Wellcome Brothers and Sisters!

From the fullness of HIS GRACE we have all receive one blessing after another. (John 1:16)


The LORD is my shepherd, I shall not be in want. (Psalm 23:1)

Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Desember 2010

SESEDERHANA ANTARA AKU DAN DIA

Setiap kali ngerayain natal, gua kudu siap juga mengingat kejadian gua ada di dunia. Setelah beranjak dari usia lima tahun, gua ga bener-bener memperingati seperti yang gua lakuin buat orang lain. Bahkan sweet seventeen yang diidam-idamkan cewe buat reramean malah gua lewatin totally alone di rumah sambil makan indomie (abis ga ada yang laen). 27 Desember selanjutnya kebanyakan dilewatin dengan sederhana. Sesederhana antara aku dan DIA. Sayangnya, gua ga sempet lakuin tradisi ini pada 27 Desember 2010 karena berbagai aktifitas dan kondisi yang membuat ga bisa menghindari orang lain.

Akhirnya, datang juga kesempatan yaitu tepat dua hari setelah hari 'H'. Sendiri, tanpa kue (ada dikasih orang, tapi ga ikutan makan), tanpa tiup lilin (ada beberapa perayaan kecil yang diadakan, tapi gua minta orang lain buat niupnya), tanpa ritual make a wish, tanpa kado, tanpa orang-orang terkasih. Mungkin bagi Elo, ulang tahun begini nampak sangat menyedihkan. Gua ga siapin apa-apa buat diri sendiri, selain hati yang siap diuji. Bisa dibilang, ini adalah sebuah bentuk asah karakter. Tahun depan pengen bisa melepas ego besar-besaran. Harus siapin diri karena ada beberapa kenyamanan yang bakal gua lepas demi sebuah mimpi. Dan, inilah hasil perayaan sederhana itu yaitu sesederhana antara aku dan DIA.

Raga ini ada karena DIA
Maka layaklah mengingat keberadaanku dengan-Nya
DIA menyebut diri sebagai HAMBA
Maka aku adalah hamba dari SANG HAMBA
Tak banyak bicara, namun terus berkarya
Selalu memberi, bukan menerima
Siap bayar harga demi sebuah visi mulia
Sanggupkah aku meneladani-Nya?

Rasa ini tercipta oleh DIA
Maka layaklah kutumpahkan hanya kepada-Nya
Dia mengosongkan diri dan rela tanggung sengsara
Maka aku adalah murid sekolah derita
Tak berharap pembelaan manusia
Siap dilupakan dan dipandang sebelah mata
Tak mudah menjadi kecewa dan terluka
Sanggupkah aku dengan setia menanggungnya?

Malam ini adalah hari terakhir di tahun 2010 untuk menangisi diriku
Esok kan siap tinggalkan masa lalu
Songsong masa depan tanpa sedikitpun ragu
Karena kuyakin tak sendirian melaju

Sesederhana antara aku dan DIA, simple namun menguatkan. How great is THE LORD!

Kamis, 23 Desember 2010

NATALKU BERSAHAJA: KETAATAN DI TENGAH KESUSAHAN


Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Dua natal sudah kulalui di Bandung. Keduanya sangat kreatif, meriah, dan tentu saja mewah. Namun, ada yang berbeda pada natal kali ini. Di satu sisi, ada rasa senang melihat anak-anak muda yang begitu antusias mengasah talenta. Juga kunikmati gegap-gempita dan warna-warni karnaval natal. Namun jujur, semua itu sungguh melelahkan. Maka, kuputuskan menepi sejenak dari segala hingar-bingar interaksi dengan manusia dan juga dari kesibukan alam pikiran.

Entah kenapa yang muncul dibenak ini pertama kali adalah sosok Maria. Ia seorang perempuan belia yang aku perankan di atas panggung, 20 Desember 2010. Sekonyong-konyong kulihat diriku di kesunyian malam yang kudus. Aku termenung di jendela dengan mata menatap jauh ke langit, menembus kepekatan malam yang bertabur gemerlap bintang. Tidak hanya menikmati keindahannya; namun mengumbar angan dan menebar mimpi.

"Oh Tuhan, sungguh jauh rinduku tuk dapat dicapai!" Aku berteriak lagi dalam hati, "Tuhan, beri aku sepasang sayap tuk mengejarnya!" Kujulurkan tangan lagi ke luar jendela hendak menggapai sebuah bintang. Lalu, meleleh air mataku. "Ah, tak dapat kumeraihnya. Aku lelah menanggung semua beban yang membuatku menapak di bumi. Ingin segera kutanggalkan dan pergi menari-nari dengan sang mimpi."

Saat itulah kudengar sebuah suara lembut, namun begitu hangat. "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!" Kutengadahkan wajah mencari asal suara yang menentramkan hati itu; namun tetap tak terlihat. Ketakutan mulai merayapi nyali. Namun suara itu kembali menggema, "Jangan takut, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya, Allah telah berkenan membagikan hati-Nya dalam hatimu, menaruhkan firman-Nya dalam mulutmu, dan menyuntikkan kekuatan-Nya pada ragamu untuk menunaikan tugas mulia tertentu."

Maka jawabku, "Bagaimana mungkin, karena aku hanya manusia sederhana yang sering dipandang sebelah mata. Kemampuanku diragukan, usahaku tak dihargai, keberadaanku diabaikan." Jawabnya, "Immanuel! Allah besertamu, takkan tinggalkanmu!" Hatiku berdegub kencang bagai diserang cinta pada pandangan pertama. Bibir ini ingin berucap seperti Maria. "Sesungguhnya aku ini ham...." Kucoba namun tak sanggup. Fiat Maria ini terlalu berat. "Tidakkah Engkau mengerti kesusahanku?" tanyaku sambil berusaha membenarkan diri. Ia berkata lagi, "Immanuel! Allah besertamu, takkan tinggalkanmu!" Ah, degub itu kembali terasa dan bahkan semakin kencang. Dengan sisa kebebalan terakhir, kumenjerit sambil tersungkur di lantai nan dingin. "Aku tak sanggup. Terlalu pahit. Ijinkan aku melepas kuk dan mereguk kebebasan!" Sekali lagi dengan sangat lirih suara itu berkata, "Immanuel! Allah besertamu, takkan tinggalkanmu!"

Kini kehedakku tak dapat lagi menolak harmoni dengan kehendak-Nya. Ini natalku yang bersahaja. Kubelajar ketaatan di tengah kesusahan. Entah apa yang terjadi di depan. Ku mulai disanggupkan berkata, "Sesungguhnya aku ini ham..., ham..., hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Immanuel!

Selasa, 21 Desember 2010

IBUKU, PAHLAWAN IMANKU


1Timotius 1:5

Kebahagiaan seorang wanita seringkali diidentikkan dengan perannya menjadi seorang ibu. Itu sebabnya seorang wanita akan merasa lengkap jika ia telah melahirkan, merawat, mendidik dalam sekolah formal, menyaksikan ia mejadi seorang yang sukses dalam pekerjaan, menikah, dan menghasilkan para penerus keluarga. Akan tetapi, benarkah tugas dan kebahagiaan seorang ibu hanya sampai di situ saja? Kelahiran seorang anak dari buah kandungan seorang wanita memang adalah sebuah anugerah yang membawa kebahagiaan. Akan tetapi, anugerah yang membawa kebahagiaan sejati adalah ketika seorang ibu dapat memberikan warisan iman yang menghantar sang anak menjadi sukses di mata Tuhan.

Anugerah ini pernah dikecap oleh anak-beranak dalam keluarga Timotius. Ia adalah seorang anak yang lahir dari perkawinan campuran. Ibunya seorang Yahudi, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Ia adalah seorang muda yang sukses di mata Tuhan karena telah dipilih oleh Paulus untuk menjadi teman seperjalanannya. Ia dipercayai untuk melakukan pelayanan-pelayanan yang tidak mudah (1Kor 4:17). Ia juga dikenal mempunyai iman yang tulus iklas, bukan pura-pura (ay. 5). Dari manakah Timotius mempunyai iman yang seperti itu? Iman memang berasal dari Allah. Namun, Allah juga menganugerahkan iman melalui alat-Nya. Begitu juga dengan Timotius. Imannya yang murni ternyata diwariskan mula-mula dari neneknya (Lois) kepada ibunya (Eunike) dan kemudian dari sang ibu kepada Timotius.

Proses mewariskan iman tersebut juga tidak mudah. Eunike yang menikah dengan seorang kafir tidak dengan begitu saja meninggalkan imannya hanya karena cinta. Ia tetap bertahan walau mungkin tidak mudah hidup dengan orang yang memiliki kebenaran yang berbeda. Ia tidak hanya mempertahankan imannya, melainkan juga mengajarkannya. Sebagai seorang ibu, Eunike memiliki peran yang benar. Ia tidak pernah berkata, “Mari kita membesarkan Timotius secara netral saja dan biarlah ia memutuskan imannya setelah cukup umur.” Keteguhan Eunike untuk mewariskan iman yang benar kepada Timotius adalah salah satu alasan yang membuat Timotius sukses di mata Tuhan.

Di bulan Desember ini kita merayakan hari ibu. Kiranya di hari yang spesial buat para ibu ini, para anak diingatkan kembali akan kasih seorang ibu yang besar, bukan karena ia mewariskan harta yang berlimpah dan memberi kasih yang memanjakan; melainkan karena memiliki dan mewariskan iman yang sejati kepada Allah yang benar. Selamat hari ibu kepada Mamaku tersayang, Lidyawati. Terima kasih untuk sebuah warisan iman, walau engkau tak pernah lulus Sekolah Dasar. Terima kasih karena di masa lampau Mama telah mengantarku ke Sekolah Minggu, juga memberi teladan doa dan baca Alkitab secara rutin. Akhirnya, selamat hari ibu kepada semua ibu yang berbahagia karena imannya.

Doa: Bapa di surga, terima kasih kami panjatkan untuk seorang ibu yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkan kami. Terima kasih untuk setiap derita, tetesan keringat, pengorbanan, dan air mata Ibu, yang karenanya kami beroleh warisan iman kepada-Mu. Ampuni kami jika selama ini tidak atau belum dapat memperlakukan ibu kami dengan benar karena telah menyepelekan warisan iman yang Engkau percayakan kepadanya.

Selasa, 09 November 2010

KISAH TEMPAYAN RETAK: MENGENALI TUJUAN DAN KEBAIKAN TUHAN DALAM KELEMAHAN PARA PELAYAN


Ada kisah mengharukan mengenai tempayan retak. Kisah ini dimulai dari seseorang yang punya dua buah tempayan, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu. Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tak bercela dan selalu memuat air hingga penuh. Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak selalu saja tinggal separuh. Hal ini berlangsung setiap hari sampai dua tahun lamanya, yaitu si empunya tempayan selalu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan. Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya.

Kegagalan itu akhirnya membuat dia berbicara kepada si empunya, “Aku malu, sebab selalu ada air mengucur sia-sia melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.” Si empunya itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya? Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu. Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti sekarang ini karena tentulah tidak ada bunga.”

Kisah ini mewakili realita hidup kita di dunia. Saya pikir tidak ada satupun manusia yang sempurna, setidaknya akibat dosa mula-mula. Kelemahan, keretakan, keterbatasan, ketidakmampuan, kecacatan, baik jasmani maupun mental adalah natur hidup kita yang tak sempurna. Itu semua seringkali dipandang negatif oleh sebagian besar orang dan bahkan menjadi unsur penghambat besar bagi mereka yang melayani. Akan tetapi, seharusnya tidak demikian bagi orang percaya. Tuhan berkata, "Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.(Yes 55:8-9)." Ia bahkan menambahkan, "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11)." Di sini kita melihat bahwa penilaian kita sungguh tak dapat jadi ukuran. Bagai si empunya tempayan yang merancang sesuatu yang berguna bagi si retak, demikian Tuhan punya rencana indah atas hidup setiap pelayan-Nya, termasuk dalam kelemahan-kelemahan sekalipun.

Kelemahan bahkan menjadi suatu kesukaan buat Tuhan. Dalam kelemahan para pelayanlah, kuasa-Nya justru menjadi nyata sempurna (2Kor 12:9). Daud yang masih muda dan kecil-mungil menumbangkan raksasa Goliat. Musa yang rendah diri membebaskan dan menuntun umat Tuhan ke tanah perjanjian. Anak kecil dengan lima roti dan dua ikan menjadi pahlawan bagi 5000 orang lebih yang sedang kelaparan. If He can use anything, He can use you and me.

Sekarang aku bersyukur untuk sebuah gigi gingsul di antara deretan gigiku, yang telah menambah manis senyumku selama ini.

Terima kasih buat lidahku yang tidak fasih berbicara. Jika semua fasih bicara, siapa yang akan menjadi pendengar?

