan alat pel? Dan bukankah Para Pendeta kenamaan yang fasih lidah atau ahli dalam bidangnya, dan orang-orang berduit akan memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding para penginjil atau kaum awam yang melakukan pelayanan serabutan?

Fakta tersebut meneguhkan sebuah ungkapan yang mengatakan “Dunia melihat apa yang kita lakukan.” Tak heran jika ada jemaat yang mengatakan bahwa pelayanan adalah tugas hamba Tuhan, majelis, atau orang-orang yang berkarunia melayani sehingga tidak semua jemaat mau melayani dan maunya menjadi jemaat biasa yang tenang-tenang duduk di bangku gereja, menikmati ibadah, pulang, lalu selesailah sudah.

Sebaliknya, ada juga yang maunya pelayanan terus sampai lupa waktu, lupa belajar, lupa bekerja, dan yang lebih parah lagi adalah lupa pada keluarganya. Pertanyaannya adalah apakah yang sedang kita kejar? Pujian manusia atau pujian Allah? Dalam 1Tesalonika 2:9, Paulus mengatakan bahwa kita hendaknya tidak menyukakan manusia; melainkan menyukakan Tuhan yang menguji hati kita.

Saat ini kita akan mencari kehendak Tuhan bagi gereja-Nya dengan melihat lebih dalam pada Surat kepada Jemaat Filadelfia yang tertulis dalam Wahyu 3:7-13. Ya, kita akan bercermin dari Jemaat Filadelfia, yang merupakan salah satu dari dua jemaat yang di puji oleh Tuhan, yaitu Sang Penulis Surat yang di ay. 7 digambarkan sebagai “Yang kudus dan yang berkuasa.”

Pertanyaannya sekarang adalah apakah yang membuat Tuhan Yesus memuji Jemaat Filadelfia dan bagaimanakah gereja-gereja pada masa kini dapat mengalami hal yang sama? Apakah karena memiliki gedung yang megah dan sangat memadai? Apakah karena anggotanya berjumlah ribuan? Apakah karena kas gerejanya tidak pernah defisit? Atau karena memiliki banyak kegiatan dan telah sukses melaksanakan, mewujudkan, serta merealisasikan program-program pelayanannya?

Bukan, bukan itu semua; melainkan karena kesetiaan mereka. Itu sebabnya Jemaat Filadelfia dijuluki sebagai The Faithfull Church. Firman Tuhan menunjukkan setidaknya ada 2 bukti kesetiaan mereka sehingga dianugerahi pujian dari Tuhan. Kita dapat melihat keduanya secara paralel di ay. 8 dan 10.

Apakah kedua bukti kesetiaan mereka dan yang juga dituntut Tuhan untuk ada pada gerejanya pada masa sekarang ini?

1. Meraih kesempatan untuk bekerja bersama Tuhan dalam pelayanan.
Ada ungkapan yang mengatakan: “Dunia melihat apa yang kita lakukan. Namun, Allah melihat mengapa kita melakukannya.” Ungkapan tersebut menunjukkan perbedaan yang kontras antara penilaian manusia yang terbatas dengan Allah yang maha tahu. Manusia menilai apa yang kelihatan, sedangkan Allah jauh lebih dalam dari itu. Ia menilai hati seseorang. Mengetahui hal itu seharusnya tidak ada alasan bagi setiap anak Tuhan untuk menolak kesempatan bekerja bersama Tuhan dalam pelayanan. Konsep inilah yang jemaat Filadelfia amini dan imani sehingga Tuhan Yesus memuji: “Engkau menuruti Firman-Ku...,” sampai dua kali. Apa maksud pujian ini?

Di antara tujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu, Filadelfia adalah yang kota termuda, yang dibangun paling kemudian oleh Raja Attalus II, kurang lebih 150 tahun sebelum Kristus. Bukan karena kebetulan atau asal-asalan, Filadelfia dibangun tepat di titik silang perbatasan dengan tiga wilayah di sekitarnya—Misia, Lidia, dan Frigia. Attalus punya tujuan yaitu agar Filadelfia menjadi ujung tombak penyebaran atau penanaman budaya Yunani ke wilayah-wilayah sekitarnya, khususnya daerah-daerah Lidia dan Frigia.

Namun, Tuhan beranugerah pada kota ini melalui orang-orang percaya yang ada di dalamnya. Tuhan Yesus berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun.” Apakah yang dimaksud dengan firman Tuhan ini? Apakah karena mereka menuruti firman maka Tuhan membukakan pintu atau karena Tuhan membukakan pintu maka mereka menuruti firman? Rupanya, konsep yang benar adalah yang kedua. Pintu dibukakan Tuhan bukan sebagai upah atas ketaatan dan kesetiaan; melainkan sebagai sebuah kesempatan untuk membuktikan kesetiaan mereka kepada Tuhan. Itulah arti dari terbukanya pintu, yaitu terbukanya kesempatan. Kesempatan untuk apa?

Ada 2 penafsiran:

a)Kesempatan untuk menerima keselamatan. Dosa sebenarnya membuat kita tidak bisa memilih selain maut. Akan tetapi, karena kasih-Nya, Tuhan membukakan pintu keselamatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Tidak sampai di situ saja, Ia membuka kesempatan yang kedua yaitu...

b)Kesempatan untuk melayani. Penafsiran yang kedua ini sangat ditekankan oleh para ahli. Karena Filadelfia pernah sukses menjalankan misi Yunanisasi, maka jemaat di sana diberi mandat untuk menjalankan misi Kristenisasi—dalam arti membawa orang lain untuk percaya kepada Kristus. Jadi, mereka masuk melalui pintu keselamatan dan keluar melalui pintu pelayanan. Artinya kasih yang mereka terima mendorong untuk memberi pelayanan kepada sesama sebagai bentuk kasih kepada Tuhan. Laboring with God in love.

Itu adalah kesempatan yang sangat istimewa bagi sebuah jemaat yang dikatakan di ayat 8 sebagai “yang kekuatannya tidak seberapa.” Ya... secara obyektif dan kuantitatif, kekuatan fisik mereka memang tak seberapa. Sebagai kota yang paling muda, usianya juga tak seberapa. Bagaikan anak balita, mereka masih amat lemah dan rentan. Sebagai kaum minoritas di antara dominasi orang kafir, jumlah mereka tidak seberapa. Mereka bahkan bukan orang-orang penting dan tidak punya kekuatan suara secara politik.

Tuhan tahu itu. Ia juga bisa melihat apa yang dianggap orang sebagai sebuah kelemahan. Namun, pengetahuan Tuhan jauh lebih lengkap karena Ia melihat bahwa di balik kelemahan itu ada kekuatan yaitu dalam ketaatan dan kesetiaan. Ya, mereka taat dan setia meraih kesempatan untuk bekerja sama dengan Tuhan dalam pelayanan, secara khusus dalam misi Pekabaran Injil bagi orang-orang yang belum mengenal-Nya. Bukan karena mereka mampu atau telah berprestasi, melainkan karena kesetiaan dalam kelemahan itulah yang justru membuat kekuatan Allah menjadi semakin nyata, lalu bekerja seluas-luasnya di dalam dan melalui mereka. Pada saat itulah, pintu kesempatan yang sudah dibuka tak akan dapat ditutup lagi. Sekali Tuhan bekerja, tak ada satupun kekuatan yang akan dapat menghalanginya. Inilah hakekat pelayanan, yaitu bekerja bersama Tuhan. Tuhan yang memberi kesempatan, Tuhan jugalah yang bekerja. Manusia hanyalah alat sehingga hanya Tuhanlah yang menjadi fokus utamanya.

Ketika memasuki pelayanan sulung sebagai hamba Tuhan penuh waktu, sejujurnya, saya memiliki berbagai macam ketakutan atau kekuatiran. Saya bergabung dalam sebuah tim pelayanan jemaat dengan gedung gereja yang besar dan megah, ditambah lagi ada hamba-hamba Tuhan yang saya kagumi di dalamnya.

Sebelum memutuskan untuk bergabung, saya selalu bertanya-tanya pada diri sendiri: “Mampukah saya melayani dengan berbagai kelemahan yang mendominasi diri?” Akan tetapi, firman ini berbicara secara pribadi kepada saya. Tuhan sudah membukakan pintu keselamatan. Tidak hanya itu saja, pintu pelayanan juga sudah dibukakan. Selama masih ada usia dan kekuatan, adakah alasan bagi saya untuk tidak masuk dan melewatinya? Apakah saya layak memakai kelemahan-kelemahan saya sebagai alasan untuk tidak melayani-Nya? Bukankah Tuhan yang bekerja dan saya hanya alatnya?

Saya mungkin bisa beralasan lagi: “Tuhan, saya takut gagal. Bagaimana pandangan jemaat nantinya? Apakah saya bisa jadi berkat kalau gagal?” Lalu hati saya yang diterangi oleh firman bertanya: “Siapakah yang menilai pekerjaanmu? Tuhan tahu pekerjaanmu. Ia tahu kekuatanmu tidak seberapa. Yang Ia kehendaki adalah kesetiaan untuk dipakai sebagai alat-Nya. Dan sebaliknya ketika merasa sukses, ingatlah bahwa Tuhanlah yang membuka pintu dan Ia sendiri yang bekerja sehingga tak sepatutnya manusia berbangga diri atau merasa penting. Tugas kita adalah tetap setia menjadi alat-Nya.”

Hal ini tidak hanya berlaku bagi saya, melainkan bagi setiap orang percaya. Ketika kita telah disentuh kasih Allah dalam pengorbanan Kristus dan kemudian berkomitmen mengikuti Dia. Itu adalah sebuah awal dimana kita berkomitmen untuk memasuki pintu keselamatan. Pintu ini adalah sebuah kesempatan yang berharga buat saudara dan saya. Akan tetapi, kita tidak bisa tinggal terus di dalamnya karena Tuhan masih membukakan satu pintu lagi yang harus dilewati yaitu pintu pelayanan. Mark Guy Pearce pernah dengan tegas menyatakan: “Jika iman seseorang tidak menyelamatkan diri keluar dari egoisme dan masuk ke dalam pelayanan; ia tetap tidak akan menyelamatkan diri keluar dari neraka.”

