Wellcome Brothers and Sisters!

From the fullness of HIS GRACE we have all receive one blessing after another. (John 1:16)


The LORD is my shepherd, I shall not be in want. (Psalm 23:1)

Tampilkan postingan dengan label Curahan rasa tanpa sensor alias fresh from the heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan rasa tanpa sensor alias fresh from the heart. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Desember 2010

JANGAN BIARKAN HAMBA BESAR KEPALA


Pedih...
Dihujani hujatan namun tak sanggup merintih
Langkahku kini tertatih-tatih
berjuang untuk bangkit dengan gigih

Tuan, sungguh hamba telah berusaha
Tetap berharap lewati semua asal Engkau beserta
Namun, pahit kenyataan terus-menerus menorehkan luka
Tolong, jangan biarkan hamba besar kepala

Berilah tanda yang telah lama hamba pinta
Kekuatan menimbang, mengambil putusan dengan hati lega
Tuntun kaki ini melangkah menjemput impian yang mana
Dan tolong, jangan biarkan hamba besar kepala

Tak mampu lagi hamba-Mu ini berkata-kata
Pandangan semakin kabur dibanjiri air mata
Hukum, hukumlah, hamba pasti kan terima
Asal, jangan biarkan menjadi besar kepala

Bandung, 19 Desember 2010

Rabu, 01 Desember 2010

MANA BOLEH ADA KETIDAKPUASAN? SEBALIKNYA, BERSYUKURLAH DALAM SEGALA KEADAAN

Akhir-akhir ini banyak ketidakadilan melintas dan bahkan membekas. Segala usaha untuk memperoleh bantuan dan perhatian manusia selalu kandas. Apalah daya karena memandang muka adalah ciri kental dunia, termasuk para pemuka yang di atas. Fakta membuat dirasa sah-sah saja untuk tidak puas.

Namun, hari ini muncul teguran dari sebuah pemandangan berharga. Di tengah guyuran hujan yang membasahi tubuh, terlihat sosok kumal wanita tua. Menadahkan gelas yang biasa dipakainya meminta-minta sedekah untuk menampung air hujan yang meluncur deras dari atap rumah tetangga. Hati berdebar menanti apa yang ia lakukan dengan itu semua.

Benarlah praduga bahwa ia meneguk air kotor kucuran atap demi menghilangkan lapar dan dahaga. Lagi-lagi rasa ngilu menyerang di dada. Hati luluh diingatkan bahwa tak seharusnya mudah terganggu dengan segala yang berkaitan dengan 'saya'. Setiap 'saya' yang mendapat limpahan kasih karunia seharusnya tahu panggilannya bagi kaum papa.

Ampuni hamba yang lengah, wahai Tuan. Terima kasih telah memberi sebuah peringatan. Mohon kekuatan penuh ketaatan untuk berkata kepada 'saya', "Mana boleh ada ketidakpuasan? Sebaliknya, bersyukurlah dalam segala keadaan!"

Selasa, 30 November 2010

SELANGKAH MAJU, SOBAT MUDAKU! ^^


"... Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." Filipi 2:3-4

Minggu, 28 November 2010 adalah moment yang perlu dicatat disini. Tiga dara yang manis dan cantik menapak selangkah keluar dari kotaknya. Gua tahu rasanya, Sobat mudaku. Ga nyamannya mengenakan rok yang membatasi gerak lincah kita. Ga demennya ngerasa terbatas, lemah dan centil dengan kain ringan, terbuka, dan melayang-layang itu. Sebaliknya, betapa serunya bertomboy-ria. Melanggar setengah batas kelemah-gemulaian demi menghirup kebebasan berekspresi. Bertahun-tahun gua tenggelam dalam kenikmatan itu.

Tentu itu tidak salah, Sobat. Toh, hidup ini adalah pilihan. Bagaimanapun kekaguman gua tetap mekar dalam relung-relung hati ini. Itulah saat engkau rela meninggalkan sejenak kenyamananmu sebagai hadiah kasih bagi seorang Kakak Rohani, Bapak Guru, dan Sobat gila-gilaan kita. Yah, itu pantas ia terima karena kasihnya, kebaikannya, dan sebagainya sesuai yang kau rasa. Kasihmu kepadanya sungguh luar biasa.

Bangga tentu saja tidak membuat gua lupa kebenaran. Gua berharap suatu saat nanti engkau tahu alasan yang benar dan sesuai mengapa kaum kita harus "demikian". Namun, fakta tetap fakta. Engkau tetap telah selangkah maju, Sobat mudaku!