Terima kasih untuk tubuhku yang tidak proporsional. Keberadaannya membuat size busana jadi lebih berwarna. Berbahagialah para pengguna size L, XL, dst. Wakakakak...

Terima kasih buat papa-mamaku yang sederhana karena itulah aku tumbuh menjadi seorang pejuang.

Buat papaku yang telah mendidik anak-anaknya dengan keras, berbanggalah di surga sana. Anak-anakmu dalam kelemahannya masih ada dalam "track" sampai saat ini adalah karena didikanmu, omelanmu, dan pukulan sayangmu.

Buat mamaku yang tak berpendidikan tinggi, berbahagialah di rumah sana. Anak-anakmu dalam kelemahannya masih ada dalam "track" sampai saat ini karena tak pernah kekuarangan kasih sayang, selalu cukup dukungan hingga tak perlu terobsesi mencari-cari kasih yang tak pasti.

Buat semuanya yang pernah menyakitiku, sengaja ataupun tidak, kalian adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Terima kasih pernah menjadi tatah dan palu. Walau sakit, tapi dipakai Tuhan untuk membentuk keindahan di dalamku.

Buat semuanya yang pernah kusakiti, sengaja ataupun tidak, maafkanlah aku yang lemah. Kelemahanku ini membuktikan bahwa hanya Tuhan saja yang hebat dan sempurna.

Terima kasih terbesar kupersembahkan bagi Tuhan yang tanpa kelemahan dan keterbatasan.

D.O.M

Rabu, 25 Agustus 2010

CERITA CINTA


Sebagaimana ribuan cerita lainnya, perjalanan sepasang insan yang dimabuk cinta juga dimulai dengan dua kata, “pada mulanya.” Pada mulanya, ada dua buah planet yang berbeda, namun terlihat begitu indah dan serasi dari bumi.

Adalah Mars, bagian dari sistem solar kita yang dikenal sebagai the red planet (planet merah). Itu sebabnya kita melihat langit nan biru di luar sana dapat berubah menjadi oranye kemerah-merahan karena pantulan warna dari permukaannya. Permukaan Mars sesungguhnya adalah padang gurun, namun sangat dingin.

Lainnya adalah Venus, planet terdekat dengan bumi. Permukaan Venus merupakan bebatuan yang kering dan panas. Ia nampak sangat cantik dengan sinar matahari yang memantul melebihi terangnya banyak bintang.

Itulah pria dan perempuan, yaitu cahaya rupa Allah yang disatukan dalam ikatan cinta. Allah berkata: "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej 2:24)." Wow, tak salahkah Allah bahwa asam di gunung dan garam di laut dipertemukan-Nya dalam sebuah belanga untuk menghasilkan masakan yang istimewa? Ya, itu benar adanya. Sepasang pria dan wanita dipersatukan dalam keberbedaan agar mereka bertumbuh menjadi makin sempurna.

Bagaimana tidak, mereka merepresentasikan dua hal yang berbeda namun satu jua dan tak terpisahkan. Pria merepresentasikan Allah yang mengasihi umat, yaitu yang direpresentasikan oleh wanita. Representasi ini bukanlah pengesahan kedudukan siapa yang lebih tinggi dari siapa. Representasi ini lebih memeragakan KASIH terindah sepanjang masa. Kasih yang tak pernah luluh-lantak oleh apapun juga.

Seharusnya memang tak akan berakhir sampai maut yang memisahkan, walau ada dua kepribadian yang berbeda. Pahami dan hayatilah:

Pria adalah the Head of the house (kepala rumah tangga). Sebagaimana Mars yang beriklim keras dan dingin, pria adalah sosok yang keras dan kuat di luar, namun sesungguhnya rapuh di dalam. Ia berpikir global dan luas bagai sebuah padang gurun.

Lain halnya dengan si cantik Venus. Ialah the Queen of the house (ratu rumah tangga). Venus yang dipenuhi bebatuan menghantar para wanita menjadi pribadi yang tabah dan keras, walau secara fisik nampak lemah. Ia berpikir detail sehingga nampak begitu rumit bagai jalinan benang ruwet.

Tak heran jika tugas mereka berbeda namun saling melengkapi demi kebaikan adanya.

Dengan naturnya, pria bertugas sebagai Nahkoda Kapal:
1. Pencari nafkah.
2. Pengatur arah rumah tangga.
3. Memelihara kesejahteraan rumah tangga.
4. Menjaga keseimbangan kebahagiaan keluarga.

Di sisi lain yang melengkapi, wanita bertugas sebagai Menteri Dalam Negeri:
1. Menguasai seluruh rumah tangga.
2. Mengatur tatanan rumah tangga.
3. Mendukung kesuksesan suami.
4. Mendidik anak-anak (khususnya pada masa balita).

Keduanya disatukan untuk menjemput cinta yang dapat langgeng seumur hidup, sampai uban menjuntai menghiasi kepala, sampai bintik-bintik hitam bersatu dengan keriput mewarnai permukaan kulit, dan sampai maut memisahkan mereka.

Denpasar, 20 September 2008

Kamis, 12 Agustus 2010

Bosscha Membuatku Nampak Begitu Kecil; Bapa Membuatku Merasa Begitu Besar


25 Juni 2009 ...
"Misi luar angkasa... blast off!" Ya, serombongan astronot (mostly junior astronout) lepas landas dari balik dinding gereja yang megah menuju dinding lain yang membuka tirai cakrawala. Bosscha adalah nama keren dari sebuah tempat yang telah membingkai tata surya dalam sebentuk layar LCD dan sebentuk tabung yang dinamai teleskop. Walau amat sangat jauh dari keasliannya, namun toh tetap dapat memperkenalkan gambaran umum dari kedalaman relung-relung semesta kepada para laskar cilik yang sedang belajar menatap dunia di hadapannya. What amazing place!

Setelah beberapa hari sebelumnya memulai petualangan dengan berkenalan dan berpesta bersama "BIANGNYA," perjalanan para laskar cilik menuju Bosscha diharapkan mampu memperlihatkan kejeniusan SANG PENCIPTA dan bagaimana IA sesungguhnya telah, sedang, dan akan selalu terlibat secara akrab dalam setiap detil keberadaan semesta. Tujuan ini sama sekali tak terdistorsi oleh keinginan memandang indahnya bintang karena Teleskop Zeiss Besar itu tak akan efektif memamerkan panorama perbintangan yang mempesona mata di pagi hari nan cerah. Bahkan duduk berdesak-desakkan dan bertumpuk-tumpukkan di sebuah ruang kotak kecil tak mampu membelokkan perhatian mereka dari layar LCD yang menyajikan gambar seluk-beluk luar angkasa. What amazing journey!

Entah mengerti atau tidak, sadar ataupun tidak. Derajad ketegangan pada kornea mata dan bibir yang mengaga tak akan berdusta, bahwa ada ketakjuban yang besar ketika mereka diperhadapkan dengan kreatifitas tangan ALLAH, THE RULER OF UNIVERSE. Pantaslah sang nabi besar berkata: "Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat (Yesaya 40:26)." Dan sang biduan bernyanyi: "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mazmur 19:2)."

Perjalanan misi luar angkasa dimulai dengan memperkenalkan planet-planet keluarga bumi, lalu pada empat planet berikutnya yang dijuluki planet keluarga Jupiter. Jajaran planet-planet super raksasa tersebut diperkecil dan disesuaikan begitu rupa ukurannya agar kami dapat menikmati keindahan bentuk utuhnya. Wow! Para penghuni luar angkasa yang luar biasa ini nyata-nyata diperlihatkan tak sendirian melanglang buana di balik misteriusnya langit.

Semuanya itu diperlihatkan bagai sejumlah pernak-pernik mikro debu dan gas yang beraneka bentuk, warna, serta fungsinya. Mereka saling berinteraksi melalui gaya gravitasi dan dinamika ini menyebabkan tarikan debu-debu mikro lainnya hingga timbulah sistem dengan struktur yang kompleks. Proses tersebutlah yang melahirkan obyek-obyek langit nan eksotik seperti sebuah planet, bintang atau galaksi. Amazing! Tak dapat disangkal bahwa semua itu merupakan suatu kala dengan langkah hidup yang jauh di luar jangkauan pencapaian ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.

Bayangkan saja salah satu diantaranya yaitu Matahari! Diameter Matahari sekitar 1.390.000 km. Sementara diameter Bumi sekitar 12.740 km. Bila Bumi dimasukkan dalam Matahari, Matahari bisa menampung sebanyak 109 Bumi. Kebayangkah sebesar apa? Suhu inti Matahari berkisar dari 15.000.000 derajat Celsius pada inti dalam, sedangkan pada inti luar mencapai 7.000.000 derajat Celsius. Dan suhu pada permukaan matahari hanya 6.000 derajat Celsius. Tinggal di Bumi dengan suhu 35-40 derajat Celcius saja sudah membuat kita kepanasan dan bermandikan keringat. So, kebayangkah gimana panasnya?

Namun demikian, bintang pribadi kita itu ternyata kurang luar biasa dalam banyak hal. Ia tidak begitu besar dan tidak terlalu panas karena ada bintang-bintang lain yang jauh lebih dahsyat besarnya dan panasnya. Kalau matahari saja sudah begitu dahsyat besarnya, kebayangkah what a small me? Or can I say us? Hal ini sudah lama disadari si penyanyi: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya (Mazmur 8:4-5)?"

Sekalipun disebutkan bahwa manusia makin pandai membaca gejala-gejala unik perhiasan langit (bintang), pandai meramal energi yang dibangkitkan dalam tungku nuklir si penghasil panas (matahari). Namun, kondisi tata surya tentu tak seenteng yang kita bayangkan. Matahari sendiri disebutkan sering berubah-ubah. Gangguan-gangguan dalam permukaannya saja dapat mempengaruhi seluruh tata surya. (Catatan sejarah pernah menyebutkan bahwa pada 1989 pernah terjadi badai matahari yang menyebabkan padamnya listrik seprovinsi Quebec. Peristiwa yang sama melelehkan kumparan-kumparan stasiun transformator di Salem, New Jersey, serta menimbulkan kebakaran dan susut daya sekawasan.)

Belum lagi ancaman hujan meteor yang setidaknya dapat memuntahkan seratus meteor dalam satu jam ke arah bumi, tempat kita hidup dan bernaung. Jika sebuah batu meteor saja dapat melubangi bumi dan menimbulkan kawah meteorit yang hebat, apalagi seratus? kebayangkah what a fragile life! Or can I say our life?

Seperti kata sang pujangga dan diamini dengan fakta dari Bosscha, siapakah kita manusia? Kita ini begitu kecil dan hina. Hanya saja sang pujangga tak berhenti pada fakta sebagaimana yang dipaparkan oleh Bosscha. Ia pun tidak meratapi nasib diri sedemikian rupa hingga runtuhlah peradaban dan harga diri kita sebagai manusia. Gurat-gurat kebanggaan justru terlukis begitu nyata dalam bait-bait lagu selanjutnya: "Namun ALLAH membuat manusia hampir sama seperti diri-NYA, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, membuatnya berkuasa atas buatan tangan-NYA (Mazmur 8:6-7)."

Syair-syair indah ini menjelaskan bagaimana tiap-tiap penghuni tata surya tidak saling bertabrakan satu dengan lainnya; melainkan dengan rapi berkendara di jalurnya masing-masing. Hingga lalu-lintas di Bandung pun ga ada apa-apanya jika dibandingkan dengan lintasan orbit mereka yang tertib dan sama sekali tak memerlukan bantuan Polisi lalu lintas jagad raya. Bahkan tak ada traffic light di sana. Mata siapakah yang begitu jeli mengawasi jalannya kehidupan luar angkasa nan rumit, selain mata BAPA?

Jelaslah sudah mengapa harus ada Jupiter, planet terbesar di Bima Sakti. Tempatnya begitu tepat hingga menjadi sebuah payung pelindung raksasa bagi bumi. Kalau saja ia tak di tempatnya, maka bumi akan dihantam komet seribu kali lebih sering daripada biasanya. Amazing! Kekaguman pada Jupiter yang kuabadikan dalam sebuah nama untuk ikan cupang kesayanganku perlu dikembalikan berlipat kali ganda kepada SOSOK mengagumkan dibalik keberadaan planet raksasa itu. Tangan siapakah yang menatanya begitu rupa, selain tangan BAPA?

Sesungguhnya, fakta-fakta yang ada membuktikan bahwa alam semesta yang begitu luas tersebut diciptakan khusus untuk mendukung hidup dan kehidupan kita, manusia. Terlebih dari itu, BAPA mencurahkan segenap keberadaan diri-NYA di dalam ANAK-NYA, YESUS, untuk memberi kehidupan yang lebih luas dan kekal dibanding luas dan kekalnya semesta. Itu sebabnya dengan penuh sayang, SANG TUAN PENYAYANG yang telah menghinakan diri-NYA sendiri berkata dengan lembut: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)."