Frman Tuhan yang telah kita baca dan renungkan berkata: “Kepada jemaat ...; bukan kepada para pendeta, hamba Tuhan, majelis, atau orang-orang yang berkarunia. Bukan, saudara. Oleh karena itu, firman ini sekaligus menjadi sebuah panggilan untuk melayani kepada saudara-saudara yang sudah dan akan dibaptis, kepada semua jemaat, dan setiap orang percaya sebagai gereja-Nya. Selagi ada usia dan kekuatan, Tuhan menghendaki kita yang sudah diselamatkan untuk bergegas-gegas melalui pintu pelayanan dan menarik orang lain untuk memasuki pintu-pintu yang sama.

Marilah kita melayani dengan segenap keberadaan kita dan janganlah takut sebab tidak ada yang tidak bisa dipakai Tuhan. Tidak ada pelayanan yang besar atau kecil, penting atau tidak penting. Asal kita setia, maka Tuhan akan tersenyum dan berkata: “Engkau telah menuruti firman-Ku.”

Selain membuktikan kesetiaan dengan meraih kesempatan untuk bekerja bersama Tuhan dalam pelayanan, Tuhan juga menghendaki gereja untuk membuktikan kesetiaannya dengan jalan ...

2. Bertekun dalam iman di tengah tekanan.
Pdt. Eka Darmaputera pernah berkata, jika beliau ditanya roh apa yang kira-kira sekarang ini secara umum paling menguasai kita di dalam kehidupan pribadi kita? Roh apa yang sekarang ini paling menguasai negeri kita ini? Roh apa yang sekarang ini paling menguasai masyarakat kita, bangsa kita? Beliau akan menjawab roh ketakutan.
Ketakutan muncul karena adanya tekanan. Ketakutan yang demikian dapat membuat orang merasa tak berdaya, tak mampu, tak berani berbuat apa-apa... menyerah, kalah. Ketakutan juga seringkali membuahkan penyangkalan, pengkhianatan, kemurtadan.

Akan tetapi, kecenderungan demikian tidak berlaku pada jemaat Filadelfia. Tuhan menjumpai mereka tidak menyangkali nama-Nya dan tetap tekun menantikan Tuhan walaupun mereka hidup dalam tekanan. Walaupun tekanan yang dialami tidak seberat yang terjadi pada jemaat Smirna; akan tetapi ada indikasi bahwa eksistensi mereka juga sedang terancam.

1. Secara geografis, Filadelfia termasuk daerah yang rawan gempa. Pada tahun 17 pernah terjadi gempa bumi hebat yang menghancurluluhkan Sardis serta sepuluh kota lainnya. Namun Filadelfia tidak ikut-ikutan hancur. Meskipun luput, kota ini diserang gempa-gempa susulan yang datang dan pergi bertahun-tahun lamanya. Perasaan cemas dan was-was adalah makanan sehari-hari mereka. Hari ini bagian kota ini yang runtuh, esok hari bagian yang lain roboh. Banyak penduduk kota yang tidak berani kembali ke rumah mereka. Itu artinya gereja juga terancam kehancuran.

2. Keberadaan jemaah iblis yang disebutkan di ay. 9, yaitu golongan Yahudi yang sengaja menentang Kristus dan ajaran-Nya, serta berusaha mengacaukan jemaat.

3. Ancaman pencobaan yang di ay. 10 disebutkan akan datang atas seluruh dunia, termasuk kepada mereka yang ada di Filadelfia. Ancaman-ancaman tersebut ternyata tidak melumpuhkan jemaat Filadelfia, malahan membentuknya semakin kuat. Filadelfia lulus ujian iman dan justru berkembang menjadi sebuah kota yang amat besar di tengah-tengah tekanan. Sejarah juga mencatat bahwa ketika balatentara Kerajaan Turki menggilas habis seluruh Asia Kecil, hanya Filadelfia berhasil bertahan sebagai sebuah kota Yunani Kristen tanpa penyangkalan, pengkhianatan, atau kemurtadan. Sampai abad ke-14, kota Filadelfia masih berfungsi sebagai benteng kekristenan yang terakhir di Asia Kecil.

Dari sana kita melihat bahwa jemaat Filadelfia tidak hanya setia kepada berita firman Allah; melainkan juga setia kepada Oknum Kristus. Itu sebabnya, Tuhan Yesus mengikat Filadelfia dengan janji-janji indah.

Ay. 9 ada janji untuk memulihkan nama mereka. Para lawan akan dikalahkan dan menyadari bahwa Tuhan mengasihi mereka.

Ay. 10 ada janji perlindungan sehingga mereka tidak akan kalah oleh penderitaan dalam masa-masa sukar menjelang akhir jaman.

Ay. 12 ada janji untuk memberikan status dan jaminan, yaitu mengangkat mereka menjadi milik Allah, yaitu orang-orang yang dihormati (soko guru).

Selain perjanjian kudus, Tuhan Yesus juga memberikan nasihat kasih. Bukan teguran-teguran, melainkan nasihat atas nama kasih, yaitu untuk kebaikan mereka sendiri.

Ay. 11 ada nasihat untuk tetap bertekun dalam iman.

Ay. 12 ada nasihat untuk menjadi pemenang.

Ay. 13 ada nasihat untuk mendengar.

Pada bagian ini kita melihat bahwa jemaat filadelfia telah diikat oleh Tuhan dan mengikatkan diri kepada Tuhan dengan kesetiaan yang penuh kasih. Laboring with God in Love. Tidakkah ini merupakan sebuah sinergi, sebuah harmonisasi yang begitu indah? Bagai gayung bersambut. Mereka berjalan dan bekerja bersama Tuhan, tidak hanya dalam pelayanan; melainkan juga dalam ketekunan. Inilah yang menyukakan hati Tuhan dan menguatkan mereka, yaitu bahwa: mereka tidak sendiri. Ada Allah. Yang mereka lakukan adalah bersikap sebagai orang yang mempunyai Allah.

Ini adalah kebenaran yang sudah jelas, namun seringkali kita lupakan. Mari tidak hanya berpikir bahwa kita bisa saja lupa keberadaan Tuhan hanya di masa-masa yang genting saja. Jangan-jangan, kita justru menyangkali keberadaan-Nya dalam peristiwa-peristiwa sederhana dan yang dianggap biasa-biasa saja.

Saya pernah berulang kali mengalaminya. Salah satunya adalah ketika suatu kali saya menerima warta jemaat dan mendapati nama saya terjadwal untuk melayani pemberitaan firman di sebuah kebaktian umum. Saya tidak pernah mendapat jadwal itu sebelumnya dan tidak pernah mempersiapkan diri untuk khotbah mimbar karena merasa: “Ah tidak mungkin orang baru, tiba-tiba diberi pelayanan mimbar.” Itu sebabnya, saya langsung panik dan buru-buru ke Tata Usaha untuk mempertanyakan jadwal yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Karena kasihan, salah seorang petugas TU menawarkan untuk menukar jadwal dengan hamba Tuhan lainnya. Namun begitu saya membaca teks yang telah ditentukan, saya terkejut dan menjadi malu.

Dalam hal sekecil itu, kepanikan saya menunjukkan pada dunia bahwa tidak ada Allah. Sambil terus membaca ayat demi ayat, hati saya merasa semakin tidak tenang. Saya mendengar nurani saya berbicara dengan begitu jelas. Apakah Tuhan tidak ada ketika engkau mempersiapkan khotbah dalam waktu yang lebih singkat dari biasanya? Apakah Tuhan tidak ada ketika engkau yang tidak fasih lidah itu menyampaikannya firman-Nya di depan jemaat? Apakah Tuhan tidak bisa mengubah firman yang engkau sampaikan dengan sederhana itu menjadi perkataan-Nya sendiri di dalam hati setiap orang yang mendengarnya? Mengapa sebuah tantangan kecil saja dapat membuat engkau menyangkali keberadaan-Nya, melupakan kuasa-Nya, ... tidak setia. Ingatlah, hidup orang percaya adalah Laboring with God in Love (bekerja bersama Tuhan dalam kasih), bukan berjuang sendiri. Dia ada di dalam kita dan kita di dalam Dia.

Firman ini menjadi sebuah peringatan buat kita dan mempertanyakan, dalam hal apa saja kita seringkali tidak bersikap sebagai orang yang mempunyai Allah?
Apakah ketika kesusahan melanda, ketika tekanan hidup tak kunjung sirna, atau sebaliknya ketika sedang merenda bahagia? Who Am I in the crowd? And who am I, when I am alone? Tuhan sedang menunggu jawabannya. Ia sedang menanti kita untuk bersinergi dengan-Nya. Laboring with God in Love. Yang perlu kita lakukan adalah dengan setia berjalan dan bekerja bersama-Nya. Jika Ia yang membuka pintu, maka tak ada yang dapat menutupnya. Jika sudah tertutup, maka tak ada yang akan dapat membukanya. Penyesalan yang terlambat tak ada gunanya di sini. Oleh karena itu, selama masih ada hayat dikandung badan... mari kita buktikan kesetiaan kita dengan cara:

1. Meraih kesempatan untuk bekerja bersama Tuhan dalam pelayanan.

2. Bertekun dalam iman di tengah tekanan.

Mari terus mengingat bahwa kita tak sendiri. Jika kita taat dan setia, kita pun akan mewarisi janji-janji indah Tuhan bagi jemaat Filadelfia:

Tuhan akan memulihkan nama kita. Para lawan kita akan dikalahkan dan menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita.

Tuhan akan menjadi tempat perlindungan kita sehingga kita tidak akan kalah oleh penderitaan dalam masa-masa sukar menjelang akhir jaman.