Selasa, 23 November 2010

COBA SELAMI DERITA KORBAN MERAPI, DAPATI KETERBATASAN DIRI


Melihat Indonesia tak henti ditimpa bencana fisik dan moral, hati ini ikut miris-teriris. Gua berpikir pasti ada sesuatu yang bisa dikerjain untuk negeri tercinta, selain berdoa (bukan berarti berdoa itu tidak melakukan sesuatu loh). Makanya waktu ada seorang pemuda yang share mengenai keberangkatannya menjadi relawan kecil-kecilan di daerah bencana, jujur gua iri banget. Gua merasa raga ini bakalan terus-terusan terpenjara dalam cangkang kenyamanan pribadi dan tembok tebal gereja mewah, sementara ada saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang merana dihajar bencana.

Tapi,TUAN yang kuasa ternyata maha tahu dan maha pemurah. Diberinya sebuah kairos dalam kronos hidup gua. Berkat hati kasih umat, akhirnya gua pergi juga melawat wilayah letusan merapi. Dengan antusias, gua mendobrak batasan-batasan diri yaitu hal-hal yang gua ga demen antara lain: kelemahan fisik akibat menstruasi, naik mobil, duduk berlama-lama, panas, keringatan, debu, pakai masker, dan waktu persiapan pelayanan yang singkat.

Dua hari semalam, satu tim terdiri dari tujuh orang berpetualang makin mendekati merapi. Menatap ngeri gumpalan debu yang konon berpartikel tajam sekaligus beracun. Menganga lebar menyaksikan patahan-patahan pepohonan dan kerusakan materi. Mengelus dada mendengar kisah derita para korban. Ngilu sekali dada ini menyaksikan sejumlah anak-anak dengan tubuh bermandi debu merapi.

Tadinya, gua pikir dengan mempersiapkan pelayanan yang menghibur (children care) dan membawa bantuan logistik sudah cukup untuk mengurangi derita para korban. Pertanyaannya adalah ada berapa banyak korban yang sanggup ditolong dengan sejumlah dana yang telah dikumpulkan? Jawabannya udah pasti terbatas. Bukankah para korban tidak hanya menjalani waktu sekarang ini saja? Ada masa depan yang harus mereka jalani bersama keluarga, namun tanpa tempat tinggal, tanpa pekerjaan, tanpa harapan. Moral seperti apa yang sedang ditanamkan kepada para korban dengan pemberian bantuan? Kebergantungan terhadap belas-kasihan atau kegigihan menghadapi persoalan? Apakah cerita petualangan si Bundut (burung gendut bersama Bu Awan, Pak Matahari, Pak Gunung) dapat menghapus trauma akibat bencana?

Pertanyaan-pertanyaan yang ada menyingkapkan sebuah realita keterbatasan diri. Mau ga mau gua berkata pada diri sendiri, "You are not a hero! Jangan pernah berbangga karena telah menghirup debu merapi! Jangan pernah merasa telah cukup berkorban demi sesama! Apa yang Elo lakuin ga akan pernah cukup karena hanya Sang Pencipta yang sanggup!"

Gua pulang dengan kepala tertunduk. Gua putuskan untuk tidak memikirkan apa yang ga bisa gua kerjain? Fokus ini harus segera dialihkan pada apa yang bisa gua kerjain. Gua emang ga sanggup menanggung derita negeri ini sendirian. Tapi, mungkin gua bisa turut berperan serta mencetak anak-anak muda yang cinta Indonesia, anak-anak muda yang ga menganggap merah-putih dan garuda pancasila sebagai aksesoris yang 'cupu', anak-anak muda yang mau bertekuk lutut menaikkan doa bagi bangsa, anak-anak muda yang berpadu mengusap air mata ibu pertiwi. I'm not a hero. But, I can fight to create some. Alangkah indahnya tidak berjuang sendirian.


Selasa, 09 November 2010

D.O.M (DEO OPTIMO MAXIMO)


Dua tahun masa pelayanan sebagai fulltimer udah hampir selesai. Gua harus jujur bahwa emang bukan dua tahun yang mudah. Bukan salah orang laen kalo gua ngerasa blom maksimal jadi berkat buat mereka yang udah TUAN percayakan. Masa-masa evaluasi diri dan sharing-sharing dari senior selalu mengindikasikan... bahwa ada sejumlah beban dan muatan pribadi yang blom gua lepas hingga berkat-NYA tertahan.

Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur (walo bubur itu sebenernya enak banget, luph u bubur Gibbas-Kebon Jati). Gua sadar bahwa menyesali 19 bulan yang telah lewat tiada guna. Gua prefer berdoa mohon ampun... 19 bulan telah jadi dumb bukan D.O.M. Gua prefer wawas diri... keberhargaan diri gua bukan semata berasal dari penilaian atau penghargaan dari orang laen. Apa yang kelihatan dan yang fana bukan ukuran kebahagiaan gua. So, gua musti prefer buat terus berjuang... hal-hal kecil yang ada di genggaman ini harus jadi D.O.M.

Mohon TUAN terima tubuh, pikiran, emosi, ambisi, kehendak, suara, energi, kesehatan, hati, dan semua potensi yang tak sempurna ini supaya jadi D.O.M. Tetap berjuang sampai TUJUAN!!!