Aliran nafas yang keluar dari bibir-NYA itu kemudian seolah menjadi nafas hidup abadi yang dihembuskan ke dalam bibir rohani kita, yaitu yang percaya dan mengandalkan-Nya semata untuk memperolehnya. Hidup bahkan menjadi lebih hidup ketika karya sastra agung yang hidup itu dengan lantang menyatakan: "Tetapi kalian adalah bangsa yang terpilih, imam-imam yang melayani raja, bangsa yang kudus, khusus untuk Allah, umat Allah sendiri. Allah memilih kalian dan memanggil kalian keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Nya yang gemilang, dengan maksud supaya kalian menyebarkan berita tentang perbuatan-perbuatan-Nya yang luar biasa (1Petrus 2:9)." Kasih siapakah yang begitu besar dan rela dicurahkan sepenuhnya kepada mahluk hina yang tak pantas menerimanya, selain kasih BAPA?

Apapun keadaan kita, ingatlah betapa besar dan mulianya kita di mata BAPA. Kasih-NYA yang begitu hebat itu meletakkan kepercayaan yang begitu besar kepada para laskar cilik dan yang mengirim mereka untuk berbagi waktu serta kesenangan pada laskar-laskar cilik lain yang tak berayah maupun beribu. Operation kids to kids memang tak akan sempurna berjalan. Namun, ketulusan menyambut kepercayaan BAPA dan perjuangan dalam proses keserupaan dengan ANAK-NYA adalah tujuan utama yang hendak dicapai dalam MISI LUAR ANGKASA.

Hmmh, beribu-ribu syukur kupanjatkan pada-NYA. Bosscha memang membuatku nampak begitu kecil; namun BAPA membuatku merasa begitu besar. Soli Deo Gloria!

Love as a Communicable Atribute of God in My Name is Khan: What a Shame Me!


Apakah sebuah kebetulan gue bisa nonton film My Name is Khan (080310)? I don’t think so. Emang sih, gue biasanya ga terlalu demen nonton. Kalo mo nonton, biasanya harus nunggu rekomendasi orang laen. Tapi, kali ini beda. Mulanya, gue pilih tuh film gara-gara nama beken Shahrukh Khan dan Kajol yang legendaris. Terkenang gimana gue nangis abis menghayati lakon “cinta” mereka berdua di Kuch Kuch Hota Hai. Dan di film ini pun ga jauh beda… pokok’e mbrebes mili poll. Intinya, gue selalu percaya kalo sebuah kairos ada atas seijin Tuhan buat ngebentuk hidup seseorang, termasuk gue dwonk. ;p

Yang mo gue bagiin adalah sebuah perasaan yang beda waktu nonton film ini. Hampir mirip dengan waktu nonton aksi Benicio Del Toro di Wolfman, yaitu membekas dalam. Kalo Wolfman menyisakan kenangan simpati haru dan belas kasihan pada kemalangan tokoh Lawrence Talbot yang diperankan oleh Toro; My Name is Khan lebih mengusik si wild thought yang mendekam di otak gue.

Yang membuat My Name is Khan jadi menarik—specially buat gue—adalah karena berlandaskan true story. Peristiwa tragis di WTC Amerika Serikat pada 9 September 2001, yang adalah pemicu isu rasialisme pada keturunan India Muslim—khususnya yang bernama belakang Khan—menjadi background cerita. Apalagi sang Mega Star, Shahrukh Khan sendiri, juga pernah jadi korban paranoia Amerika terhadap Islam. Nama belakang Khan ternyata pernah jadi masalah buat dia pada 14 Agustus 2009. Ia menjalani pemeriksaan selama dua jam untuk bisa masuk ke negeri Paman Sam. Tak heran ada pernyataan yang menyebutkan jika kalender orang Kristen dibagi jadi BC dan AC, maka kalender kehidupan orang India Muslim di Amerika dipisahkan oleh 9/11.

Sebuah blog yang menyebut dirinya Buaya Film menyebut ada tiga komponen penting dalam film ini, yaitu kisah cinta, Islam dan autisme. Ga heran kalo orang bakal mikir begitu karena tiap peritiwa bagai disusun untuk mengumbar romantisme cinta sang tokoh utama Risvan Khan dengan ibunya; Risvan Khan dengan Mandira (Kajol); Risvan Khan dengan Islam; Risvan Khan dengan kemanusiaan. Seluruh adegan cinta-kasih di dalamnya memang nampak dibuat dalam satu sudut pandang yang membela kemanusiaan dan Islam. Pengontrasan antara tokoh Risvan yang autis dengan tokoh ulama yang menyerukan jihad bernama Dr. Faizal Rahman, seolah jadi cemooh bagi para teroris. Bagaimana tidak? Dari mulut seorang ”abnormal” karena terlahir dengan asparger sindrome (semacam autisme) keluar ungkapan nurani manusia normal, ”My Name is Khan and I’m not a terorist.” Dari sosok sederhana Risvan Khan juga memancar keteguhan iman dan rasa cinta pada kemanusiaan. Sedang dari para teroris yang nampak normal, memancar nafsu membunuh yang abnormal, yaitu membunuh manusia dan kemanusiaan dalam dirinya sendiri. Ck, ck, ck, ck...

Jadi, apakah sesungguhnya ini sebuah film tentang Islam? Mulanya gue ga berpikir begitu karena di awal cerita, ibu Risvan yang bijak mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada dua tipe manusia, yaitu manusia yang baik dan manusia yang jahat. Kebaikan dan kejahatan manusia sama sekali ga ada kaitannya dengan agama. Yang ini berbau pluralis kali. Tapi, di penghujung kisah gue mulai jadi rada resah. Diceritain kalo si Risvan dan temen-temen muslimnya pada akhirnya jadi hero buat sebuah masyarakat Kristen di Georgia yang terkena bencana alam.

Kali ini, penonton layaknya sedang diarahkan buat ngeliat Islam sebagai agama cinta-kasih, bukan agama teroris. Juga sebelumnya diperlihatkan adegan di mana Risvan berkata bahwa sebuah keluarga terbentuk bukan semata karena ikatan darah; melainkan adanya ikatan cinta walau di tengah perbedaan ras, suku, dan agama—ungkapan yang sama pernah muncul dalam Spy Next Door-nya Jacky Chan. Gue berkata dalam hati, “Wah, ini jelas-jelas plagiat nih. Cinta kasih kan trade mark-nya orang Kristen?” Kebayang ga wajah gue waktu itu? Hahahaha... yang jelas bukan allay kok. Cuman ngernyit ajah.

Wild thought itu toh sempet bikin gue ngeliat sekitar dan tersadar bahwa ada kemungkinan kalo gue adalah kaum minoritas di studio itu. Jadi ngeganjel dan rada kaku suasananya gara-gara itu. Namun lagi-lagi gue diingatkan bahwa kasih ternyata bukan milik orang Kristen saja. 1Yohanes 4:7 menyebutkan bahwa kasih berasal dari Allah. Dengan kata lain, kasih adalah milik Allah itu sendiri. Siapapun yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Dia. Atribut kasih made in Allah ini akan menempel dan memberi identitas pada setiap ciptaan-Nya, termasuk pada saudara-saudari yang adalah Muslim—terlepas dari keyakinan keselamatan mereka yang beda. Huaaaaaaa, gue yang mengklaim diri sebagai orang yang berjuang buat mengasihi Tuhan, sesama, dan diri sendiri ini tanpa sadar juga terjebak kesombongan agama. What a shame me! Bukankah gue seharusnya berbahagia bahwa cinta-kasih bisa merebak di dunia yang penuh dengan kejahatan ini?

Wah, lagi-lagi gue diingatkan bahwa cinta-kasih adalah murni milik Allah yang juga dikomunikasikan pada manusia yang diciptakan-Nya. Itu sebabnya, sejahat apapun seorang manusia pasti ada setitik kasih, warisan DNA Allah, yang secara potensial terkandung di dalam nuraninya. Permasalahannya adalah seringkali DNA kasih itu justru dipinggirkan, digusur, dan ditutupi dengan berbagai alasan “pribadi” yang corrupted by sin of course. Itu sebabnya, tanpa kesadaran penuh bahwa kasih yang pure adalah hanya milik Allah maka gue bakalan mengasihi dengan cara gue sendiri.

Allah dengan jelas mempertontonkan kasih murni yang penuh ketulusan dan tanpa rasa curiga dalam diri Yesus, yang adalah Allah sekaligus Manusia sejati. Dengan demikian, merasa diri paling oke dalam hal mengasihi ga membuat gue lebih baik dari para penganut rasisme. Huft… malu mode on deh gue di hadapan tokoh Risvan yang berhati murni. Kekaguman pada sosok Risvan yang autis ini ga ditujukan buat anda-anda semua ngeliat gue sebagai seorang pluralis atau humanis. Gue cuma sedang berjuang buat jadi pecinta sejati. Salam cinta-kasih!

kasih VS KASIH? No, kasih = KASIH!


Matius 25:40
Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

1Yohanes 4:19
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

21 Juni 2009 ...
Hiruk-pikuk kota Bandung kutinggalkan sejenak menuju lekukan bumi yang lebih tinggi yaitu di sisi lain daerah yang menjadi tempat tinggalku selama hampir 3 bulan ini. Tanpa basa-basi kusebutkan bahwa "Lembang" adalah nama lokasi tempatku belajar sesuatu kali ini.

Nama besar Lembang sebagai daerah wisata yang sering dikunjungi (ya, setara dgn Malang, Batu, Tretes, or Prigen di Jatim d) tidak menjamin orang menikmati kesejukkan. Huff... siang itu efek global warming juga sangat terasa di sana (ah, jadi ingat daerah perantauanku setahun kmrn, Bali).

TTM... jangan berpikir macam-macam karena itu adalah tempat hang out terpilih untuk mengadakan sebuah acara yang sudah lama tertunda. Selain hijau perbukitan yang menyejukkan mata, rimbunan kebun sayur organik, dan lambaian bunga warna-warni; ada sebuah pemandangan kontras yang menggelitik otak kecil, di mana hati dan nuraniku juga bercokol di sana.

Sejumlah ABG kota, berkulit putih, bermata sipit, dengan semangat "gaul" berhadapan dengan ABG daerah pinggiran yang berkulit agak gelap, bermata belo, dengan sikap malu-malu. Ga bisa disangkal bahwa kedua kelompok itu masih dalam spesies yang sama, memakan makanan yang sama, dan diciptakan oleh Tuhan yang sama. Entah apa alasan ilmiah pastinya, yang jelas ada dinding pembatas yang tak kelihatan dari kedua belah pihak.

Eksklusifitas masing2 otomatis buyar ketika Dynamic Community Team meminta mereka membaur, melebur, tanpa takut terbentur. Mula-mula nampak keengganan, namun pada akhirnya suasana mencair oleh sebuah kemiripan pada diri mereka... semu merah merekah menghiasi kulit mereka yang kena terik mentari. Sengatan sang raja siang yang tak pernah mau berkompromi ternyata ga bisa terlalu lama menahan mereka untuk tidak tenggelam dalam aktifitas bermain bersama. Games sederhana yang bikin gemes itu sukses abis.

Semu merah dikulit wajahku yang telah ternoda oleh terik matahari Bali semakin merona ketika kedua mata minus 150 ini menatap gejala-gejala aneh di antara para ABG perempuan. Ah... pipi merah mereka lebih merah dari kedua pipiku karena hati mereka disentil simpati pada seorang jejaka tampan, penghuni Rumah Kasih--sebuah Panti Asuhan yang kami kunjungi hari itu. Dengan malu-malu namun sangat jujur mereka mengaku: "Ah, ganteng sekali cowo itu, Cie. Gemesin deh. Aku mau kenalan, mau kenalan sama dia. Tapi, ... aku malu. Malu tapi mau."

Hmhh... rasa itu takkan pernah kualami lagi.

Lirikan mata sampai sorot tajam menghujam cowo SMA berbaju pink yang katanya ganteng itu. Pantas saja, ia mulai merasa resah, gelisah, bibirnya selalu mendesah. Entah bangga, entah minder, entah suka, entahlah? Kabut bergelayut dalam perasaannya karena jadi fokus pembicaraan cewe-cewe kota yang cantik, energik, dan siap jadi gerombolan fans fanatik. Bingung dan salah tingkah tergambar jelas pada gerak-geriknya yang tak lagi se-cool sebelumnya. Magnet itu memang tak pernah gagal menciptakan gaya tarik-menarik pada kutub + dan - dalam diri 2 gender yang berbeda. Short-term feeling of attraction... istilah yg rada maksa memang.

Ah... rasa itu takkan pernah kualami lagi.

Seekor kumbang boleh dikelilingin banyak kuntum bunga, namun hanya boleh satu bunga saja yang dikecapnya. Rupanya, ada juga yang berhasil menarik perhatian Si Ande-Ande Lumut versi Lembang itu. Tangannya meraih tangan seorang gadis manis dan dengan penuh penghayatan keduanya berkenalan. Rona-rona merah kembali bersemu di antara kedua sejoli itu. Is it love at the first sight? Who knows, but God.