Tuhan akan memberikan status dan jaminan, yaitu mengangkat kita menjadi milik Allah, yaitu orang-orang yang dihormati (soko guru) di bumi dan di surga.
Sebuah pertanyaan terakhir bagi kita semua: “Bersediakah kita menyambut ajakan-Nya?"

Jumat, 25 September 2009

Berpuasa Sebagai Gaya Hidup Orang Merdeka



Nast: Matius 9:14-17

Rubrik Fenomena dalam majalah Bahana ed. Juni 2008 vol. 206 menyebutkan ada dua gaya hidup yang berbenturan dengan iman Kristen, yaitu Hedonisme dan Konsumerisme. Hedonisme adalah budaya yang menyatakan bahwa kenikmatan pribadi merupakan nilai hidup tertinggi dan utama; sedangkan konsumerisme merupakan sikap hidup yang menikmati kesenangan. Mottonya: ”Lebih baik membeli daripada membuat sendiri, lebih suka mengonsumsi daripada memproduksi, hidup untuk makan dan bukan makan untuk hidup.”

Cocok sekali bukan? Kedua-duanya menekankan kenikmatan dan kesenangan dalam hidup. Padahal, iman Kristen yang dicetuskan dan diteladankan oleh Tuhan kita, YESUS KRISTUS dalam Matius 16:24 justru menyatakan yang sebaliknya: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”
Itu sebabnya dikatakan bahwa hidup manusia semakin lama semakin individualis, egois, dan materialistis sehingga disiplin-disiplin rohani yang mempertebal iman mulai ditinggalkan. Salah satu disiplin rohani klasik yang mulai ditinggalkan oleh orang Kristen adalah ”puasa” sehingga puasa lebih dikenal sebagai lambang spiritualitas dari agama lain.

Namun demikian, tidak semua orang Kristen meninggalkan puasa. Ada juga yang sangat rajin puasa untuk menghadapi serangan Hedonisme dan Konsumerisme. Akan tetapi, puasa yang dilakukan cenderung mengarah kepada dua ekstrem:

Pertama, puasa dilakukan sebagai ritual agama yang wajib karena menganggap tubuh, makanan, dan hal-hal jasmani itu jahat/sesuatu yang setara dengan dosa. Jadi, puasa adalah bagian dari komitmen untuk hidup menderita atau menyiksa diri (askese) agar roh dibebaskan dari hal-hal yang jahat tsb. Saya pikir, puasa yang demikian ini sangat tidak manusiawi. Bukankah tubuh kita adalah ciptaan Tuhan yang dikatakan-Nya ”sungguh amat baik” (Kejadian 1:31)? Dan siapakah kita sehingga berani mengatakan tubuh ini jahat/sesuatu yang setara dengan dosa?

Memang sejak kejatuhan manusia dalam dosa, tubuh ini telah menjadi budak dan jajahan dosa. Akan tetapi, bukankah Tuhan YESUS sudah menebusnya dengan tubuh dan darah-Nya sendiri di atas kayu salib? Ya, setiap orang yang percaya kepada-Nya menikmati hidup sebagai orang-orang tebusan yang merdeka. Alam ini bahkan diciptakan Tuhan untuk dikelola dan digunakan bagi hidup kita, sehingga menikmati makan dan minum adalah salah satu cara untuk menghargai dan mensyukuri tubuh yang sudah Tuhan bentuk sedemikian baiknya. Bagaimana dengan mereka yang punya sakit-sakit tertentu dan tidak bisa berpuasa? Apakah mereka akan masuk neraka karena tidak bisa puasa?

Kedua, puasa dilakukan supaya kelihatan rohani/saleh; supaya dipuji orang;
atau supaya doa-doa permohonan kita dikabulkan Tuhan; sehingga kalau tidak sedang bergumul, boro-boro puasa, ke gereja aja malas. Kalau demikian, apa bedanya puasa kita dengan puasa agama-agama lain? Sama saja, ga ada bedanya, yaitu puasa yang egois/berpusat pada diri sendiri. Kalau sudah demikian, kita bukan lagi orang merdeka karena kita sedang diperbudak oleh hawa nafsu kedagingan kita sendiri.

Jadi, puasa itu sebenarnya perlu dilakukan atau tidak sih? Kalau perlu bagaimana caranya? Apakah 40 hari 40 malam seperti Tuhan YESUS ataukah sebulan penuh? Sehari penuh atau setengah hari? Apakah selama puasa boleh minum air putih? Apakah boleh melakukan puasa lain, yang tidak berpantang makan dan minum? Misalnya: puasa rokok, puasa nonton TV/Bioskop, puasa mengakses internet, atau puasa makan daging (vegetarian). Apakah selama puasa kita harus selalu mengurung diri di kamar, berkumpul di gereja, atau boleh melakukan berbagai aktifitas pekerjaan yang lain?

Saat ini saya tidak akan menunjukkan bagaimana cara/teknis berpuasa sedetail itu karena tidak semua orang mengerti arti pentingnya puasa. Firman Tuhan yang kita baca tadi, lebih berfokus untuk mengubah paradigma/pandangan/sikap sehingga kita mengerti esensi/prinsip dasar/makna puasa yang bukan sekedar ritual agama biasa, apalagi yang egois/berpusatkan pada diri sendiri; melainkan sebagai gaya hidup orang tebusan yang bebas-merdeka dari perhambaan dosa dan diri sendiri.

Apakah esensi/prinsip dasar/makna dari puasa sebagai gaya hidup orang merdeka?
1. Puasa adalah disiplin rohani yang mempererat persekutuan kita dengan TUHAN YESUS (ay. 14-15).
Tuhan adalah sosok SENIMAN AGUNG yang menopang seluruh kehidupan dari semua ciptaan-Nya. Manusia sesungguhnya tak dapat hidup tanpa Tuhan karena pada dasarnya manusia memang memiliki relasi kebergantungan yang begitu kuat pada Penciptanya. Manusia butuh untuk mengenal dan hidup lebih dekat dengan Tuhan. Itulah sesungguhnya tujuan semula dari diadakannya ritual-ritual/kegiatan-kegiatan keagamaan, yaitu membangun sebuah persekutuan yang intim dan indah dengan Tuhan.

YESUS adalah manifestasi/penampakan Tuhan dalam rupa manusia, yaitu Tuhan itu sendiri sehingga tidaklah berlebihan kalau disebutkan bahwa persekutuan yang intim dan indah dengan YESUS adalah fokus dari puasa kita. Konsep inilah yang sudah luntur dari hidup keagamaan orang Yahudi, sehingga di ayat 14 dikisahkan murid-murid Yohanes datang dan bertanya kepada YESUS: ”Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Pertanyaan tersebut menunjukkan betapa teguhnya mereka berpegang pada Hukum Taurat, yang mewajibkan mereka untuk menjalankan tiga tindakan besar keagamaan yaitu: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa (lih. Mat. 6:1-18).

Tidaklah mengherankan jika mereka langsung berespon ketika melihat murid-murid YESUS tidak menjalankan puasa sesuai dengan tradisi/kebiasaan yang berlaku. Lalu YESUS menjawab mereka dengan cara yang sangat mereka mengerti, yaitu dengan memakai perumpamaan mengenai adat/tradisi pernikahan Yahudi. Setelah hari pernikahan, biasanya akan diadakan pesta/resepsi selama seminggu penuh bagi pasangan mempelai orang Yahudi. Pada waktu itu, kedua mempelai diperlakukan bak raja dan ratu, bukan semalam, melainkan seminggu penuh. Selama seminggu itu mereka mengadakan open-house/buka pintu bagi para teman dekat/sahabat mempelai. Tidak ada yang berpuasa/berdiet, tidak ada muka-muka yang muram dan murung. Yang ada hanyalah gelak-canda dan tawa-ria dalam kemeriahan pesta-pora.

Ya, bagi orang Yahudi, pesta perkawinan bukanlah waktunya untuk berpuasa. Puasa pada masa PL identik dengan kedukaan/ratapan. Oleh karena itu, berpuasa ditengah pesta hanya akan membawa kemurungan. Pesta perkawinan adalah waktunya untuk berbagian dalam kebahagian dan sukacita bersama sang mempelai. Setelah pesta itu selesai, barulah mereka kembali kepada realita hidup. Yang biasanya hidup susah dan sederhana kembali dalam kesusahan dan kesederhanaannya.

Dalam perumpamaan tersebut, YESUS menggambarkan diri-Nya sebagai Sang Mempelai, sedang para murid-Nya adalah para sahabat mempelai itu. Oleh karena itu, selama masih ada persekutuan dengan YESUS, maka para murid tidak perlu berpuasa. Kesulitan dan tantangan mengikut Yesus pasti ada. Akan tetapi di dalam kehadiran YESUS, para murid seharusnya hidup dengan getaran sukacita yang bergelora. Itulah natur kebersamaan dengan YESUS. Beda dengan para murid Yohanes. Bagi mereka, kesedihan sudah tiba karena pada saat itu Yohanes sedang dipenjarakan.

Jadi, YESUS sebenarnya bukan menolak puasa atau mau melawan Hukum Taurat. Ia justru ingin menunjukkan prinsip hidup keagamaan yang benar. Selama ini, orang Yahudi terus berpuasa untuk menantikan Mesias yang berasal dari Tuhan. Begitu ketatnya hingga mereka melupakan prinsip yang utama, yaitu persekutuan dengan Tuhan. Begitu kakunya hingga menjadi sebuah selaput tebal yang menutupi mata hati mereka. Sebagai akibatnya, mereka tidak tahu bahwa Mesias yang berasal dari Tuhan dan yang adalah Tuhan itu sendiri sudah datang dalam diri YESUS. Bukankah dengan demikian penantian dan puasa mereka jadi sia-sia saja? Patut disayangkan, mereka pada akhirnya tidak menjadi bagian dari kerajaan surga karena tidak mengenal dan memiliki persekutuan yang indah dengan YESUS, Sang Raja kerajaan sorga.