Ck, ck, ck... rasa itu takkan pernah kualami lagi.

Waktu terus bergerak dan suasana sudah mulai memanas setelah menyantap nasi ayam bakar, ikan nila bakar, tempe-tahu goreng, sambal, n lalapan khas TTM. Walau disiapkan oleh pramusaji Bule berlogat sunda, namun menu siang itu teteup masih sangat sundanese (bingung juga kenapa Bule muda dan ganteng bisa jadi pramusaji?).

Apakah rasa kenyang yang mendorong kemesraan itu? Beberapa ABG kota yang tergerak mulai beraksi penuh empati. Melepas kocek dan menawarkan kasih dalam sebentuk minuman pada ABG-ABG Rumah Kasih yang kehausan. Keramahan bertebaran menjelang akhir tatap muka kedua kubu di hari itu. Apakah yang terkandung di dalam kehangatan itu? Apakah demi sebuah simpati dari seorang jejaka, idola baru versi hari itu? Apakah demi merengkuh pujian manusia? Ataukah gerakan Roh Kudus lewat tema firman yang didapat pagi harinya (Tema: Permata Kasih; dari nast yang tercantum di atas)?

Iiiih, pikiran liarku selalu menghasilkan tanda tanya. Seolah sedang mengkontraskan kasih untuk manusia dan KASIH untuk Tuhan. Entah teologi dari mana, pastinya yang dikorupsi dosa, hingga diselipi oleh curiga pada mereka yang sedang belajar memancarkan cahaya kasih, warisan YESUS KRISTUS, Tuhan Penyelamat mereka.

Kedua untaian firman di atas pernah tertanam dalam. Ia berbicara, mengingatkan, mengembalikan... kasih untuk manusia sama sekali tidak bertentangan dengan kasih untuk Tuhan. Dalam keterbatasan kemanusiaanku, diharamkan untuk menghakimi dan merasa paling benar. Bukankah Tuhan sangat menginginkan manusia mengasihi sesamanya karena itu sama dengan melakukan untuk-Nya sendiri? Perintahnya sangat jelas, bahwa kita harus mengasihi sesama karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita.

Biarlah pribadi belia itu belajar bahwa dalam kasih untuk sesama ada kasih dari, untuk, dan oleh Tuhan. Apapun motivasinya, berilah kesempatan pada jiwa labil itu untuk mengamati dan menganalisa kasih yang sejati, yang bersumber dari Sang Cahaya Abadi. Buang curiga dan ganti dengan harapan yang digantungkan pada Allah Maha Kuasa bahwa Ia akan bekerja di hati para ABG yang telah menumbuhkan rasa sayang di hati ini.

Uuuuh, rasa ini berulang-ulang kualami.

Bukan ku tak kuasa untuk mencintai seperti para ABG itu, namun musimnya telah berlalu. Nuraniku harus diasah bukan untuk merasakan short-term feeling of attraction. Dadaku ini menggebu-gebu untuk menjadi guru, teladan hidup, panutan kasat mata yang memeragakan kasih sejati yang penuh ketulusan dan lebih long-lasting. Bukan sempurna karena ku pasti tak sanggup menyamai Guru Sejatiku. Menjadi peniru yang kadang-kadang gagal, namun tak pernah berhenti berjuang... itulah rinduku. Philia, eros, dan storge ada padaku--as a normal person of course--but Agapelah yang harus menginspirasi dan mendominasi.

Huikz, pelajaran hari itu kudu terhenti karena tiba waktunya untuk melambaikan tangan pada Rumah Kasih. Dag dig dug versi dua hati ABG yang saling bertaut memang tak kan pernah lagi kurasa, namun pelajaran cinta hasil interaksi dengan Sang Tuan Penyayang kuharap makin kokoh tertanam, makin elok terpancar, dan makin kuat menguasai hati ini.

Selamat tinggal Rumah Kasih. Terima kasih untuk pelajaran tentang kasih sebagaimana namamu yang lebih masyur dari Rumah Sosis, Rumah Es Krim, Kampung Bakso, ataupun Kampung Daun di hatiku. Terima kasih buat para ABG yang telah menyadarkan bahwa kasih bukan versus KASIH; melainkan kasih = KASIH. ^^

Oh Tuan Penyayang, ku ingin merasakan kasih sayang-Mu.

Jumat, 04 Juni 2010

The Making of Beautiful (Teguh dalam Penderitaan)

Hei, Cuy… I’m back dengan tema hidup dan penderitaan again (atas saran my bro yang ga terlalu ganteng tapi baek hati… peace buat yang ngerasa). Hidup dan penderitaan maybe bisa digambarin seperti lagi makan seporsi bakso kaget. Hahaha… apaan tuh? Buat pecinta bakso di Bandung, bakso kaget udah ga bikin kaget kalee. Meski gue blom pernah cobain sendiri, tapi nama besar bakso kaget selalu bikin gue ngiler. Ini bukan iklan ato promosi, cuman ilustrasi. Konon kabarnya, dalam semangkok bakso kita bisa pilih bakso apa ajah tanpa tahu isi di dalamnya. Jadinya, ya maen tebak-tebakan kira-kira bakal gigit bakso rasa apa yah? Kalo beruntung, kita ga bakalan ngerasain yang namanya bakso granat atau bakso cengek (isi cabe). Boeat elu-elu yang ga suka pedas, coba bayangin pas lidah sedang menari-nari menikmati sebuah bakso nan lezat dan gurih… tiba-tiba lidah kita itu diserang rasa panas menyengat akibat pedasnya cengek. “Huaaaaah…. eeeshhhhh, shhhhhh, shhhhhh, aaaaaah… puanaaaaas!” Is that your expression, Sob? But, wait a minute… that’s not my expression. Buat gue yang suka pedas, semakin panas semakin puas. Makanya, gue justru berharap semoga ada cengeknya. Huahahaha… realitasnya sama yaitu bakso cengek, tapi respons beda kan? Ternyata bakso berisi cengek bisa dianggap anugerah atau bisa juga dianggap bencana.

Hidup ini kurang-lebih ya kaya gitu deh (moga-moga ga maksa ilustrasinya). Coba bayangin pas lagi enak-enaknya nikmatin senangnya hidup, tiba-tiba aja datang masalah, bencana, penyakit, konflik, kehilangan, tangis, ato… kematian. Saat itu juga, kita biasanya langsung kaget dan berkata, ”Mengapa terjadi pada diriku? Di manakah Engkau TUHAN? Teganya, teganya, teganya!” Tapi, bisa juga muncul respons lain yang beda. Dalam bukunya yang berjudul Cries of The Heart, Ravi Zacharias menorehkan sebuah kisah hidup inspiratif dari seorang bernama Annie Johnston Flint. Doski termasuk salah satu orang yang hampir seumur hidupnya mengalami penderitaan. Just check it out! Doski itu yatim-piatu sejak kecil. Whaaaaat? Kehilangan Papa gue sejak 2006 aja sedihnya amit-amit, gimana rasanya ga punya ortu (dua-duanya) sejak masih ileran. Oh, tidaaaaaaak! Terus, tubuhnya penuh bekas luka. Hah? Bekas ketusuk jarum aja nyut-nyutan, gimana rasanya luka di seluruh tubuh? Selain itu, dia juga menderita kanker, salah urat, radang sendi, plus encok. Dia udah lama cacat sehingga kalo tidur perlu tujuh atau delapan bantal buat alas tidur karena kalo berbaring dia bisa ngerasain sakit luar biasa.

Ck, ck, ck, ... apa dia Ayubnya zaman sekarang yah? Tapi yang ruarrrrr biasa, dalam otobiografinya dia gambarin hidupnya dengan sebaris judul The Making of Beautiful. Great! Doski ternyata ngeliat hidupnya yang penuh derita itu sebagai sebuah proses dimana TUHAN sedang ngebentuk dia semakin cantik ato indah. Dia lalu menuliskan keindahan itu dalam sebuah puisi, yang juga digubah jadi lagu. Isinya kira-kira begini.

Dia memberi banyak anugerah tatkala beban bertambah berat,
Dia mengirim lebih banyak kekuatan tatkala pekerjaan bertambah,
Kala penderitaan bertambah, Dia menambahkan kemurahan’
Kala pencobaan berlipat ganda, Dia melipatgandakan damai.

Tatkala kita sangat lelah untuk bertahan,
Tatkala kekuatan kita gagal, tatkala sudah lewat setengah hari,
Tatkala kita mencapai akhir dari kekuatan kita
Pemberian Bapa kita baru dimulai

Kasih-Nya tidak memiliki batas, anugerah-Nya tidak terukur
Kekuatan-Nya tidak memiliki batasan yang diketahui manusia
Dari kekayaan-Nya yang tidak terbatas dalam Yesus
Dia memberi, dan memberi, dan memberi lagi

Asli, gue ga pengen lebay. Tapi jujur, bibir gue rada nganga karena terkagum-kagum ketika baca rekaman kisah hidupnya. Dunia mungkin berpikir ni orang aneh pisan. Udah yatim-piatu, cacat, dan penyakitan tapi masih ngerasa hidupnya itu bakal dijadiin indah.

Apa yang aneh bagi dunia ternyata ga aneh buat TUHAN dan pengikut TUHAN. Kalo ga percaya, hayuuu baca Roma 5:3-4. Paulus ga lagi gelow waktu dia bilang bahwa orang percaya tidak hanya bermegah dalam pengharapan; melainkan juga dalam kesengsaraan. Dia sepenuhnya sadar dan waras, bahkan ngalamin sendiri yang namanya sukacita dan berbangga saat sedang jatuh sengsara. Gimana bisa? Alasannya adalah karena sengsara itu bisa menimbulkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan.

Do you see what Annie had seen? Ketekunan dan tahan uji berbicara soal karakter yang bisa bawa kita pada pengharapan. Artinya, TUHAN kita itu sangat menghargai yang namanya karakter lebih dari pada harta, kepandaian, atau kecantikan jasmani. Kalo biasanya cowo itu pilih pacar karena cewe itu baik sifatnya, oke bebet-bobotnya, dan juga keren body-nya; TUHAN justru ga begitu. Kalo cara TUHAN ngeliat sama dengan cara cowo ngeliat cewe maka ga kan ada yang cantik dah. Semua yang ada pada kita sekarang mah bakal membusuk dan jadi abu. Yang dilihat TUHAN cantik adalah murni karena karakternya, yaitu kalo seseorang itu tekun dan tahan uji melewati kesengsaraan. Tekun dan tahan uji menunjukkan kesediaan buat dibentuk TUHAN. Makanya Annie yang yatim-piatu, cacat, dan penyakitan itu pada akhirnya teteup nampak cantik dan indah di mata TUHAN. Betapa keren dan sempurnanya penilaian TUHAN. Inilah yang disebut pengharapan, Cuy, sehingga sesusah apapun... kita seharusnya ga bakalan nyerah sama hidup kita. Yang beginian ini, cuman bisa dimengerti sama anak-anak TUHAN sejati.

Jelaslah kalo tujuan TUHAN ijinin kesengsaraan, baik berupa ujian atau pencobaan, bukan buat mencelakai kita. TUHAN dalam hikmat-Nya mau supaya kita teteup ada dalam pengharapan itu dan makin lama makin dekat pada-Nya. Aaaah, so sweet-nya our God! Toh DIA sendiri udah berjanji begini, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:5).” Itu sebabnya Max Lucado dalam It’s not About Me menyatakan kalo hidup ini bukan tentang kita atau tentang masa sekarang. Hidup ini adalah tentang DIA dan karya-Nya.

Hei, kita sungguh-sungguh perlu diselamatkan dari kehidupan yang kita anggap bakal buat bahagia di dunia ini! Yeah, pusatnya bukan kita, Guys. Segala sesuatu ternyata ada dalam rancangan kemuliaan yang tidak diukur dengan umur hidup kita yang cuman 70/80 tahun, ato paling banter 120-an lebih dikit geeto. Kekekalan itu ngomongin soal waktu yang ga terbatas... forever after.

2 Kor 4:17 menunjukkan jaminan bahwa kita bakal dapetin kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya. Gimana ngebayanginnya yah? Eh, pernah tahu timbangan pendulang kuno ga? Berat satu barang yang dibeli bergantung dari berat beban benda di sisi lain. Tapi, TUHAN ga gitu loh. Di satu sisi, Ia tumpukin beban dengan ijinin kesengsaraan terjadi. Ia sama sekali ga punya maksud jahat, tapi ga juga angkat beban itu. Sebaliknya, Ia tambahkan terus beban di sisi yang lain, yaitu sukacita tak berkesudahan, damai sejahtera yang tak terukur, dan tentu saja kekekalan-Nya. Sekarang kalo dilihat, timbangan itu malah kelihatan jauh lebih ringan di beban kesengsaraan yang harus kita tanggung. Makanya Max Lucado menantang kita, kalo hidup itu begitu sementara dan terbatas... masa sih kita ga dapat tahan sakit sebentar, sedih sebentar, kesepian sebentar, dianiaya sebentar, bergumul sebentar, ato... jomblo sebentar? Hahaha... jomblo lagi.

Kembali ke laaaaaaptop... eh, bakso cengek. Setelah baca ini, apa pilihan kita. Realitas penderitaannya teteup sama pedes... tapi, gimanakah cara orang percaya memandangnya? Apakah kita ngeliatnya sebagai bencana yang nyusahin ato justru sebagai anugerah karena bakal mempercantik kita di mata-Nya? Dalam proses perenungan, gue mengamini bahwa hidup ini emang bukan tentang kita. Makanya, apapun yang terjadi... ga apa-apa, enjoy aja! Ada TUHAN dan rancangan kemuliaan-Nya yang indah koq, bahkan di balik penderitaan sekalipun. Let’s just remember... moto Blackberry mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat juga berlaku di sini. Penderitaan membawa TUHAN mendekat saat DIA terasa begitu jauh, mengalihkan dunia jauh-jauh saat dia terasa dekat-memikat. Hehehe... gimana, keren ga? So... jia you sama-sama yuux! :)

Selasa, 25 Mei 2010

TREAT YOUR SELF, TRAIN YOUR EGO = HIDUP BERKELIMPAHAN (Selayang pandang kehidupan bersama TUHAN)



Film yang bercerita tentang si Raksasa Hijau (ogre) bernama Shrek emang selalu memikat. Selain pull dengan adegan-adegan lucu dan menyegarkan, film Shrek juga nawarin tema-tema penuh makna. Makanya, film terakhir yang judulnya Forever After ini ga bakalan gue lewatin dah.

Alkisah, Shrek dan Putri Fiona akhirnya bagaikan dianugerahi live happily ever after. Mereka punya tiga anak yang cutez abiz. Shrek ga lagi jadi raksasa ijo yang ditakutin orang, melainkan dikelilingin para sohib yang menceriakan hari-harinya (Si Donkey + istri naga + 2 anaknya, Si Puss in The Boot, dll). Sayangnya, kehidupan yang perfect itu ga long lasting. Shrek ngalamin kejenuhan akibat rutinitas yang bergulir-mengalir tiada akhir… bangun, urus anak, bantu istri, party with his palls, tidur, bangun lagi dan berputar gitu terus. Hidup yang tadinya fun berubah jadi ga asyik lagi gara-gara ada tambahan kata “ever after.” Rutinitas yang ever after emang nampak bikin dia kehilangan privasi. Gara-gara itu, dia jadi kangen kehidupan lamanya yang tenang tanpa gangguan. Itulah yang kemudian ngedorong dia terikat kontrak sihir sama si cilik nan licik, Rumpelstiltskin, yang hidupnya kacau beliau gara-gara kepahlawanan Shrek. It’s too bad karena dia rela tukar salah satu hari di masa kecilnya hanya demi dapetin sehari menjadi Shrek yang lama. Saking mupeng-nya, dia jadi ceroboh dan biarin Rumpelstiltskin pilih sendiri semaunya. Coba tebak, Rumpelstiltskin pilih hari yang mana? Hari kelahiran Shrek. Ck, ck, ck (geleng kepala)… licikkkkk.

Ngeri deh, sebab momen dimana dia nikmatin sehari jadi Shrek yang lama itu justru akan jadi akhir keberadaannya. Yuuupz, sejarah pun berbelok. Hari kelahiran Shrek dihapus maka ga ada Shrek. Ga ada Shrek maka ga ada hero yang cium Fiona. Ga ada hero yang cium Fiona maka ga ada yang halangin ikatan kontrak sihir antara Papa Fiona dengan Rumpelstiltskin. Istana milik Papa Fiona pun bener-bener dikuasai Rumpelstiltskin dan para penyihir jahat lainnya. Fiona yang dilukai oleh harapan tak terkabulkan memilih berjuang sendiri… menjadi tangguh sekaligus mematikan perasaan cinta. No marriage, no kids, no life for Shrek. Saat itulah dia ngerasain betapa berharga hidup yang pernah dicapainya bersama Fiona, tiga anaknya, dan all sohib. Dia sungguh-sungguh ngerasa bego udah tukar hidup barunya dengan sehari jadi Shrek yang lama, yang dijauhin orang, yang sendirian. Bener-bener ga sebanding bukan? Terngiang jelas ucapan Fiona, “Kamu punya istri yang mencintaimu dan anak-anak yang manis. Kenapa hanya kamu yang ga menyadari itu?”

It’s cool! Film animasi yang bikin gue ngerogoh kocek Rp. 15.000,00 ini ternyata bisa juga dipake Tuhan buat ngelengkapi perenungan yang mahal soal hidup. Gue belajar gimana mengatasi dan mengendalikan diri. Kuncinya simple, walau prakteknya sih pastinya bikin lieur… yaitu treat your self, train your ego. Yeah, kuncinya mah ada pada diri sendiri. Treat your self artinya memperlakukan diri sendiri dengan baik dan sewajarnya. Istilah lainnya adalah mengasihi diri, bukan mengasihani diri atau memuja diri sendiri. Mengasihi diri artinya bisa ngeliat keberhargaan diri dan puas dengan itu. Apa yang ada dipakai dengan maksimal. Apa yang ga ada ga dipaksain harus selalu ada. Dampaknya adalah bisa menikmati diri dan hidup itu sendiri. Ga ada keadaan apapun yang bakal bikin dia stuck atau makin mundur. Kepuasan dalam hidup meng-create kelenturan ketika dihadang tembok tantangan. Ini ga berarti kita jadi mati rasa, melainkan ga akan disetir mood yang dirusak luka dan duka, serta ga terlena oleh suka dan bahagia. Menangis atau meratap sewajarnya, lalu bangkit menatap masa depan. Tersenyum atau tertawa sewajarnya, sambil tetap waspada, sambil terus berusaha. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini bakal buat kita makin bertumbuh karena sebenernya kita sedang investasi karakter. Setahap demi setahap, pelahan tapi pasti... kita akan jadi kokoh dan semakin ahli dalam hidup. Ahli dalam hidup akan mempersiapkan mati. Siap mati berarti menuju hidup. Benarlah kalo bukan materi, kesuksesan, atau kecantikan yang Tuhan cari; melainkan karakter yang dibangun di atas Dia.

Yang beginian ga akan bisa diraih kalo kita ga train our ego. Kendali terhadap ego kita bagai ayunan sebuah pendulum. Terlalu menceng ke kiri jadi ga PD. Hasilnya mengasihani dan meratapi diri. Ga bakal bisa ngeliat apa yang dipunyai sehingga ngerasa kurang terus. Ujung-ujungnya ga bisa liat orang lain dapatin bahagia atau sukses. Gampang iri dan cembokur karena ga aman dengan dirinya lalu terpisah dari sesama. Jadi galak kaya singa betina yang terluka. Sebaliknya, terlalu menceng ke kanan jadi over PD. Hasilnya, ngerasa paling ... dibanding yang lain. Kalo keterusan, dunia ini dikiranya milik sendiri. Yang lain dianggap cuma numpang. Semua harus ikut maunya… egois. Jadi, melatih ego supaya imbang itu penting. Ego ga boleh di-treat terus supaya ga jadi sombong.

Jujur, gue rada terganggu sama realita bahwa banyak “jomblowan/wati”, baik orang biasa maupun hamba Tuhan, yang punya sikap dan karakter ga menyenangkan—seperti yang gue sebutin di atas—gara-gara statusnya. Akibatnya, muncul stereotip negatif buat para jomblowan/wati, khususnya yang udah berumur. Gue ambil konteks para jomblo bukan buat nambah penderitaan ato tekanan loh. Gue sharing ini karena gue care dan gue sendiri juga adalah jomblo koq. Gue ga malu dan ga malu-maluin diri sendiri karena itu. Hehehe… intinya, gue ga mau suatu saat stereotip itu menjadi nyata dalam hidup gue. Bukan berarti mo menjomblo selamanya, tapi hidup ini emang unpredictable kan?

Belajar dari Shrek, gue kemudian ngedaftar kekurangan gue. (1) Gue ga cantik, pendek, dan rada montok. (2) Gue ga punya pacar. 3) Gue ga punya tabungan buat masa depan. Barang-barang gue sebagian besar murahan dan second punya/bekas. (4) Gue ga punya Papa. (5) Gue ga pinter bahkan dianggap terlalu naïf ato polos. Hehehe…

Tapi, ga berhenti di sana. Sekarang gue ngedaftar apa yang gue punya. (1) Gue punya Yesus yang mengasihi, menyelamatkan, dan mau pake gue jadi hamba-Nya. Tuhan gue kaya dan ga tahu gimana caranya sampai saat ini gue dan keluarga ga pernah kekurangan. (2) Gue masih punya Mama yang super-duper baek dan masakannya bikin gue ketagihan. (3) Gue punya dua adik yang baik dan siap bertumbuh sama-sama dengan cicinya. (4) Gue punya Papi angkat yang walaupun lagi sakit kanker paru-paru masih sempet nanyain keadaan gue sekarang gimana. Hikz… jadi terharu. (5) Gue punya para mentor dan senior yang jadi teladan dan beri kekuatan di masa-masa sulit. Emang ga terlalu dekat gimana sih sama mereka, tapi bersyukur diijinin ngeliat hidup mereka dan pelan-pelan merangkak to their position. (6) Gue punya sohib-sohib yang selalu siap bertanya, “Gimana kabarmu, Sist?” Sohib yang bener-bener care sampe berkata, “I feel you.” Sohib-sohib yang membuat gue ngerasa jadi bagian dari sesuatu… not alone. (7) Gue punya tempat pelayanan yang ga mudah; namun pastinya buat gue bertumbuh. (8) Gue punya rekan-rekan sepelayanan yang bikin lieur, namun sekaligus ngebentuk gue jadi lebih baik. (9) Gue punya teens yang suka menghina penampilan gue—rambut keriting dan jerawatan—namun menjadi pelangi yang membawa warna-warni cinta di hidup ini. (10) Gue punya sisa umur yang meski ga tahu berapa lama lagi, namun pastinya bisa dipake buat jadi berkat. Hei… amazing! Sebenernya masih banyak yang mo gue daftar di bagian ini. Cukup deh! Segini aja udah kelihatan perbandingannya. I'm rich you know?

Rumus pendulum yang seimbang ini ternyata bikin gue ngeliat bahwa apa yang gue punya udah lebih dari cukup buat ngejalani hidup ini. Dengan begitu, gue teteup adalah manusia yang utuh, walo punya predikat jomblo. Sebelum ngedaftar semua ini, gue ga bener-bener sadar dengan apa yang gue miliki. Sekarang gue bener-bener puas. Wanna try it?

Tahu ga apa yang bikin pendulum ego kita ada di tengah? Jesus… yess, Jesus! He is The One and The Only One. Dia sendiri bilang, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:1-10).” Kasih, kuasa, dan kebenaran-Nya mengalihkan dunia kita dari diri sendiri kepada diri-Nya. Hahaha… gimana ga? Dia beri hidup-Nya supaya kita hidup. Dia yang berhak atas hidup kita. Ketika Dia berkuasa, Dia ada di kanan dan di kiri menutupi ego kita. Jadi, pendulum itu teteup ada di tengah karena bukan kita fokus-Nya. Yesuslah yang dapat porsi lebih besar dari pada ego kita. Kayanya bakal lieur alias ga mudah jalannya. Tapi, gue ga bakal mau menukarnya buat nikmatin hidup sehari tanpa Yesus. Ga bakalan mau kehilangan keberadaan gue sebagai pewaris kerajaan hanya demi sesuatu yang semu. Ini rupanya yang bikin gue ngerasain merdeka yang melampaui segala realita. Belief me, it feels good! Wanna feel it? Treat your self, train your ego = hidup berkelimpahan. Met berjuang bersama gue, sobat! Wkwkwkwk… ^^

Jumat, 01 Januari 2010

Give Me A Life To Love: Nilai Sebuah Visi (New Year Reflection – Sebuah Tulisan Tanpa Keindahan)



Wise words—especially from the BIBLE—emang makyossh en ngejlebh. Yang ngerasa udah tahu pun tetep ketusuk abis (khususnya berlaku buat gue, ding). Gue dapetin hujaman pedang bermata banyak ini pas natal alumni SAAT wilayah Bandung dan sekitarnya, 14 Desember 2009. Kotbah Pak Rektor SAAT waktu itu ngejlebh pisan. Tapi, yang paling ngejlebh itu adalah perkataan seorang hamba Tuhan senior sama seorang yuniornya yang baru masuk pelayanan setahun. Mengenangnya, hati gue menangis pedih tertusuk sembilu kebenaran. Cieeee, puitis. Sebenernya ini cuma buat mencegah air mata ngeleleh terus di pipi.