Sebaliknya, para murid Yesus telah mengenal, menyambut, dan bahkan tinggal bersama-sama dengan Sang Mesias setiap hari. Jadi, untuk apa mereka bersusah hati? Tetapi akan tiba waktunya, di mana YESUS Sang Mempelai akan direnggut dari sisi mereka sebagaimana Yohanes direnggut dari sisi para muridnya. Ya, tak lama lagi YESUS akan disalibkan, mati, bangkit, dan naik ke sorga. Pada saat itulah, para murid akan berpuasa karena begitu merindukan persekutuan yang indah dengan YESUS. Bukan puasa yang mengikat dan menyiksa diri agar dibebaskan dari jajahan bangsa lain dan mendapatkan keselamatan karena itu namanya menyogok Tuhan.

Mari kita bercermin dari cerita khayalan mengenai si Cecep. Suatu hari si Cecep meninggal dan hendak masuk ke gerbang kerajaan surga. Pintu itu dijaga oleh dua orang malaikat berpedang api.
Malaikat: Apa yang membuatmu berpikir engkau layak masuk ke sini?
Cecep: (Dengan senyum lebar) Tiga minggu lalu, saya memberikan uang seratus ribu kepada orang cacat.
Malaikat: Apa lagi?
Cecep: (Dengan senyum lebih lebar lagi) Dua minggu lalu, saya memberikan uang seratus ribu kepada seorang tunawisma.
Malaikat: Apa lagi?
Cecep: (Dengan senyum yang paling lebar dan sambil membusungkan dada) Seminggu lalu, saya menyumbangkan uang seratus ribu kepada orang panti asuhan.
Malaikat: Tunggu sebentar! (Ia masuk ke dalam dan kemudian keluar lagi) Saya telah membahas kasusmu dengan Sang Raja dan pendapat-Nya sama seperti pendapatku. Ini uangmu yang tiga ratus ribu dan pergilah ke neraka karena Sang Raja tidak suka sogokan.

Ya, Tuhan YESUS tidak suka sogokan. Oleh karena itu, percuma saja kalau kita melakukan puasa sebagai sogokan, supaya kita merasa tenang karena sudah menimbun banyak pahala di sorga, dan kita yakin akan selamat dengan itu, atau berpuasa supaya Tuhan senang sehingga doa-doa permohonan kita segera dijawab dan dikabulkan. Bukan, bukan itu yang menyukakan hati Tuhan. Semua itu cuma ritual hampa dan egois.
Kita ini sudah merdeka. Kita tidak perlu menyiksa diri hanya untuk selamat atau dapat berkat. Keselamatan dan berkat sudah diberikan menjadi hak dan warisan kita. Itulah fokus kedatangan dan pengorbanan YESUS di atas kayu salib. Yesaya 59:2 mengatakan: ”Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga tidak mendengar, ialah segala dosamu.”

Allah itu kudus adanya sehingga dosa adalah suatu kejijikan bagi-Nya. Dosalah yang menghalangi persekutuan kita dengan ALLAH. Akan tetapi, Yesus sudah datang untuk memerdekakan manusia dari kuk perhambaan dosa yang mengikat dan merusak hubungan manusia dengan Tuhan. YESUS rela turun dari sorga yang nyaman ke dunia yang tidak aman untuk menjadi jembatan agar kita dapat bebas bersekutu dengan Tuhan. Tidakkah itu adalah sesuatu yang istimewa buat kita?

Setiap orang percaya yang sudah mengenal YESUS harus memiliki persekutuan yang erat dengan Dia. YESUS memang secara fisik tidak ada di sini dan tidak dapat kita lihat. Akan tetapi, Ia berjanji akan datang lagi untuk kedua kali, sebagai RAJA segala raja. Suatu saat nanti, Ia akan datang untuk menjemput dan mengijinkan kita untuk bertemu dengan Dia secara nyata. Saat ini, kita sedang dalam masa penantian. Untuk itulah kita harus berpuasa. Kita masih tinggal di dunia yang penuh dengan dosa, kejahatan, dan kesukaran. Oleh karena itu, kita perlu lebih setia dan tekun beribadah, berdoa, serta berpuasa sementara menantikan saat kedatangan YESUS yang indah dan mulia. Bukan puasa dukacita/ratapan; melainkan yang menyukakan dan yang membuat Tuhan tersenyum... yaitu puasa yang berpusatkan pada Tuhan, yang merendahkan diri demi meninggikan Tuhan, yang menahan diri untuk mendapatkan berkat jasmani demi mengharapkan hasil-hasil rohani yang memuliakan Tuhan, yang mengendalikan diri dari hawa nafsu kedagingan demi mengijinkan Tuhan untuk menguasai diri kita secara utuh. Itulah puasa sebagai gaya hidup orang merdeka.

Suatu kali saya pernah bergumul tentang hidup dan pelayanan saya. Saya sungguh-sungguh merasa sangat lemah, lelah, dan sensitif. Kalau ada yang tidak sesuai dengan idealisme saya, saya merasa kecewa luar biasa. Saya sempat sedih dan merasa sendiri.
Ada yang bertanya pada saya: “Kamu lagi BT ya?” Yang lain berkata: “Ah, kamu pasti lagi BTT (butuh tatih tayang).” Akan tetapi dalam hati kecil saya, saya menjawab: “Saya sudah mendapat kasih sayang yang cukup dari keluarga dan teman-teman dekat saya. Saya juga sudah berjuang melayani dengan penuh semangat dan ketulusan. Istilahnya, saya sudah habis-habisan. Akan tetapi, mengapa saya tetap merasa masih ada yang kurang. Saya merasa masih belum memiliki sesuatu yang dapat membuat pelayanan saya penuh arti.

Dalam proses, akhirnya saya mendapati bahwa saya bukan sedang BT atau BTT, melainkan BTTT (butuh tatih tayang Tuhan). Untuk itulah, saya memutuskan untuk melakukan puasa yang bukan mengikat. Bukan sekedar supaya pelayanan saya berhasil; melainkan untuk mengendalikan diri sendiri dari hawa nafsu, emosi, dan perasaan-perasaan yang menghancurkan.

Saya mencoba untuk berjuang mengatasi perasaan kecewa dan semua ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan orang lain dengan tidak makan dan minun. Tidak hanya itu saja, ditengah melakukan aktifitas sehari-hari saya berusaha menyediakan waktu-waktu khusus untuk berdoa, berbincang-bincang, curhat, memohon ampun, dan meminta kepekaan akan kehendak Tuhan bagi saya. Saya berusaha mengawali, menjalani, dan mengakhiri hari bukan dengan obsesi-obsesi, harapan-harapan, atau kebutuhan-kebutuhan pribadi saya; melainkan dengan Tuhan. Hasilnya sangat luar biasa. Saya disegarkan dan diigatkan kembali bahwa kebutuhan saya yang utama adalah mengecap Air Hidup yang hanya di dapatkan dari persekutuan yang erat dengan Tuhan Yesus.

Puasa ternyata bukanlah sekedar tidak makan dan minum, atau tidak menikmati sesuatu yang kita sukai. Puasa pertama-tama haruslah menjadi sebuah disiplin rohani yang menekan hawa nafsu kedagingan yang mengikat. Tidak makan dan minum adalah salah satu cara untuk menekan hawa nafsu kedagingan. Jadi, puasa bukanlah masalah boleh makan atau tidak, berapa lama melakukannya, dan bagaimana caranya; karena intinya bukanlah puasanya. Puasa hanyalah alat/sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengasah kepekaan akan kehadiran Tuhan. Puasa adalah disiplin rohani yang mempererat persekutuan kita dengan Tuhan.

Persekutuan yang erat dengan YESUS akan membangun persekutuan yang erat dengan sesama kita. Saya mengamini bahwa puasa tidak hanya akan mendekatkan kita dengan Tuhan; tetapi juga dapat mencapai hasil-hasil yang bermanfaat dalam hidup sesama kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan esensi/prinsip dasar/makna kedua dari puasa sebagai gaya hidup orang merdeka.
Apakah itu?

2. Berpuasa adalah disiplin pribadi yang membentuk karakter Kristen (ay. 16-17).
Mari kita kembali pada budaya Hedonisme dan Konsumerisme yang sangat menjunjung tinggi kenikmatan. Fakta menunjukkan bahwa orang-orang yang hidup di zaman ini nampak sudah sangat dipengaruhi dan bahkan dirasuki oleh keduanya. Sekarang ini, orang tidak hanya mulai meninggalkan disiplin rohani; melainkan juga menanggalkan kasih. Kasih sebagai karakter Kristen sudah mulai memudar sehingga Pdt. Eka Darmaputera pernah menyebutkan kalau konflik-konflik gereja itu ternyata lebih parah daripada konflik-konflik di luar gereja. Tidak hanya itu saja, dikatakan bahwa
para pemimpinnya mengalami krisis integritas. Jemaatnya sibuk dengan dirinya sendiri.
Para majelis dan aktifisnya hanya mengejar target pelaksanaan program-program rutin gereja, tanpa menengok ke sekitarnya. Tidak mengherankan jika disebutkan bahwa gereja telah semakin kehilangan pengaruhnya di dunia kontemporer ini. Situasi seperti ini sungguh-sungguh tidak menunjukkan natur gereja sebagai kesatuan tubuh Kristus yang terdiri dari orang-orang merdeka.

Situasi yang sama juga terjadi pada orang-orang Yahudi, khususnya pada para murid Yohanes dan orang Farisi sebagaimana yang disebutkan oleh firman Tuhan tadi. Mereka disebutkan sebagai orang-orang yang terhisap dalam masa PL karena masih mempertahankan tradisi-tradisi yang lama. Tradisi-tradisi yang mereka katakan sebagai hukum Tuhan padahal mereka telah salah menafsirkannya dan bahkan menyalahgunakan untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka hidup benar demi menyenangkan Tuhan. Mereka sangat menantikan Mesias yang diharapkan dapat membebaskan mereka dari jajahan bangsa lain. Akan tetapi semuanya itu tidak pernah kesampaian karena ujung-ujungnya adalah "pokoknya" tradisi. Mereka tidak tahu apa arti dari semua kegiatan agama yang mereka lakukan sehingga tanpa sadar memenjarakan diri sendiri dalam kerangkeng tradisi. Mereka bahkan tidak tahu kalau PL sudah berlalu dan berganti dengan PB. Janji Tuhan sudah diperbaharui dalam kedatangan YESUS ke tengah-tengah dunia sehingga tradisi lama tentunya tidak cocok untuk zaman yang baru.

Itulah makna dari dua perumpamaan Tuhan Yesus mengenai menambalkan kain yang baru pada kain yang tua dan mengisi air anggur baru dalam kantong kulit yang tua. Kain yang baru dan air anggur baru adalah zaman PB/zaman anugerah. Pada zaman ini, YESUS datang membawa anugerah karena manusia tak pernah sanggup menyelamatkan dirinya sendiri. Kain yang tua dan kantong kulit yang tua adalah zaman PL/zaman hukum Taurat. Zaman ini sangat mementingkan hukum perbuatan baik karena YESUS belum datang.
Kain baru jangan ditambalkan ke kain lama. Kain baru ya kain baru bukan tambalan. Kain yang lama harus diganti dengan yang baru. Demikian juga dengan anggur baru. Anggur baru tidak boleh dimasukkan kantong kulit yang tua karena anggur itu akan tumpah sia-sia. Kantong tua yang sudah tidak elastis gampang pecah akibat tekanan gas yang dihasilkan oleh proses fermentasi anggur. Kantong baru yang lebih kuat dan elastis, itu baru cocok.

Pada prinsipnya, PB ada bukan untuk menambal/menghilangkan kelemahan-kelemahan hukum Taurat. Oleh karena itu, konsep lama harus ditanggalkan dan diganti dengan yang baru. Jangan dicampur-campur karena akan merusak konsep yang baru. Sukacita adalah mendapatkan anugerah dari Allah dalam persekutuan dengan YESUS Kristus itulah yang seharusnya mereka pengang sehingga konsep lama yang menonjolkan pengorbanan diri sendiri demi tradisi harus dihapus. Dengan demikian, pusat hidup mereka seharusnya adalah YESUS; bukan diri sendiri. Mereka seharusnya ikut Yesus; bukan tradisi. Mereka seharusnya membentuk karakter Kristen; bukan mental jajahan. Itu tidak mudah karena mereka harus mengubah pola pikir, perilaku, dan kebiasaan lama yang sudah mendarah daging.

Untuk membuat patung dari sebongkah batu. Diperlukan alat tatah, palu, dan benda-benda tajam lainnya. Batu yang bentuknya tak beraturan itu di tatah, di pahat dan diukir dengan besi sedemikian rupa. Kalau batu itu bisa berbicara, mungkin ia akan menjerit setiap kali tatah itu mengoyak dirinya: “Aduuh, sakit. Hentikan, hentikan!” Tentu saja sang pemahat tidak akan berhenti karena batu itu akan tetap jadi batu. Dengan telaten, ia terus menatah, memahat, dan mengukir sampai menjadi sebuah patung yang indah.

Itulah esensi/prinsip dasar/makna puasa sebagai gaya hidup orang merdeka, yaitu membentuk karakter Kristen yang sesuai dengan zaman anugerah ini. Ya, melalui puasa kita menatah, memahat, dan mengukir karakter Kristus dalam diri kita. Karakter YESUS adalah pola/patrun manusia sempurna yang harus kita contoh dan tiru. Ia tidak pernah mengumbar nafsu, melainkan selalu mengoyak hati-Nya untuk berbelas kasih kepada orang-orang kecil yang lemah dan terpinggirkan seperti kita. Ia tidak pernah menuntut dan memaksa dengan kuat-kuasa-Nya agar kita melayani-Nya, melainkan justru mengorbankan diri dan melayani kita.

Namun, sayangnya kita yang seringkali kurang menghargai-Nya dan mengatakan: ”Ah saya sudah terbiasa menikmati kasih Tuhan dan untuk itu saya sungguh bersyukur. Sudah lama saya tahu kalau Tuhan YESUS itu baik, jadi kalau lagi susah, butuh apa-apa, atau ada acara-acara besar di gereja tinggal adakan doa puasa saja. Berkorban tidak makan sehari penuh, kalau perlu seminggu penuh, atau kalau kurang yah sebulan penuh tidak jadi masalah; yang penting Tuhan menolong kita. Setelah pergumulan kita selesai, maka selesailah pula puasa kita. Puasa itu tidak perlu setiap waktu apalagi jadi gaya hidup. Rajin ke gereja, memuji Tuhan, mendengar kotbah, dan melayani dengan semangat sudah cukup untuk menyenangkan hati Tuhan.

Akan tetapi, Senin s/d Sabtu kembali jadi bos yang semena-mena dan suka menghakimi di kantor. Senin s/d Sabtu kembali jadi pegawai yang bekerja dengan melakukan berbagai kecurangan. Senin s/d Sabtu jadi siswa/mahasiswa yang suka menyontek.
Senin s/d Sabtu kembali jadi budak hawa nafsu dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik seperti: bergosip, berbohong, omong kotor, fitnah, marah tanpa pengendalian diri, egois, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, suka ngambek, iri hati, serakah, hidup untuk diri sendiri, suka menyakiti hati orang lain, dll.
Semua itu menandakan tidak adanya perubahan hidup di dalam diri kita. Tidak adanya perubahan hidup menandakan tidak adanya kelahiran baru. Kalau sudah begitu, maka sia-sialah puasa, ibadah, dan pelayanan kita karena tidak ada YESUS di dalam diri kita.

Elmer L. Towns dalam Puasa untuk Melakukan Terobosan Rohani menyatakan bahwa tujuan Allah untuk puasa adalah perubahan hidup. Kita bisa melihatnya dalam Yesaya 58:3-4 yang mengatakan: Pada hari puasamu engkau masih tetap melakukan sesukamu, dan kamu memeras tenaga semua buruhmu. Puasamu berakhir dengan berbantah dan berkelahi serta memukul satu sama lain dengan tinju yang jahat. Kamu tidak dapat berpuasa dengan caramu seperti sekarang ini dan berharap suaramu akan di dengar di tempat tinggi.

Saat ini gereja dan bangsa ini sedang menjerit untuk adanya orang yang mempunyai karakter dan integritas. Yaitu orang-orang yang mendapat kesembuhan secara emosional dan memperoleh kekuatan di dalam Kristus untuk mengalahkan kebiasaan-kebiasaan yang penuh dosa dan merusak. Orang-orang yang mendisiplin diri untuk dapat menghadirkan kasih KRISTUS ke tengah dunia sekarang ini, yaitu YESUS-YESUS MASA KINI.

Sampai pada pergumulan mengenai bagian ini, saya mendapat tamparan dari TUHAN. Bukan melalui kotbah atau KKR Pendeta terkenal, melainkan melalui seorang nenek tua-renta. Saya memanggilnya Ibu Robin atau Mbah Robin mungkin lebih cocok karena usianya sudah 75 tahun. Ia adalah seorang wanita tua yang kurus. Badannya nampak sangat kecil jika dibandingkan dengan saya. Pada siang hari, ia biasanya lewat di gang tempat kost saya. Dengan langkah terseret-seret, ia berjalan menyusuri gang sambil memungut bunga-bunga kamboja Bali yang luruh di atas aspal. Tak jarang ia harus menunduk, menbungkuk, dan meringkuk untuk memungut bunga-bunga yang jatuh di selokan. Sesekali, ia memberanikan diri untuk minta ijin masuk ke kos-kosan untuk mengambil bunga yang akan dikeringkan sebagai bahan lulur katanya.

Nenek yang gampang dikenali karena tiga gigi yang nongol keluar ini mengatakan bahwa ia punya banyak anak. Akan tetapi, mereka semua jijik padanya. Itu sebabnya, ia mengembara mencari nafkah untuk merawat ayahnya dan mencukupi hidupnya sendiri.
Kalau ada yang memberi uang, ia bisa membeli makanan. Kalau tidak, ia tidak pernah berniat untuk meminta-minta. Dengan tubuhnya yang renta, ia menyusuri jalanan untuk memunguti bunga.

Ketika melihat-Nya, mulanya saya miris dan menjadi sedih. Saya mulai membayangkan diri saya yang mulai menua dan menjadi sepertinya. Itu membuat saya menangis dan berteriak kepada Tuhan: Tuhan, bagaimana kalau saya sudah menjadi tua seperti itu? Apakah saya akan sendiri dan ditinggalkan? Saat ini, saya sengaja tidak makan dan minum karena puasa. Tetapi suatu saat kelak, apakah saya akan menjadi hamba Tuhan yang puasa karena tidak ada yang dapat dimakan? Saya sudah habis-habisan melayani Engkau, tolong pelihara saya!

Itulah contoh kain lama, kantong kulit tua, pola pikir lama, yaitu mental jajahan yang dikuasai oleh hawa nafsu kedagingan yang egois. Seketika firman Tuhan ini bergaung dalam jiwa saya dan mengubahkan pola pikir yang egois itu. Saya mulai menatap sepatu silver saya dan berkata: "Sepatu itu harganya Rp. 114 ribu. Rp. 114 ribu bisa jadi nasi jinggo berapa ya? 114 ribu dibagi 2 ribu, sama dengan 57 bungkus nasi untuk Mbah Robin. 57 bungkus nasi sama dengan 19 hari tanpa kelaparan buat dia.
Oleh karena itu, saya berkomitmen bahwa selama puasa saya akan menyisihkan uang makan dan uang jajan saya untuk disimpan lalu diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Itulah contoh dari kain baru, anggur baru, pola pikir baru, yaitu sikap hidup orang merdeka yang dilingkupi oleh anugerah. Puji Tuhan, akhirnya saya mengerti makna puasa sebagai gaya hidup orang merdeka untuk dapat dibagikan di sini. Puasa demikian telah lama dilakukan oleh Seorang Pendeta dari gerejanya Elmer Towns, penulis buku Puasa untuk Melakukan Terobosan Rohani. Pendeta itu mengumpulkan sejumlah besar uang melalui puasa yang dilakukannya. Tak lama kemudian, seluruh gereja itu pun berpuasa. Dan apa yang terjadi? Allah turut campur tangan dalam masa krisis nasional di daerah di mana gereja itu berada. Sungguh luar biasa.