Dia cowo yang pinter en so pasti lumayan nonjol di kampus. Denger-denger banyak gereja yg mo ngelamar dia (I mean jadi pengerja). Gue semeja sama dia, Papa + Mamanya pula. Pasti kedua ortunya bangga karena anaknya nerusin jejak mereka jadi orang yang ngelayanin Tuhan. Wong para dosen en gue sendiri--sebagai kakak tingkatnya--juga ikutan bangga (serius deh).

Tiba-tiba nongol seorang senior yang udah jadi pembicara terkenal namun tetep hangat en ramah. Dengan wajah berbinar, ia menjabat tangan yunior-yuniornya yang masih ileran dan pendek jam terbangnya di dunia persilatan. Tak lupa ia bercakap-cakap pula dengan Papa + Mama yang lagi ngerasa bangga sama anak cowonya itu. However, obrolan itu gue anggap serius tapi santai, santai tapi serius.

Senior itu bilang, “Eh, kami mau undang dia buat pelayanan di gereja kami. Tapi, kayanya kami harus ngantri panjang di belakang deh. Kan ada gereja ini, itu, itu, dan yang ono, yang duitnya gedhe. Listen to me, young man. We can't offer you big money. But, we have a VISION.” Ngedenger statementnya, gue ngebayangin respons anak muda berkarunia itu. Apa yang bakal dikatakannya yah? Maybe he’ll say, “Huh, zaman sekarang orang ga makan visi!” Atau mungkin dengan idealismenya he’ll say, “Wow, it’s an honor to me.” Wuaaaaaaa, cuma khayalan! Oke-oke, lupain aja khayalan tentang responsnya. Gue ga ada hak buat menghakimi atau menebak. It’s so subjective, isn't it?.

Now, this is what I want to tell you. As I said, kalimat-kalimat itu ngejlebh banget, Guys. Gue jadi kebayang lagi skripsi gue yang pastinya biasa-biasa aja itu. Walo biasa-biasa aja, tapi teteup berbicara pada gue secara pribadi. Ya ampyun, narasi kitab Markus yang gue tulis itu seolah-olah jadi layar tancap yang nunjukin adegan-adegan kehidupan TUHAN YESUS, yang selalu disetir oleh visi.

Pribadi yang hidup disetir oleh visi itu selalu menakutkan. But, pay attention carefuly. Menakutkan artinya ga sama dengan sebuah perasaan yang muncul karena ngeliat penampakan si Kunti atau Sadako dengan rambut panjangnya yg nutupin muka. Hiiiiiiii! Nope at all lah. Menakutkan itu lebih mengandung unsur kagum karena begitu ekstrim sampai gue harus acungin 4 jempol (kalo perlu lebih dari itu, tapi pinjem punya orang). Sampai-sampai gue terus-terusan ngerasa salut karena bakal susah meneladaninya.

Okay deh, let me tell you (meskipun elo semua mungkin udah pada tahu). Visi-Nya adalah sorga buat manusia dan alasannya adalah KETAATAN + KESETIAAN yang bermuara dari KASIH BAPA-NYA. Waaaak, merinding gue (sorry kalo sepertinya lebay, tapi emang gitu sih yang gue rasa). Gimana ga merinding? Semua orang bakal bilang, "Itu benar dan berat." All you guys setuju kan kalo setiap orang percaya kudu meneladani TUHAN kita? Nih, buktiin sendiri betapa benar dan beratnya.

1. Bersedia kehilangan waktu buat diri sendiri. So, kudu selalu siap ga bisa bo-ci (bobo ciang itu penting buat gue loh kalo ga mo pusing sepanjang hari), ga bisa liburan, ga bisa menuntut hak-hak pribadi.

2. Bersedia kehilangan tenaga buat orang lain, tanpa ngomel atau ngeluh (asli). Mati dah, cewe kaya gue kan tukang ngeluh. Upz, sori yah kaum kuwh kalo gue menyatakan kebenaran ini.

3. Bersedia disakiti, difitnah, dihina, dibenci, disiksa, dibunuh sama orang yang disayang dan dibela-belain sampai mati. Haissss, ngelakuin ga semudah nulisnya loh.

4. Bersedia kehilangan segalanya termasuk nyawa sendiri. Mati supaya orang lain hidup. Luka supaya orang lain sembuh. Miskin supaya orang lain kaya. Hiiiiii, asli gue merinding pisan.

5. Bersedia ga dikenal orang, ga dapet apa-apa dari semua jasa kita plus disalah mengerti en dijauhin orang. Wong hidup sebagai jongos ato istilahnya Pdt. Paulus Kurnia itu Cung-Lik (kacung cilik--udah kacung, cilik pula). Pokok'e feel satisfy in God alone, for God alone.

6. Menangis atau ketawa, marah atau ramah, hidup atau mati demi cinta sama Bapa-Nya, sama sesama-Nya. Lagunya Dellon--Semua Karena Cinta--kurang-lebih gambarin apa yang Ia lakuin buat kita.

7. Punya power tapi ga mo maksain kehendak sama orang lain. Orang berubah tanpa ngerasa diperintah. Aaaah, luarrrrr biasah!

8. Marah dan mendisiplin dengan hikmat. Ga pernah ngerasa diri paling bener, tapi selalu ngerasa firman Tuhan yang selalu bener. Jadi ga ada ego dalam marahnya. Ia bertindak tepat waktu (pada waktu Bapa-Nya), tepat sasaran, tepat guna.

9. Mengajar dengan penuh kuasa. Bukan sekedar karena Ia pinter bikin mukjizat yang ngalahin aksi Houdini, David Copperfield, Dedi Corbusier, atau personil-personil The Master yang laen. Ia penuh kuasa karena konsisten berbicara, bertindak, berpikir, dan berperasaan... tepat seperti apa yang diajarin sama orang laen. Kebenaran-Nya mutlak, telak, menempelak yang ga bener akibat dosa.

10. What else? Banyak deh. Rela berpisah dari tempat bergantung-Nya, yaitu kenyamanan-Nya. Istilah yg gue dapet dari khotbah ibadah ucap syukur tahun baru (1 Januari 2010) oleh Pdt. Henry Efferin pas buat gambarin itu… SELFLESS lawannya SELFISH.

Oh, no! Jangan dipikir gue bisa nge-list artinya bisa lakuin semua. Selama ini banyak yang ga bisa gue lakuin dalam hidup yang singkat ini. Ga tahu berapa lama lagi gue bakal hidup menatap dunia, menarik dan menghembus nafas, bergerak meregang otot, dan belajar mencintai. Justru karena itu gue ngerasa sangat menyedihkan sekali. Koq gue berani-beraninya yah ngelist semua itu sebagai hal-hal yang harus gue teladanin? It's not that simple to expose those things to public. It's hurt karena gue jadi tiada henti menginstropeksi diri.

Menyedihkan, you know, saat gue bertanya pada diri sendiri apa yang selama ini buat gue menangis. Apakah karena gue jauh dari keluarga? Apakah karena ngalamin kehilangan-kehilangan yang pedih (papa gue misalnya)? Apakah karena mengasihani diri yang penuh kelemahan ini? Karena dicuekin sekitar? Karena nemuin kesenjangan antara fakta dan idealisme? Atau, karena ada anak-anak SMP di area pelayanan gue yang belum ngerasain jamahan TUHAN atas hidupnya?

Menyedihkan saat gue mendaftar apa sih yang selama ini bikin gue marah. Apakah karena hak-hak gue dirambah dan hidup gue ditindas oleh status cung-lik ini? Apakah karena ada anak-anak SMP di area pelayanan gue yang bikin gue kesel (sama sekali ga benci orangnya, tapi benci perbuatannya)? Karena lelah diperlakukan beda? Karena ngerasa TUHAN, Sang Tuan Penyayang, ga segera penuhin permintaan-permintaan doa gue? Apa karena obsesi-obsesi dan mimpi-mimpi pribadi gue tertahan di awan dan bakalan ga pernah terwujud hingga semangat gue maju-mundur seperti laju ombak di tepi pantai? Atau, gue marah karena masih ada dosa-dosa dalam diri gue yang menghalangi gue dan orang lain untuk bertumbuh? Marah yang ngedorong buat ngusir si selfish dalam ego gue. Waaaaaaak…

Menyedihkan saat mengenang apa yang bisa bikin gue semangat ngabisin waktu dan tersenyum manis. Apakah karena bisa jalan ke pantai en memandang laut yang gue suka all alone, without being disturbed (maklum introvert)? Apakah karena dapet berkat yang berlimpah sampai susah ngitungnya? Karena dapet perhatian dari sekeliling gue dan dapet yang terbaik dari orang-orang yang gue sayang? Karena bisa nyenengin orang lain dan jadi hero buat mereka? Apakah karena sedang berhadapan dengan apa-apa yang gue suka? Atau, karena Tuan Penyayang udah buka pintu pelayanan dan nungguin gue buat setia ngelakuinnya? Ada semangat berapi-api karena rindu orang lain mengamini dan mengimani Yohanes 3:16. Ada kepuasan bahwa apa yang gue punya dalam TUHAN itu lebih dari cukup karena hanya itu yang gue perlu.

Hmmh, that's all, Folks. That's what I want to share. Gue ga bisa nulis lagi kelanjutannya. Takut nambah beban lagi. Let me do it step by step, okay? But, I'll end this with a prayer. Lord, I surely don’t know my own future. When exactly the time I’ll close my eyes—resting my exhausted body forever. I don't know when exactly I’ll end my waiting on Your second coming. That's why I wish that in every breath I take, in every step I make... You'll give me a life to love in selfless way, not selfish one.

BE THOU MY VISION

Be Thou my Vision, O Lord of my heart;
Naught be all else to me, save that Thou art.
Thou my best Thought, by day or by night,
Waking or sleeping, Thy presence my light.

Be Thou my Wisdom, and Thou my true Word;
I ever with Thee and Thou with me, Lord;
Thou my great Father, I Thy true son;
Thou in me dwelling, and I with Thee one.

Be Thou my battle Shield, Sword for the fight;
Be Thou my Dignity, Thou my Delight;
Thou my soul’s Shelter, Thou my high Tower:
Raise Thou me heavenward, O Power of my power.

Riches I heed not, nor man’s empty praise,
Thou mine Inheritance, now and always:
Thou and Thou only, first in my heart,
High King of Heaven, my Treasure Thou art.

High King of Heaven, my victory won,
May I reach Heaven’s joys, O bright Heaven’s Sun!
Heart of my own heart, whatever befall,
Still be my Vision, O Ruler of all.

Rabu, 25 Februari 2009

Siap untuk Hidup, Siap untuk Mati


Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. (Ibrani 9:27-28)

Satu hal yang begitu mengesankan bagi saya ketika menyelami salah satu bagian dari tulisan Philip Yancey dalam bukunya ”Menemukan Tuhan di Tempat yang Tidak Terduga” adalah respons seseorang terhadap kehidupan dan kematian. Saya hanya bisa mengaminkan bahwa ada dua golongan orang yang terlalu ekstrem memandang hidup. Ada yang terlalu menghargai hidup sampai begitu takut mati. Ada pula yang begitu menyepelekan hidup sehingga dengan rela memjemput kematian dengan jalan bunuh diri.

Orang-orang yang sangat menghargai hidup begitu memuja-muja kesehatan sebagai harta yang terpenting untuk mempertahankan hidup. Banyak usaha dan perjuangan yang dilakukakan yaitu: mengikuti klub-klub kebugaran, melakukan ritual olah raga yang intens, menguras kocek untuk berbagai jenis obat dan suplemen kesehatan, atau menerapkan gaya hidup higienis yang kebablasan. Gaya hidup demikian seringkali meletakkan prioritas waktu, tenaga, dan uang hanya pada satu aspek itu saja dan mengabaikan yang lain. Kalau boleh disebut, ini adalah phobia terhadap kematian yang sama sekali tidak bisa dihindari.

Di sisi yang lain, mereka yang tidak menghargai hidup benar-benar menyia-nyiakannya. Mereka tak pernah berpikir panjang apa yang terjadi dan sedang menanti setelah kematian. Mereka berpikir bahwa hidup adalah penderitaan dan kematian adalah salah satu cara untuk menghentikannya. Berhenti hidup berarti menghilang untuk selamanya sebagaimana akhir dari benda-benda mati lainnya. Bukankah ini adalah sebuah phobia terhadap hidup dan sekaligus merendahkan nilai hidup manusia yang diciptakan begitu istimewa oleh Sang Pencipta?