Yesaya 58:6-7 mengatakan: Berpuasa yang Allah kehendaki ialah supaya kita membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepas tali-tali kuk, supaya kita memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya kita memecah-mecah roti bagi yang lapar dan membawa ke rumah kita orang telanjang, supaya kita memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudara kita sendiri. Firman Tuhan ini mengajak kita semua sebagai orang-orang yang merdeka untuk berpuasa. Bukan sekedar tidak makan dan minum; melainkan puasa yang menguasai diri sebagai gaya hidup orang merdeka demi menghadirkan Kristus, demi menjadikan diri sebagai YESUS-YESUS Masa Kini. Puasa yang memiliki dua dimensi, yaitu vertikal dan horisontal, yang pada prinsipnya:
1. Puasa adalah disiplin rohani yang mempererat persekutuan kita dengan TUHAN YESUS (ay. 14-15).
2. Puasa adalah disiplin pribadi yang membentuk karakter Kristen (ay. 16-17).

Tidak mudah? Pasti. Akan tetapi, Tuhan telah berjanji dalam Yesaya 58: 8-12 bahwa Ia akan membuat terang kita merekah seperti fajar, Ia akan mendengar seruan doa kita, Ia akan menuntun kita senantiasa, memuaskan hati kita dengan aliran Air Hidup, memperbaharui kekuatan kita ... sampai akhirnya kelak kita berjumpa lagi dengan YESUS dalam kemuliaan Surga.

DOAKU UNTUK MENJADI YESUS MASA KINI
By Marc Estes, JESUS TODAY (Yesus Masa Kini)

Ya, YESUS
Aku mau memulai hari ini dengan bersyukur kepada-Mu
atas kesempatan untuk minum dari Air Hidup-Mu.
Aku juga bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah memberiku
kehormatan untuk menyembah-Mu dalam roh dan kebenaran.
Sulit dipahami kalau ada orang yang telah mengecap Air Hidup-Mu,
tetapi masih haus akan segala hal yang lain, selain diri-Mu.
Namun, aku juga telah minum dari sumur-sumur
kesenangan, keberhasilan, dan keinginan daging.
Aku menyadari bahwa kesegaran dari sumur yang lain itu
menyebabkan aku kehilangan pandangan akan rencana-Mu yang mulia bagi hidupku.
Juga menutupi penglihatanku dalam memandang orang lain
seperti Engkau memandang mereka.
Aku mengaku pada hari ini
bahwa ada kalanya aku merasa tidak layak.
Ada banyak kebutuhan yang mengelilingiku setiap waktu, setiap hari.
Perasaan yang menguasaiku ini menyebabkan aku
mengabaikan kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang hadir di tengah jalanku.
Aku ingin Engkau mengganti mataku yang dikuasai hal-hal duniawi ini
dan biarlah aku dikuasai oleh cara pandang seperti diri-Mu.
Ubahlah mata fanaku ini dan gantilah dengan mata yang tidak egois.
Biarlah aku mengganti mata jasmani ini dengan mata rohani dari-Mu
sehingga aku dapat menyampaikan tujuan hidup dalam hidup orang lain.
Yang terutama, ya YESUS, beri aku mata injil.
Tolong aku untuk dapat melihat orang lain seperti Engkau melihat mereka.
Amin
.

Belas Kasih, Denyut Kehidupan KRISTEN SEJATI



Nast: Matius 9:35-39

Ketika menyusuri koleksi buku-buku di Perpustakaan Solomon GKKA Denpasar, mata saya tak dapat beranjak dari sebuah buku bercover kuning terang. Ini adalah Jurnal berbentuk majalah yang bernama National Geographic Indonesia edisi Februari 2007. Saya tertarik mengambil dan membacanya beberapa kali karena judulnya berbunyi: “Memahami Sang Pembunuh” dengan sebuah gambar jantung di sana.

Artikel-artikel utama di dalamnya tidak hanya memikat mata saya; melainkan juga menyayat hati saya dengan flashback duka. Kira-kira tiga tahun yang lalu, penyakit jantung pernah memutus nafas hidup dan merenggut papa dari keluarga saya. Jantung sesungguhnya adalah sebuah pompa berisi darah, seukuran kepalan tangan, yang kontraksi ritmisnya (gerakan kembang-kempis secara beraturan) telah membuat kita tetap hidup sampai saat ini.

Selain merupakan sebuah organ tubuh, secara metaforis jantung adalah pusat emosi jiwa, sebuah simbol cinta dan kasih sayang. Inilah splagchna yaitu sebuah kosakata bahasa Yunani yang dipakai dalam nast firman Tuhan kali ini. Splagchna dapat berarti organ dalam dari tubuh manusia, namun di dalam Alkitab seringkali dipakai dalam arti belas kasih. Sebuah unsur kasih yang berasal dari dalam diri kita.

Banyak orang mungkin berpikir bahwa belas kasih adalah sesuatu yang sudah ada dan dimiliki oleh semua orang di dunia ini. Bukankah sebagian besar orang akan merasakan belas kasihan kalau melihat anak-anak yang mengemis di pinggir jalan; melihat seorang janda yang tua, miskin, dan hidup sebatangkara; atau melihat derita para korban bencana alam dalam barak-barak penampungan? Kalau memang belas kasih ada di dalam diri setiap orang secara natural, kenapa dunia kita ini masih dipenuhi oleh kemiskinan, kelaparan, perang, dendam, kebencian, pembunuhan, pemerkosaan, penipuan, dan kejahatan-kejahatan lain yang semakin pintar dan profesional? Tengok saja sekeliling kita. Fenomena yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin sangat mewarnai suasana ekonomi bangsa kita ini. Apalagi kalau mencermati kata “belas kasih” dalam bahasa Indonesia yang hanya berarti turut merasa iba ketika melihat orang lain menderita. Sungguh dangkal sekali artinya, seolah-olah ketika ada orang yang kurang beruntung kita mengatakan: “Wah kasihan sekali dia.” Setelah itu kita memberikan sesuatu untuk membuat dia tersenyum dan merasa senang lalu selesai begitu saja.

Bukan, bukan itu. Belas kasih yang dirasakan Yesus dalam ay. 36 memiliki arti yang lebih dalam. Ketika Yesus melihat orang banyak yang lelah dan terlantar seperti domba yang tak bergembala, maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka. Inilah splagchna yaitu belas kasih yang radikal. Artinya, Yesus turut merasakan penderitaan mereka, turut menangis bersama mereka. Itu sebabnya Yesus bergerak untuk melayani secara utuh/holistik, bukan hanya sekedar membuat mereka tersenyum gembira. Lebih dari semua itu, Yesus membawa mereka kapada Allah dengan taruhan nyawa-Nya.

Karena belas kasih Yesus, maka ada komunitas yang menyebut dirinya Kristen. Karena belas kasih Yesus, maka ada kita sekarang ini yang dapat dengan bebas menikmati persekutuan dengan Allah. Belas kasih Yesus adalah pompa yang menghasilkan denyut kehidupan Kristen sejati. Ketika Kekristenan hidup maka akan ada jiwa-jiwa yang terhilang dibawa dan dipersembahkan kepada Allah untuk diselamatkan. Masalahnya sekarang adalah apakah Kekristenan sejati masih hidup di tengah-tengah dunia, di Indonesia, sehingga dapat dirasakan pengaruhnya seperti Yesus bagi zaman-Nya dan bahkan sampai sekarang ini? Tanda-tanda kehidupan Kristen sejati dapat dideteksi/diketahui jika setiap orang percaya tergerak untuk melakukan setidaknya tiga hal yang telah Yesus lakukan untuk orang lain:

1. Memberikan sentuhan kasih secara langsung dan konkret (nyata).
Belas kasih adalah sesuatu yang berasal dari dalam hati nurani kemudian mengalir keluar dalam bentuk tindakan. Mari kita telusuri apa sih yang paling menggerakkan diri Yesus.
a. Ketika melihat orang yang menderita sakit kusta, buta, dan sakit penyakit lainnya; Ia menaruh belas kasihan lalu menyembuhkan mereka (Mat 14:4, 20:3; Mrk 1:41).
b. Ketika Yesus melihat orang banyak yang telah mengikutinya selama tiga hari dan kelaparan karena tidak mempunyai makanan, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan lalu Ia memberi mereka makan roti dan ikan (Mat 15:32; Mrk 6:34, 8:2).
c. Ketika Yesus berjumpa dengan seorang janda di kota Nain yang sedang menangis sedih karena ditinggal mati oleh anak laki-laki satu-satunya, maka hati-Nya tergerak oleh belas kasihan sehingga Ia menghibur janda itu dan membangkitkan anaknya yang mati itu (Luk 7:13).

Rupanya penyakit, kelaparan, dan kesusahan dunia adalah alasan mengapa Yesus giat berkeliling untuk melayani. Ia tidak pernah pilih-pilih orang dan tempat pelayanan. Buktinya, Ia melayani dari kota sampai ke pekuburan. Ia melayani dari pejabat hingga si kusta dan si pemungut cukai yang dikucilkan. Ia melayani dari orang Yahudi yang adalah kaum-Nya hingga orang Galilea yang dianggap kafir. Hidup-Nya selalu dipersembahkan bagi kepentingan Allah dan manusia, bukan diri-Nya sendiri. Itu sebabnya Ia rela kurang istirahat, kurang tidur, dan kurang makan. Ia menempatkan diri-Nya menjadi seorang Gembala yang baik, yang ingin agar domba-domba-Nya tak kekurangan.

Dengan kemampuan-Nya membuat berbagai-bagai mujizat, Ia sebenarnya bisa saja meraih keuntungan dari orang yang butuh pertolongan-Nya. Namun, Ia tidak pernah melakukannya. Ia melayani dengan sukarela semata-mata karena Ia tak dapat tahan melihat orang yang menderita. Ia merasakan derita yang sama sehingga tergerak mengulurkan tangan untuk menyembuhkan bagian-bagian tubuh mereka yang sakit, memberi mereka makan, dan menghapus air mata mereka. Itulah sentuhan kasih secara langsung dan konkret (nyata). Kepala, mata, hati, tangan, kaki, dan seluruh keberadaan diri Yesus begitu aktif dan peka terhadap kesusahan manusia sehingga Ia tidak seperti para pemuka agama yang mengabaikan penderitaan orang lain demi mengutamakan ibadah. Bukankah ibadah yang sejati adalah melakukan kehendak Tuhan? Yesus sangat paham bahwa Allah sangat mengasihi manusia. Oleh karena itu, ibadah yang sejati bagi-Nya adalah mempersembahkan hidup untuk berbagi kasih dengan orang lain, khususnya kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan-Nya. Bukan hanya mengamati lalu berlalu begitu saja, atau bahkan menghindarinya supaya tidak direpotkan dengan masalah orang lain.

Mari mengamati helikopter dan kapal selam. Helikopter biasa dipakai untuk mengamati berbagai peristiwa dari udara. Memang dari dalam helikopter, seseorang bisa terlibat untuk memberikan informasi mengenai suatu peristiwa. Namun, secara pribadi tidak langsung terlibat dalam peristiwa. Lain halnya denga kapal selam. Kapal selam dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah dilihat. Ia akan terus berjalan menyelam selagi ada bahaya dan akan muncul ke permukaan kalau situasi sudah aman.

Keduanya sungguh merupakan sebuah teknologi yang canggih. Akan tetapi Bp. Jonathan L. Parapak justru memakai kedua teknologi tersebut untuk menggambarkan kondisi orang Kristen saat ini. Beliau menyebutkan bahwa orang Kristen helikopter seringkali cuma jago mengamati, tetapi enggan terlibat langsung. Setajam silet beliau berkata bahwa di tengah situasi bangsa yang sedang menghadapi krisis multi dimensi dan berbagai bencana, banyak gereja dan orang-orang percaya yang jago mengamati. Akan tetapi, sedikit yang mau turun langsung membawa perbaikan. Selain itu, ada juga orang Kristen kapal selam yang risih menjadi kaum minoritas di tengah bangsa kita. Oleh karena itu, untuk amannya mending diam-diam aja di rumah. Ke gereja kalau penting-penting aja, yaitu pada waktu Natal, Paskah, dan pemberkatan nikah. Ikut pelayanan dan bergaul dengan orang susah dianggap bikin repot. Sebentar-sebentar didatangi orang untuk minta tolong ini dan itu, pinjem duit lah, minta didoakanlah, dengerin curhat dan kesusahannya. Belum lagi sumbangan dan persembahan ini dan itu.

Jika semua orang percaya menjadi seperti helikopter dan kapal selam, maka denyut kehidupan Kristen Sejati akan segera melemah. Tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat akan mati.
Mari kita bayangkan betapa sedihnya Tuhan Yesus.

Oleh karena itu, sesungguhnya tidak ada tempat bagi Kristen helikopter dan kapal selam dalam kehidupan Kristen sejati. Sebab kehidupan Kristiani bukanlah status agama dalam KTP agar tidak dianggap atheis. Kehidupan Kristiani sesungguhnya adalah perlombaan yang memerlukan disiplin, komitmen, dan mata yang tertuju kepada Tuhan. Sehingga serepot apapun, seburuk apapun, sesulit apapun, kita tidak akan mengamati saja atau bahkan menghindarinya. Karena kita tahu bahwa segala sesuatu dapat dipakai untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap kita yang percaya kepada Tuhan (Roma 8:28).

Bangsa kita saat ini sedang memerlukan anak-anak bangsa yang terbaik untuk membawa perubahan dan perbaikan. Dan sangat mungkin bahwa kita sebagai anak-anak Tuhan dan hamba-hamba Tuhan akan dipanggil juga untuk terlibat memberikan yang terbaik bagi Indonesia, bagi masyarakat sekitar kita, bagi saudara-saudara seiman kita, bagi mereka yang membutuhkan ulur tangan kita. Oleh karena itu, tidak ada orang Kristen sejati yang boleh berambisi untuk mengumpulkan uang bagi dirinya sendiri. Tidak ada orang Kristen sejati yang dapat menahan-nahan berkat untuk dirinya sementara melihat ada orang lain yang kelaparan. Tidak ada orang Kristen sejati yang sanggup menutup mata dan telinga ketika ada orang yang menangis kesakitan atau meratap dalam duka. Tidak ada orang Kristen sejati yang tahan diam dan melipat tangan saat ada orang yang meringkuk butuh dipeluk, menggapai-gapai ingin dibelai, dan menengadah rindu untuk dijamah. Siapkah kita, memberikan sentuhan kasih secara langsung dan konkret kepada mereka?

Sentuhan kasih yang langsung dan konkret memang sangat penting. Akan tetapi, semua itu tidaklah cukup. Segala bentuk bantuan yang dapat kelihatan oleh mata akan lebih lengkap dan sempurna jika kita juga membagikan/memperkenalkan Tuhan, Sang Penyedia keselamatan dan hidup kekal. Dengan demikian, hal kedua yang harus kita lakukan adalah:

2. Mengabarkan Injil dan mengajarkan kebenaran.
Injil dan kebenaran Allah adalah sesuatu yang sangat berharga dan bernilai kekal. Injil sangat penting untuk roh kita yang kekal agar sampai diperhentian yang tepat, yaitu kehidupan kekal dan bukan kematian kekal. Sayangnya tidak semua orang mengenal dan menerimanya. Bahkan mungkin ada banyak yang tidak mengenal daripada yang mengenalnya.

Itu sebabnya di ay. 37 Yesus mengatakan: Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Tuaian itu adalah jiwa-jiwa yang tersesat. Yang tidak mengenal namun merindukan Yesus. Kenapa mereka begitu merindukan Yesus? Bagaimana tidak? Umat yang mendapat berkat untuk menjadi berkat ternyata tidak melakukan bagiannya. Bangsa Israel pada waktu itu, hanya sibuk dan ribut dengan ritual-ritual agamanya sendiri, tetapi melupakan kerinduan hati Allah yang begitu mengasihi semua manusia, termasuk bangsa kafir. Mereka, begitu bangga jadi umat pilihan Allah sehingga tak pernah putus harap menanti kejayaan Israel. Akibatnya, mereka memandang rendah bangsa lain.

Semua itu sebenarnya tak lepas dari kesalahan para pemimpin agama mereka. Para pemimpin Yahudi yang seharusnya mengajarkan kebenaran, malah membingungkan orang banyak dengan fanatisme berlebihan terhadap hukum Taurat. Pemimpin yang seharusnya melepaskan mereka dari derita penjajahan, malah menimpakan beban berat dengan ritual-ritual agama yang melenceng tujuan dan esensinya. Pemimpin yang seharusnya memperkenalkan Yesus sebagai Mesias yang sekian lama dinanti-nanti, malah memfitnah dan membunuh-Nya di atas kayu salib.

Itu sebabnya, mereka butuh Yesus yang dapat memindahkan mereka dari jalur menuju maut ke jalur menuju hidup. Mereka butuh Yesus yang menguasai kebenaran dan yang adalah Kebenaran itu sendiri. Yesus adalah seorang Guru Agung. Ia tidak hanya menyembuhkan sakit penyakit, memberi makan orang banyak, dan bersimpati pada duka orang lain. Ia memang sanggup membuat berbagai mujizat. Akan tetapi, Ia sangat sadar bahwa kehadiran-Nya di dunia adalah untuk mengabarkan injil dan mengajarkan kebenaran.
* Injil adalah kabar gembira bahwa Allah begitu mengasihi dunia sehingga Ia mengutus Yesus datang untuk menyelamatkan manusia. Siapa yang percaya pada-Nya akan diselamatkan.
* Kebenaran adalah bahwa selain penuh kasih, Allah juga adil. Ia sangat membenci dosa sehingga setiap orang percaya harus menguasai diri dari dosa dan menjadi serupa dengan Yesus.
Itulah yang diwartakan Yesus ketika berada di Bait Allah, sinagoga, bukit, desa, pantai, dan di mana saja. Ia begitu giat dan kreatif agar orang banyak dengan mudah dapat memahaminya.
Ya, injil dan kebenaran Allah adalah hal penting yang paling dibutuhkan oleh orang banyak. Yesus ingin mata mereka tertuju pada Allah, bukan mujizat-mujizat yang memberikan kepuasan secara jasmani.

Sebelum menjalani praktek-praktek pelayanan saya adalah orang yang paling gampang jatuh kasihan. Saya sering kehabisan uang sebelum waktunya karena sering memberi atau meminjamkan uang kepada orang lain yang membutuhkan. Karena sifat heroik saya itu, saya sering ditipu dan dimanfaatkan orang sehingga sering juga timbul penyesalan setelah melakukan kebaikan. Setelah memasuki masa praktek, saya belajar banyak tentang belas kasih yang penuh hikmat. Seorang hamba Tuhan senior di tempat pelayanan weekend saya meneladankan hal ini. Ketika ada jemaat yang mengeluh kekurangan uang, ia tidak gampang terseret emosi untuk mengeluarkan dompetnya dan memberi sejumlah uang. Saya sempat panas dan bertanya dengan ketus: “Pak, bukankah gereja seharusnya segera bertindak?” Terus terang saja, waktu itu saya sebenarnya sudah siap untuk memberikan lembaran uang seratus ribu saya yang terakhir buat jemaat itu. Tetapi, tidak jadi karena hamba Tuhan itu berkata: Ve, uangmu itu sungguh-sungguh ga ada artinya buat dia. Paling dua-tiga hari sudah habis. Setelah itu, bagaimana nasib mereka? Mereka akan minta lagi padamu atau pada orang lain. Kalau tidak minta, ya berhutang. Lama-lama meminta belas kasih dan berhutang menjadi kebiasaan hidup mereka. Itu bukan perubahan hidup, melainkan menjerumuskan orang. Pemberian harus diimbangi dengan injil dan pengajaran.