Kedua pilihan ekstrem ini tidak sejalan dengan Firman Tuhan dalam Ibrani 9:27-28 yang menyatakan adanya keindahan dari proses antara hidup dan mati, khususnya bagi orang percaya. Kematian ternyata bukan sesuatu yang buruk dan juga bukan sesuatu yang layak dipandang remeh. Kematian fisik hanya berlangsung sekali akibat dosa yang telah kita perbuat. Akan tetapi dalam Kristus, kematian itu tidak berujung pada kematian kekal. Sama seperti Kristus yang mati sekali kemudian bangkit untuk menyediakan keselamatan, demikianlah kita akan melewati kematian untuk menjemput hidup kekal di dalam Kristus. Itulah sebabnya kematian fisik tidak seharusnya terlalu ditakuti asal kita mempersiapkannya dengan baik. Bukan semata-mata dengan mengagungkan kesehatan; melainkan dengan hidup sebaik-baiknya dalam persekutuan yang indah dengan Kristus. Ketika kita siap untuk hidup, kita harus siap untuk mati. Ketika kita siap untuk mati maka kita akan memperoleh hidup.

Doa: Bapa di surga, terima kasih karena dengan memiliki Engkau maka tidak ada satupun yang perlu kami takutkan, termasuk penderitaan dan kematian. Tolonglah agar di dalam hidup ini fokus perhatian kami bukan lagi hidup atau mati saja; melainkan dengan penuh hikmat-Mu kami menjadi siap untuk hidup dan mati di dalam Kristus.

Selasa, 24 Februari 2009

Pembaharuan dalam Pengharapan yang Tetap Sama


Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" (Wahyu 21:5)

Apa yang terlintas di dalam benak kita ketika mendengar kata ”baru?” Istilah ”baru” mengandung beberapa makna seperti: (1) sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, (2) kualitas terbaik karena belum ada yang memakainya, atau (3) sebuah keadaan yang berbeda dengan sebelumnya. Yang jadi pertanyaannya adalah adakah sesuatu yang baru di dunia ini? Bukankah yang dikatakan tren baru di dunia fashion adalah sesuatu yang sudah ada dan selalu berputar-putar dari tahun ke tahun? Misalnya: celana gombrang yang pernah jadi tren di jaman papa saya juga pernah jadi tren di jaman sekarang. Aliran-aliran atau sekte-sekte agama yang baru muncul juga seringkali berakar dari filosofi yang sudah pernah ada sebelumnya. Misalnya: berbagai paham humanis yang terbit baru-baru ini—termasuk The Secret—sebenarnya berakar dari kisah di Kejadian 3. Selain itu, ide-ide baru penemuan ilmiah juga terinspirasi dan berbahan dasar dari apa yang sudah ada. Jadi, istilah ”baru” yang dipakai di dunia ini tidak pernah bermakna sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan kata lain, tidak ada yang benar-benar baru di dunia ini.

Kosa kata ”baru" sejak semula memang hanya ada dalam kamusnya Tuhan. Firman Tuhan berkata: ”Aku menjadikan segala sesuatu baru.” Konteks frasa yang tertulis di bagian belakang dari kitab terakhir ini ternyata memiliki elemen dari peristiwa penciptaan yang tertulis di bagian awal dari kitab pertama Alkitab. Artinya, Allah yang menciptakan langit dan bumi—dari kondisi yang tidak ada menjadi ada itu—adalah Allah yang sama yang akan menjadikan segala sesuatu baru. Langit dan bumi yang rusak karena dosa akan berlalu. Air mata, maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita akan berakhir dan berganti dengan yang baru. Dengan demikian, ada dua hal tersirat di dalamnya yaitu Allah akan membuat perubahan ke arah yang lebih baik; namun tetap meletakkan pengharapan yang sama dalam tangan-Nya.

Hari ini mungkin kita membuka mata dengan kenyataan bahwa kita telah mendiami bumi untuk kesekian kalinya di tahun yang baru. Ada yang begitu antusias untuk segera melewati hari demi hari di tahun 2009 dengan segudang resolusi (rencana atau keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu). Ada pula yang begitu skeptis, tawar hati, dan pesimis bahwa kehidupan di dunia tak akan menjadi lebih baik karena krisis global yang begitu mengkuatirkan. Tanda tanya besar yang selalu menghiasi awal tahun adalah, bagaimana saya akan mengisi hidup ini setahun ke depan? Untuk itu, mari kita pegang janji Tuhan. Ia yang menjadikan segala sesuatu baru itu rindu memberikan hidup baru yang penuh pengharapan. Ia siap membuat perubahan-perubahan besar dalam hidup kita untuk menggenapi rencana-rencana besar-Nya bagi dunia. Keluarga yang retak, kasih yang dingin, dan segala kegagalan akan Ia pulihkan untuk digantikan dengan damai sejahtera yang tak berkesudahan. Tugas kita adalah tetap datang padanya, tetap serahkan hidup dalam genggaman tangan-Nya maka krisis global dan efek kesudahan dunia tersebut tak akan menggoyahkan iman kita sampai Kristus datang kedua kali.

Doa: Bapa di surga, jika kami boleh ada dan menapaki hidup, itu semua karena anugerah-Mu. Kami sadar bahwa hari demi hari yang berlalu semakin menegaskan sisa umur kami di dunia ini. Tolong kami untuk dapat mengisinya dengan perubahan dan pengharapan yang berasal dari pada-Mu saja hingga akhirnya kami dapat menyelesaikan hidup ini dengan baik di mata-Mu.

Senin, 09 Februari 2009

Menjadi Kristen = Bau yang Menghidupkan atau Mematikan?


Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum bagi Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa (2Korintus 2:15).

Kamboja, Kenanga, Mawar, dan Sedap Malam adalah jenis-jenis bunga yang menyebarkan bau harum. Bunga-bunga tersebut tidak memiliki arti tertentu buat saya sampai tiga tahun terakhir ini. Satu peristiwa yang membuat bunga-bunga itu meninggalkan kesan yang dalam di hati saya adalah kematian Papa yang amat saya kasihi. Bunga-bunga yang harum itu mengiringi jasad fana Papa ke liang kubur yaitu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Tragis memang. Bau harum bunga-bunga itu kini menjadi bau yang mengisyaratkan kematian bagi saya, atau pun bagi mereka yang memiliki pengalaman kehilangan orang yang dikasihi.

Sebagaimana keempat bunga itu, Injil Kristus adalah bau-bauan yang sangat harum bagi kita. Bau harum itu tidak terjadi begitu saja atau tiba-tiba turun dari langit. Bagai sebotol parfum kecil sari bunga yang membutuhkan kematian banyak bunga, demikian juga ada jasad Kristus yang harus melewati kematian agar Injil menjadi harum semerbak. Tubuh Kristus yang dihancurkan itulah yang mengalirkan wewangian abadi yang berdampak pada kehidupan manusia. Jadi, Injil Kristus adalah bau kematian sekaligus bau kehidupan. Reaksi kita terhadap Injil menentukan kehidupan dan kematian kita.

Hal tersebut mengingatkan saya akan 2Korintus 2:15 yang menyebutkan: Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristrus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Firman Tuhan menyatakan bahwa bila kita pernah memutuskan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita pribadi maka seharusnya kita menjadi penerima bau kehidupan itu. Sejak saat itu, secara otomatis kita menjadi pembawa bau harum Kristus (saksi) ke tengah-tengah dunia. Apa pun yang kita katakan, kerjakan, dan bahkan seluruh hidup kita akan membawa dampak pada orang yang percaya serta yang belum/tidak percaya.

Bila kita hidup sebagaimana Kristus hidup maka hidup kita akan menyegarkan jiwa yang dalam kegersangan, menguatkan iman yang sedang lemah, menyembuh hati yang terluka, dan menyalurkan berkat rohani yang menghidupkan. Sebaliknya, jika ada satu saja momen di mana kita tidak hidup berpadanan dengan injil, maka hidup kita dapat menjadi batu sandungan yang memancing reaksi negatif terhadap Injil Kristus. Apa yang orang lain lihat dari hidup kita dapat membuat mereka menerima atau menolak berita keselamatan sehingga hidup kita juga bisa menjadi penentu akhir hidup orang lain. Ya, hidup kita bisa menjadi bau-bauan yang menghidupkan dan juga yang mematikan.

Mungkin saat ini ada yang hendak berteriak kepada Tuhan bersama-sama dengan saya: “Tuhan, mengapa tanggung jawab hidup sebagai orang Kristen terasa begitu berat?” Melalui perenungan ini, Kristus seolah-olah datang mendekap kita dalam pelukan-Nya dan berkata: “Pandanglah Aku, anak-Ku. Cermatilah setiap luka yang nampak di tubuh dan dalam batin-Ku karenamu! Adakah semuanya itu sia-sia? Adakah semuanya itu tidak patut diperjuangkan?” Kalimat-kalimat yang terdengar lembut di hati itu bagai menyodorkan dua pilihan penting bagi kita sebagai orang Kristen. Mana yang akan kita pilih? Menjadi bau yang menghidupkan atau yang mematikan? Kiranya Tuhan menolong kita menentukan pilihan yang tepat.

Doa:
Bapa di sorga, terima kasih untuk Firman-Mu yang masih terus menggema dan menggetarkan hati kami dengan kisah kasih dan pengorbanan-Mu bagi manusia. Terima kasih karena Engkau telah mempercayakan kepada kami untuk membawa bau harum Injil Kristus ke tengah-tengah dunia ini. Tanggung jawab tersebut memang seringkali terasa sangat berat. Oleh karena itu, biarlah teladan-Mu selalu menguatkan kami untuk menentukan pilihan yang tepat yaitu menjadi bau harum yang menghidupkan dan bukan yang membinasakan.

Kecantikan Tubuh atau Transformasi Tubuh?


Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah (1Petrus 3:3-4).

Setiap orang percaya seharusnya memiliki tujuan untuk pada akhirnya dapat menjadi serupa dengan Kristus. Dallas Willard dalam Renovation of the Heart menyebutkan bahwa dalam proses keserupaan dengan Kristus tersebut, kita membutuhkan beberapa transformasi (perubahan). Salah satu dari tiga transformasi yang dianggapnya penting adalah transformasi tubuh. Transformasi jenis ini mulanya saya anggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu signifikan. Akan tetapi, Willard memberikan sebuah pandangan yang lebih baik kepada saya. Transformasi tubuh bukan berarti saya harus berubah secara fisik menjadi lebih langsing, cantik, menarik, dan modis dengan berbagai produk kecantikan, fashion, serta gemerlap perhiasan yang menguras tabungan. Transformasi tubuh sesungguhnya lebih ke arah bagaimana seseorang memandang dirinya.

Sehubungan dengan itu, saya menyadari bahwa salah satu penghalang besar bagi saya untuk dapat melayani dan berelasi dengan orang lain adalah penerimaan terhadap tubuh saya. Sering kali saya melihat tubuh saya tidak proporsional sehingga cenderung suka membandingkan diri dengan orang lain dan terjerat untuk selalu tidak puas dengan bentuk tubuh yang saya miliki. Padahal, ada juga orang-orang yang merasa iri dengan hidung mancung, suara jernih, dan kesehatan prima yang saya miliki.

Oleh karena itu, saya belajar mulai memandang tubuh saya dengan benar. Tubuh yang selama ini saya anggap tidak proporsional adalah tubuh yang telah ditebus dan dikuduskan oleh Kristus. Itu adalah awal kecantikan kita sebagai manusia rohani. Firman Tuhan dalam 1Petrus 3:3-4 dengan tegas menyatakan bahwa perhiasan kita seharusnya bukanlah perhiasan lahiriah, melainkan perhiasan rohani yang penuh dengan kelemahlembutan dan damai sejahtera. Anjuran tersebut tidak hendak menyatakan bahwa wanita Kristen itu dilarang berdandan atau memakai perhiasan. Firman Tuhan justru menyatakan bahwa kita hendaknya lebih memilih menjadi cantik secara rohani daripada cantik secara fisik. Bukankah Yesus sendiri juga dianggap tidak elok secara fisik? Namun secara rohani, Yesus adalah best of the best (terbaik dari yang terbaik atau yang sempurna).

Dari sana kita belajar agar tidak terobsesi memuaskan keinginan tubuh dan terdorong untuk kelihatan lebih baik di mata orang lain secara fisik, karena semua itu dapat membuat kita kehilangan pengendalian diri sehingga menjauh dari Tuhan. Pengendalian diri jelas tidak mudah karena kita cenderung menginginkan kenikmatan di masa hidup yang singkat ini. Pada saat seperti inilah kita harus sadar bahwa tubuh ini bukan milik kita lagi sejak ditebus dengan darah Kristus. Dengan demikian, kita tidak akan berambisi untuk memperindah tubuh secara jasmani melainkan menyerahkan hak tubuh kita kepada Allah untuk diperindah secara rohani.