Saat merenungkan bagian ini, saya pun mengangguk-angguk membenarkan perkataan hamba Tuhan tersebut. Karena apa? Selain cuek terhadap situasi sekitar, orang Kristen juga sering dinilai sebagai pabrik kasih tanpa hikmat. Gampang menyumbang dan berderma, tapi malas mengajarkan keterampilan yang diperlukan. Gampang kasihan, tapi malas mengarahkan kepada kebenaran. Gampang bersimpati dan berempati dengan kesusahan orang, tapi susah pergi menginjili. Gampang menghafal ayat-ayat Alkitab, tapi sulit melakukannya.

Jika dipertahankan terus, sikap demikian akan menyesatkan. Orang tidak akan lagi mencari Tuhan. Mereka datang ke gereja dan menjadi Kristen hanya untuk mendapat kesejahteraan hidup. Mengabarkan injil dan mengajarkan kebenaran memang tidak mudah. Bahkan seringkali merepotkan. Kita dituntut untuk tahu kebenaran lebih banyak sehingga harus benar-benar menguasai Alkitab. Kita dituntut hidup lebih benar sehingga bisa jadi teladan. Kita dituntut untuk rela meluangkan waktu dan tenaga lebih untuk mendampingi, memperlengkapi, mengarahkan, dan mengampuni jika mereka gagal. Kita dituntut untuk tidak kenal menyerah untuk menegakkan kebenaran kepada orang yang paling bebal sekalipun. Siapkah kita mengabarkan injil dan mengajarkan kebenaran?

Mengabarkan injil dan mengajarkan kebenaran memang adalah tugas kita sebagai orang percaya. Akan tetapi, kita sesungguhnya tak dapat jalan sendiri untuk menjangkau jiwa-jiwa yang tersesat itu. Kita butuh Tuhan untuk menolong kita karena Dialah Tuan, Sang Empunya ladang itu sendiri. Oleh karena itu, hal ketiga yang harus kita lakukan adalah:

3. Berdoa bagi pekerjaan misi Allah.
Seperti yang sudah sering kita dengar. Doa adalah sebuah disiplin rohani yang sangat akrab di telinga kita, namun juga yang paling sulit dilakukan. Padahal doa seharusnya merupakan pusat kerohanian setiap orang percaya. Mengapa demikian? Karena doa merupakan sarana komunikasi antara roh kita dengan Roh Allah. Dengan berdoa, kita menyatakan kita lemah dan Allah itu kuat sehingga kita butuh Tuhan. Dengan berdoa, kita memproklamasikan bahwa kita adalah hamba yang tunduk dan berbakti hanya pada Allah dan kehendak-Nya.

Itu sebabnya Yesus berkata dalam ay. 38: Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Ketika membacanya, ada beberapa pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya:
a. Mengapa sih Yesus berkata seperti itu seolah-olah Ia tidak punya kuasa untuk melakukan sesuatu?
b. Kalau pun bisa dan tidak bersedia, bukankah Yesus bisa meminta Allah untuk mengirimkan malaikat-malaikat-Nya?
c. Mengapa kita harus meminta agar Allah mengirimkan pekerja-pekerja dari antara kita, manusia yang lemah dan terbatas?

Salah satu kebenaran yang bisa menjawab pertanyaan tersebut adalah bahwa Yesus Kristus mau menjadikan manusia sebagai rekan kerja-Nya. Ia berkata: “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.” Bagaimana tidak, untuk seluruh dunia hanya ada Yesus dan 12 orang murid-Nya. Selain itu, dengan 3½ tahun Yesus dan para murid hanya menyusuri tanah Palestina saja. Sementara Dunia yang luas juga begitu merindukan Sang Mesias.

Yesus masih ingin agar seluruh penjuru dunia, termasuk sudut-sudut kumuh dan ujung-ujung primitif yang tak terjangkau, mendengar injil kabar baik itu. Akan tetapi, mereka tidak akan pernah mendengarnya jika tidak ada yang meraih tongkat estafet dari Yesus dan ke-12 orang rasul. Tidak akan pernah mendapatkan keselamatan jika tidak ada yang tergerak untuk menginjili mereka. Itu sebabnya Yesus meminta para murid-Nya untuk berdoa kepada Allah dengan doa yang berasal dari hati yang penuh belas kasih kepada orang lain; doa yang lahir dari kebutuhan, doa yang dengan sungguh-sungguh dinaikkan. Untuk apa? Supaya Allah mempersiapkan prajurit-prajurit injil dari generasi ke generasi. Agar Allah terus menumbuhkan tunas-tunas zaman yang peka dengan bunyi denyut jantung Allah.

Sebelum percaya Yesus dengan sungguh-sungguh, saya sangat takut dengan kematian. Saya takut sekali kalau-kalau ada keluarga saya yang meninggal. Suatu saat saya pernah bermimpi melihat papa saya meninggal dunia (waktu itu beliau masih hidup). Di dalam keadaan tidur saya menjerit dan menangis sejadi-jadinya sampai terjaga dan menjumpai bahwa papa saya masih hidup. Ia sedang terlelap dan mendengkur di kamarnya. Masih dengan lelehan air mata, saya memeluk perutnya yang besar dan menempelkan telinga saya dekat di dadanya. Suara dengkurannya yang keras, hembusan nafasnya yang naik turun, dan bunyi jantungnya yang berdenyut pelan namun teratur, terasa bagai sedang berbicara: “Jangan takut Nak. Papa di sini bersamamu. Aku mengasihimu. Aku tidak akan mati sekarang.” Seketika saya menangkap bunyi denyut jantungnya dan merasakan ketenangan karena merasa dikasihi dan dilindungi. Sungguh nyaman sekali rasanya. Pada saat itulah saya tergerak untuk berdoa agar tetap merasakan kasih itu selamanya, meskipun pada dasarnya itu mustahil karena kenyataannya saat ini Papa saya sudah meninggal. Saya tak akan dapat merasakan denyut kehidupannya lagi.

Akan tetapi, kita masih punya seorang Bapa yang kekal yaitu Allah. Denyut jantungnya tak pernah akan berhenti, bukan saja untuk menjagai kita; melainkan juga untuk memegang dunia ini dan seluruh umat yang Ia kasihi. Dan saat ini, saya ingin mengundang setiap kita untuk lebih mendekat ke dada Allah. Dengarkanlah denyut jantungnya dengan cermat. Kita akan merasakan betapa denyutnya akan menjadi semakin lama semakin kuat dan cepat, seolah hendak berkata: “Tak seorang pun boleh binasa. Semuanya harus bertobat. Ya, tak seorang pun boleh binasa. Semuanya harus bertobat.” Dengarkan terus suara itu, tangkap denyut jantung Allah hingga menjadi denyut jantung kita sendiri. Sampai kita tergerak oleh belas kasih dari hati yang sama seperti Yesus. Yang melihat orang-orang di sekitar kita sebagai ladang yang telah menguning dan siap untuk dituai. Kalau kita sudah benar-benar menangkap dan menjadikannya sebagai denyut jantung kita sendiri, tidakkah kita akan tergerak untuk berdoa?

Berdoa agar Tuhan membangkitkan gereja-Nya untuk menginjili. Berdoa agar kita berperan sebagai minoritas yang menjadi berkat. Berdoa agar Tuhan memberikan kekuatan pada para pejuang injil di tengah ladang yang berat. Berdoa agar kuasa Tuhan sendiri yang bekerja melembutkan hati-hati yang dengan keras menolak injil.

LeRoy Eims dalam buku Penuai Yang Diperlengkapi pernah berkata bahwa salah satu dari lima hal yang menyebabkan kurangnya tenaga untuk menginjili adalah karena kita kurang berdoa. Oleh karena itu, siapkah kita berdoa bagi pekerjaan misi Allah? Dunia kita saat ini sedang sakit. Ia menangis dan meratap. Ya, jutaan manusia yang tak berpengharapan saat ini sedang menjerit karena merindukan seorang Gembala agung yang dapat menaungi mereka dengan sayap kasih-Nya. Yang bersedia memeluk mereka dengan tangan-Nya yang kuat. Yang dapat menyembuhkan sakit-penyakit dan mengenyangkan perut mereka yang lapar. Yang menuntun mereka ke jalan yang benar dan menyediakan jaminan akan sebuah tempat tinggal di keabadian kelak. Yang dengan kuasanya yang hebat memelihara gelora kasih dari generasi ke generasi. Sampai dunia yang terjungkir balik ini digantikan dengan era kemuliaan Kerajaan Allah, dimana tak ada ratap tangis dan kertakan gigi.

Sebagai orang percaya dan gereja Tuhan, mari kita tetap menjaga agar denyut kehidupan Kristen sejati dapat dirasakan oleh sekitar kita. Mari kita peka akan desakan belas kasih yang terpancar dari dalam hati nurani kita. Yaitu belas kasih Yesus yang menggerakkan kita untuk:
1. Memberikan sentuhan kasih secara langsung dan konkret (nyata).
2. Mengabarkan injil dan mengajarkan kebenaran.
3. Berdoa bagi pekerjaan misi Allah.

Jika kita sunguh-sungguh bersedia melakukannya, Tuhan Yesus telah berjanji:
Bahwa Allah turut bekerja dan meneguhkan firman itu (Mrk 16:20).
Bahwa Ia akan menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20).
Bahwa Allah akan mengirimkan Roh yang menghibur dan memperlengkapi (Luk 24:49).