Transformasi tubuh akan sangat efektif bagi para wanita untuk dapat melanggengkan relasi pernikahannya. Bagi para istri, kecantikan bukanlah menguras isi kantong suaminya, melainkan memancarkan kasih dan ketundukan. Bagi yang belum menikah, transformasi ini akan membantu untuk lebih bersemangat menjalani hidup dengan melayani Tuhan yang telah memberikan perhiasan rohani. Dengan demikian, para wanita lajang tidak akan mati-matian terobsesi untuk mendapatkan Romeo idaman hati yang entah sedang ada di mana dan selalu terbenam dalam mimpi-mimpi pernikahan. Menikah adalah sesuatu yang harus diraih jika Tuhan anugerahkan kepada kita dan tidak menikah adalah sebuah kesempatan membaktikan hidup kepada Sang Mempelai Surgawi. Jadi para wanita (atau juga para pria), pilih kecantikan tubuh atau transformasi tubuh? Kecantikan jasmani atau rohani? Selamat memilih yang benar!

Hai Para Lajang, Hiduplah Seperti yang Telah Ditentukan Tuhan


Selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. ... Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil (1Korintus 7:17, 24).

Melajang bukanlah pilihan hidup bagi sebagian besar orang sehingga ada ketakutan/kekuatiran terhadap suatu jalan hidup yang dinamai “jomblo.” Tidak heran jika dunia ini sering disebut sebagai dunianya para pasangan. Titik kebahagiaan yang dianggap maksimal dan utama ketika hidup di dunia adalah menikmati pernikahan. Akibatnya, status jomblo—khususnya diusia tertentu—seringkali dikenai konotasi negatif yang identik dengan aib atau abnormal. Orang bisa dengan mudah menyatakan rasa kasihan dan mungkin juga perhatian terhadap status jomblo yang disandang oleh seseorang. Mulai dari desakan untuk segera menikah, sindiran-sindiran yang mempertegas betapa tidak enaknya menjadi lajang dan betapa luar biasanya kehidupan pernikahan, atau celetuk-celetuk ringan perjodohan yang tidak serius dan asal-asalan.

Sadar atau tidak, semua itu dapat menjadi sebuah tekanan berat yang memojokkan para lajang. Tekanan ini tidak hanya dirasakan oleh para lajang di rumah, di kantor, dan di lingkungan pergaulannya saja; melainkan juga di gereja. Gereja sangat tidak siap untuk menjangkau dan melayani mereka. Sebagai contoh, Chuck Holmes dalam Singles Ministry in the City – Then and Now menyebutkan bahwa gereja masih belum yakin dengan program-program untuk kaum lajang sehingga hanya bersedia menampung mereka sebagai bagian dari pelayanan pemuda dan sangat jarang sekali ada yang mau memikirkan program-program yang menekankan pertumbuhan para lajang secara utuh dan spesifik. Yang paling menyedihkan, kebutuhan dan kemampuan mereka untuk melayani juga seringkali diabaikan/dipandang rendah. Lebih jauh lagi, Pdt. Eka Darmaputera dalam Iklan bagi Anak Hilang mengamati bahwa meskipun tidak kurang dari sepertiga anggota masyarakat dan anggota gereja kita terdiri dari para single, namun perhatian orang kerap kali tertuju kepada mereka yang menikah. Cepat atau lambat, para lajang akan meninggalkan gereja karena alasan-alasan tersebut. Memang berat untuk dikatakan namun nyata bahwa gereja juga berperan dalam kegagalan seorang lajang untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Sungguh ironis dan menyedihkan.

Satu pertanyaan penting yang selalu berkecamuk dalam diri saya adalah bagaimana memutus tradisi ini? Hukuman tidak langsung dari komunita kepada para lajang sangat sulit untuk dikikis habis karena dosa telah mencemari konsep rancangan Allah mula-mula mengenai pernikahan. Kini dunia tidak lagi melihat pernikahan untuk kebaikan manusia dan untuk kemuliaan Allah, melainkan untuk kenikmatan dan kepuasan pribadi. Oleh karena itu, perjuangan ini harus dimulai dari para lajang itu sendiri. Paulus mengingatkan untuk tetap hidup seperti yang ditentukan Tuhan baginya dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Hal ini tidak berarti para lajang harus tetap melajang. Para lajang justru harus menangkap esensi utama pada waktu ia dipanggil sebagai orang percaya. Seorang lajang adalah manusia sempurna yang berharga karena telah menjadi milik Allah (ay. 21-23). Sebagai milik Allah yang diciptakan untuk memuliakan Allah, ia harus menjadi yang terbaik bagi Allah di dalam penantiannya. Jadi, kepuasan Sang Khalik adalah hal yang utama dan terutama apapun status kita. Dengan demikian, menikmati pernikahan juga harus dipandang sebagai sarana untuk menikmati Allah dan bukan untuk kepuasan sendiri.

Jomblo = 100% bebas... walau status masih bebas, namun tak pernah merasa tak sempurna. Sebaliknya, kebebasan itu harus digunakan sebebas-bebasnya untuk melakukan kebaikan agar orang lain melihat kebaikan Sang Pencipta. Mari, ambil kesempatan bebas ini untuk mempersiapkan dan mematangkan diri menjadi yang terbaik di dalam keadaan apapun, yang tak mungkin lagi dilakukan ketika sedang tidak bebas. Don't worry, be happy, and enjoy aja!

Rabu, 21 Januari 2009

Melodi Ucap Syukur: God's Masterpiece in Me


Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mazmur 139:13-14)

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. (Mazmur 8:4-6)

Sejak SD (ga ingat kelas berapa tepatnya), gue mulai nyoba ngamatin diri sendiri. Dari ujung kaki sampai ujung rambut, pake kaca 'n dipelototin pake mata telanjang. Sembari mata menatap kaca, angan ikut melayang memutar memori bayangan masa lalu. Ibu-ibu pada bilang gue tuh cantik kaya Indo [_nesia]. Temen-temen cowok di sekolah yang pernah gue tantangin berantem 'n gue tendang kakinya bilang kalo gue tuh sama sekali ga oke. Udah gendut, kasar, larinya cepet, rambut panjang ga keurus, tomboy, 'n sama sekali ga feminin. Untung waktu itu lum jatuh cinta ma cowok (kalo udah, bayangin betapa hancur hati ini). Padahal kalo dipelototin di foto, pas lagi pake gaun merah, gue emang cewek banget koq. Btw, omongan temen-temen pastinya bikin gue ga nyaman 'n bingung. Gue ini cantik kaya cewek ato preman kaya cowok?

Kegiatan meneropong diri berlanjut di SMP. Gue minder abis karena diteriakin temen-temen sekolah pas lagi lipat tangan berdoa: "Cina, Cina... lg mo nangkep kepiting ya?" SMP Negeri itu emang Favorit di kota asal gue. Tapi, gue bertahan di sana selama tiga tahun sebagai mahluk asing alias kaum minoritas. Gimana ga? Gue salah satu dari dua orang yang Kristen di kelas dari total jumlah siswa 48 orang. Udah Kristen, Cina lagi... lengkap kan? Tiap Minggu belajar agama laen di kelas. Hasilnya, lulus dengan mengantongi ijazah dan pertanyaan: "Siapakah aku? Berhargakah aku?"

Naik kelas ga sekonyong-konyong menghentikan pertanyaan seputar diri. Jenjang SMA mendorong gue untuk meneriakkan: "It's time for a change!" Gue harus berubah, Friend. Harus... desakan hormon ini ngebuat gue ngerasain sesuatu yg aneh. Jatuh cinta. Kebayang ga rasanya? So, kelas 2 SMA gue belajar pake rok panjang 'n blus yang lg tren dipake. Ceritanya sih, biar kaya cewek lain yg feminin. Rela deh ngerasa ga nyaman, coz kaki terkungkung dalam balutan 'n lilitan kain panjang. Sepak terjang gue dengan rok panjang sangat panjang untuk diceritain. Singkatnya, lama-lama gue ga tahan juga. Banyak kali gue pelampiasan dengan menyalurkan kelebihan energi ke olah raga. Akhir-akhirnya, tetep aja bingung mana yang lebih dominan... unsur feminin ato maskulin? Sedihnya... apalagi Pangeran Kuda Putih yang sedang menghiasi mimpi-mimpi ternyata kabur meninggalkan luka hati (tafsir sendiri ya apa yg terjadi karena gue ga mau orang itu tahu ^^). Retak, rentan, putus harapan. Berhargakah gue? Kenapa ga bisa ngedapetin orang yang gue sayang? Andai bisa seperti dia (cewek laen)... andai gue ga terperangkap dalam sosok jelek ini.

Makin tambah umur makin tambah pergumulan. Rasa ga nyaman terhadap diri merambah ke area karakter. Kenapa gue begini dan begitu? Otak ini penuh dengan pertanyaan gimana bisa nyenengin orang lain. Saat itulah kejatuhan paling dalam. Omongan orang begitu penting buat gue hingga membentuk dua respons yang begitu ekstrem dalam satu pribadi. Biang ribut yang ceria sekaligus batu es yang dingin. Ga nyaman, moody, dan membingungkan orang. Totally, terpisah dari Tuhan dan sesama. Gue selanjutnya bagai berubah wujud jadi mesin penghasil tanda tanya terbesar. Yah, otak yg sempit ini dipenuhi tanda tanya seputar siapakah gue manusia... mirip sama Kang Daud di Mazmur 8. Di titik inilah Firman Tuhan merasuk dan mengubahkan.

Pemazmur mengatakan kalo gue ini dibentuk bagai sebuah Masterpiece. Asli lho, kalo ga percaya tanya aja sendiri sama Sang Pencipta. Gue adalah karya besar, karya utama, karya yang mahal dan dinanti-nantikan, karya yang berharga, karya yang dibuat dengan teliti oleh Sang Pencipta sejak dari dalam kandungan. Wow, hanya wow.... Tuan Pemilik hidup bahkan meletakkan mahkota kemuliaan di atas kepala ini. Wow, very-very wow.... Untuk itu, gue persembahkan ucap syukur ini buat Beliau, Sang Junjunganku.

Tak terasa 32 tahun sudah Tuhan menggandeng dan menggendong seorang musafir lemah di perantauannya. 32 tahun terasa tak lama karena Sang Pemilik Hidup selalu beserta. Mengingat semuanya, tak berlebihan jika ia mengadakan sebuah perayaan kecil di bibir laut yang gelap dan terbuka.

Selangkah demi selangkah, kakinya menjejak di tempat yang sama dengan ribuan jejak lainnya. Setiap kali menjejak, matanya tak kunjung berkedip memandang cetakan kaki kecilnya di hamparan pasir yang lembab. Dalam hati kecilnya ia berteriak: "Wow, I'm so special! Lihat, tak ada satu pun jejak kaki yang kelihatan sama!"

Letupan-letupan kebanggaannya tak hanya berakhir sampai di sana. Geliat malam yang bertabur bintang semakin memeriahkan pesta rohani berdua dengan Allahnya. Pantas saja Daud ternganga akibat pesonanya hingga ia bernyanyi: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan: Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya?"

Dibakar rasa takjub, matanya yang kecil dan sempit malah semakin meluaskan pandangannya. Bukan pada hingar-bingar wisata kuliner di balik punggungnya, melainkan pada suara lembut yang memerintahkan terjadinya cakrawala. Ya, Sang Khalik sendiri seolah berkata: "Yes, you are so special. Dengan tangan ini, tangan-Ku sendiri, Aku membentuk engkau. Detail demi detail keindahanmu jauh melebihi indahnya bintang cemerlang. Aku tahu setiap titik tahi lalat di tubuhmu, sama seperti Aku mengetahui dengan tepat jumlah butiran pasir di pantai. Engkau sangat menakjubkan anak-Ku. Yes, you are. Bukan sok romantis jika Kukatakan bahwa cinta-Ku kepadamu nyata-nyata lebih luas dari samudera yang ada di hadapanmu. Gelora kasih-Ku bahkan lebih dahsyat dari deburan ombak yang paling menggetarkan jiwamu. You are My Masterpiece. Itu sebabnya Aku tak pernah memintamu menjadi seorang Rahmiati Tanudjaja, Pendeta Wanita Panutanmu. Aku hanya ingin engkau menjadi dirimu yang terbaik untuk-Ku karena pada saat itulah Aku akan sangat menikmati memandangmu, sambil berkata: Sungguh amat baik! Ucapan yang sama persis ketika pada hari keenam Aku membentuk bapa moyangmu itu (lih. Kejadian 1:26-31)."

Syukur yang tak terwakili oleh segala bahasa seketika ia panjatkan atas sebuah Sacred Romance di bulan kelima keberadaannya di Bali.


So... para Masterpiece Allah, bersyukurlah dan jadilah yang terbaik bagi-Nya sebab Engkau sangat berharga di mata-Nya! Bukankah hidup ini terlalu singkat dan berharga untuk dinilai berdasarkan penilaian orang lain dan diri sendiri?